Skip to main content

25th

con·nec·tion
(n) a relationship in which a person, thing, or idea is linked or associated with something else.


Jadi, beberapa minggu terakhir rasanya super banget, karena gue harus menghadapi banyak hal yang menguras energi dan perasaan, wkwk. Ngga sih, tapi, dimulai dari sedih karena gagal seleksi beasiswa (lagi) untuk yang kesekian kali di saat beberapa hari sebelum UTS yang super susah, lelah karena beberapa hari di tinggal di rumah sendiri, kemudian senang karena beberapa hari bertemu teman lama tanpa disangka, kemudian pusing mengerjakan take home test sampai tidak tidur, yang padahal besok pagi nya ujian toefl dan belum sama sekali belajar, lalu piknik bersama teman lama di ujung planet lain nun jauh di sana yang gagal karena hujan dan akhirnya piknik lucu di food court, di saat besoknya harus presentasi untuk tugas research proposal dan belum punya topik. Okay, mungkin agak berlebihan karena toh banyak orang lain yang hidupnya jauh lebih drama. Tapi karena ini blog gue, ngga apa apa kan ya kalau mau cerita, wkwk. Tapi dari semua itu, alhamdulillah banget diberikan sehat dan ngga sampai sakit.

Pada akhirnya, gue lama ngga nulis. Tapi kali ini gue ingin memenuhi janji dengan melanjutkan post gue sebelumnya tentang "good education". Seperti yang gue ceritakan, beberapa waktu lalu gue kuliah tentang inequality dan kemudian mendapatkan insight yang menurut gue keren.

Menurut cerita yang gue dapatkan, seseorang keren yang berada di tempat yang baik biasanya akan memiliki koneksi dengan orang keren lainnya dikarenakan dua hal, meskipun mereka tidak saling kenal pada awalnya. Yang pertama karena mereka berasal dari sekolah yang baik, atau yang kedua karena mereka memiliki pekerjaan di tempat yang baik. Misalnya, ternyata seseorang yang gue kenal di tempat kerja adalah teman dari teman gue ketika sekolah. But it is really happened, sometimes, kan katanya dunia selebar daun kelor, haha. Well said, seseorang yang baik akan dipertemukan dengan yang baik pula.

Tapi gue rasa insight itu masuk akal. Gue punya circle pertemanan yang ngga besar. Seperti yang pernah gue ceritakan, teman SMP gue banyak yang jadi teman SMA, dan banyak juga yang masuk di universitas yang sama. Jadi ngga jarang gue menemukan interkoneksi dengan orang-orang yang gue temui di hidup gue. Mungkin kalau dibuat diagram venn jadi lucu, gimana pertemanan gue dengan seseorang bisa dijelaskan dengan R square, yang nilainya pasti besar, dan signifikan, haha. Dan ya, untuk bisa pada akhirnya saling terhubung, perlu sesuatu yang saling sama, dan biasanya kalau bukan sekolah, ya tempat kerja.

Lebih jauh, biasanya seseorang yang end up di tempat kerja yang baik berasal dari sekolah yang baik. Gue percaya sih, kesempatan yang lebih luas akan terbuka dimulai dengan masuk ke sekolah yang baik, lalu masuk ke tempat kerja yang baik. Ini yang gue temui dari kejadian di sekitar gue, ketika gue menyadari bahwa salah satu cara yang menurut gue terbukti untuk meningkatkan derajat hidup seseorang adalah dengan mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas. Gue pernah cerita, kalau dari dulu gue sekolah di sekolah milik pemerintah, di mana sekolah gue termasuk unggulan, cukup berkualitas, tapi tidak eksklusif, dan itu membuat gue bertemu dengan teman-teman dari berbagai latar belakang. Gue kemudian menemui banyak keadaan yang membuktikan kalau pendidikan yang baik akan membuat hidup seseorang menjadi lebih baik, karena mereka mendapatkan kesempatan yang lebih besar.

Nah, pertanyaannya, bagaimana seseorang dapat mengakses pendidikan yang baik, padahal sekolah yang baik itu terbatas, dan terkadang persaingannya ketat. Untuk bisa mengakses sekolah yang baik, diperlukan daya saing untuk bisa berkompetisi, dan untuk menjadi unggul diantara lainnya diperlukan biaya yang ngga sedikit, untuk membeli makanan yang bergizi, mainan edukasi, tambahan kursus, fasilitas penunjang, atau hal-hal lainnya, sehingga mereka akan lebih berkembang dan menjadi lebih unggul dari yang lainnya. Jadi, ngga heran kenapa biasanya seseorang yang mengakses pendidikan yang baik berasal dari mereka yang berkemampuan baik.

Keadaan ini yang sering dapat menimbulkan inequality. Maksud gue, bukankah tidak adil jika tidak semua orang dapat mengakses pendidikan yang berkualitas. Tapi, percaya atau ngga, setelah banyak yang gue dapatkan selama ini, menurut gue itu adil. Kenapa adil? Karena investasi yang diberikan besar, sehingga mereka mendapatkan return yang besar. Gue pernah baca quote,

An investment in knowledge pays the best interest.

Nah, ketika seseorang telah memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang baik, willingness/grit plays the role here, mungkin ini yang pada akhirnya membedakan output dari pendidikan yang baik. Kenapa misalnya ada anak yang berasal dari keluarga kaya yang pada akhirnya tidak menjadi "anak baik-baik".

Jadi, di sana ada potensi moral hazard juga. Kok ada moral hazard? Gue sempat diskusi, bahwa ketika seorang anak punya orang tua yang cukup mapan, maka akan ada kecenderungan bahwa ia merasa aman, dan kemudian melakukan hal-hal yang merugikan bagi dirinya, haha. Hal ini yang kemudian menurut gue membutuhkan kemampuan orang tua untuk dapat menentukan investasi yang diberikan kepada anak, sehingga memberikan return yang baik dan terhindar dari moral hazard, wkwk.

Menurut gue, inequality itu mutlak pasti ada, sama seperti ngga semuanya penduduk bumi orang kaya, orang baik, orang cantik, atau orang pintar misalnya. That's how the world works. Tapi di sini pemerintah punya peran untuk menjaga agar gap inequality-nya ngga besar. Itu kenapa kita butuh pemerintah untuk memastikan bahwa segala hal terdistribusi dengan baik. Gitu sih, kayanya ya, hahaa.

Di sisi lain, equality plays the role juga, bahwa seperti yang gue tulis di atas, kalau seseorang dengan equality yang hampir sama akan saling terkoneksi. Hal ini juga berkaitan dengan assortative mating, di mana seseorang akan cenderung end up dengan mereka yang equal. Hmm, mungkin gue akan coba tulis di post selanjutnya tentang ini. Luar biasa sih, belajar ekonomi ini sepertinya changing the way I am thinking. Ngga deng, bercanda, haha. 

Anyway, I am hitting 25 this day, and I don't know whether I should happy or not, wkwk. Tapi, punya harapan, boleh kan? Semoga diberkati usianya, bisa menjadi lebih baik, membawa manfaat, mencapai cita-cita, menemukan kekasih (?), haha. Apapun itu, mohon doanya!


Regards,
Ayu yang
sedang ulang tahun, wkwk



PS:

Kemarin sempat baca blog seorang teman tentang perjalanannya mencari pekerjaan setelah lulus master dari negeri seberang, sayangnya perjalanan mencari kekasih tidak diceritakan, hahaa. Oh iya, baru saja nonton He's Just Not That into You, hmm yang apa ya, some kind of good movie anyway, menurutku sih...

Comments