Skip to main content

48th

to knowing yourself, sometimes, is indeed really hard.


Jadi, ceritanya baru saja dapet reminder, terus jadi semacam mempertanyakan diri sendiri, haha. Ngga bisa dibilang demotivasi juga, tapi gue merasa gue ngga seberjuang sebesar apa yang seharusnya gue lakukan. Gue merasa gue ngga memberikan usaha terbaik gue untuk apapun yang gue lakukan akhir-akhir ini. Gue tau dan sadar penuh kalau itu salah, dan gue ngga bisa menemukan alasan apapun yang membuat gue sedih lebih sedikit, karena gue tau, semua adalah salah gue.

Gue berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyalahkan diri sendiri, tapi ternyata itu sama sekali ngga mudah, haha. Entah, mungkin gue yang telah berhenti terlalu lama, atau memberikan banyak distraksi ke hidup gue, atau mikir terlalu banyak, dan gue akhirnya mengizinkan diri gue untuk menyerah. Mungkin karena gue ngga mudah baper, tapi jadinya gue ngga tau apa yang sebenarnya gue rasakan saat ini, apakah karena gue cuma bosen, atau mungkin sebenarnya gue takut. Dan ini membuat gue takut kalau apa yang gue rasakan itu salah, gue takut kalau ternyata gue membohongi diri gue bahwa gue baik-baik saja, but actually it's not, gue takut ngga aware dengan diri gue.

Btw, beberapa waktu terakhir, gue sering baca tentang self awareness, karena entah kenapa sedang banyak artikel muncul di timeline, terus jadinya sering nge-bookmark yang menurut gue menarik, dan jadi sering sharing. Bukan karena galau, cuma pengen share kalau somehow, we need to be aware with ourselves, with what we feel, bukan hanya ketika bahagia, tapi termasuk ketika sedang sedih, atau jealous, atau apapun. Itu cukup membantu gue, dan gue rasa mungkin akan membantu orang lain juga yang mungkin merasakan permasalahan yang sama.

Terus, kemarin sempat direkomendasikan untuk nge-cek Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, meskipun menurut gue pribadi terlalu melankolis, tapi nemu salah satu quote bagus,

Berapa kali kita berpesan, "jangan sedih", "jangan takut", "jangan ngeluh".
Berapa kali kita paksakan untuk tidak merasakan seperti manusia.

Pernah ngerasa ngga, sih, kadang semua sosial media dan tekanan masyarakat membuat framing kalau seseorang perlu untuk berbahagia setiap saat, bahwa sedih atau perasaan negatif bukan sesuatu yang baik, jadi perlu di-ignore. Seberapa sering kita dibilang untuk jangan sedih, jangan ngeluh, jangan nangis, jangan marah. Merasa sedih, lelah, atau apapun bukan berarti maladaptive, that makes human, human, dan semakin meng-ignore perasaan, semakin ngga sadar dengan segala distraksi yang terjadi. Menurut gue, dengan lebih aware terhadap apa yang dirasakan, membuat coping lebih mudah dilakukan.

Nah, salah satu artikel yang menurut gue bagus, adalah The Three Levels of Self-Awareness, dari Mark Manson (lagi), haha. Seperti biasa, gue share quotes yang menurut gue oke.

---------------------------------------------------

LEVEL 1 – WHAT THE HELL ARE YOU DOING?
A simple understanding of where your mind goes and when... 
People avoid pain through distraction. We need to make sure that we’re choosing our distractions and our distractions aren’t choosing us.... 
The goal here is the elimination of compulsion....

LEVEL 2 – WHAT THE HELL ARE YOU FEELING?
What people often find is that the more they remove themselves from distraction, the more they are forced to actually deal with a lot of the emotions that they’ve been avoiding for a long time.... 
The result is that some people become overwhelmed by all of the feelings they’ve been bottling up forever.... Emotions can also be distractions. From what? From other emotions.

LEVEL 3 – WHAT THE HELL ARE YOUR BLIND SPOTS?
The more you become aware of your own emotions and your own desires, the more you discover something terrifying: you are full of shit....
We all think of ourselves as independent thinkers who reason based on facts and evidence, but the truth is that our brain spends most of its time justifying and explaining what the heart has already declared and decided....
And that’s OK. The important thing is just that we’re self-aware about it. If we know our weaknesses then they stop being weaknesses. Otherwise, we become enslaved to our mind’s faulty mechanisms.

But no, self-awareness is wasted if it does not result in self-acceptance. Self-awareness doesn’t make everyone happier, it makes some people more miserable. Because if great self-awareness is coupled with self-judgment, then you’re merely becoming more aware of all the ways you deserve to be judged.

These emotional outbursts and cognitive biases, they exist in everyone, all the time. You’re not a bad person for having them just as other people aren’t necessarily bad people for having them either. They’re just human. And you’re just human. Plato said that all evil is rooted in ignorance. If you think of the evilest, shittiest people imaginable, they are shitty not because they have flaws — but because they refuse to admit that they have flaws.

------------------------------------------------------

Gue kemudian berusaha untuk lebih aware dengan diri gue, dengan apa yang gue rasakan, dengan judgement yang gue lakukan, dengan distraksi yang gue izinkan ada di hidup gue, dan yang utama sih menerima kalau gue salah, gue punya flaws. Lalu gimana? Harusnya sih berusaha untuk jadi lebih baik, harusnya... Tapi ya gitu...

By the way, kebetulan, gue habis nonton On Your Wedding Day, dan film ini membawa feel yang beda dengan 500 days of summer. Keduanya film tentang seseorang yang menghadapi situasi ditinggal nikah, tapi dengan coping mechanism yang berbeda yang menurut gue terkait sama self awareness, hahaa.. Mungkin agak maksa sih, tapi ya udahlah ya..

Jadi, untuk yang sudah pernah nonton 500 days of summer, mungkin sebagian besar akan feel sad untuk Tom yang "terkesan" di-php Summer, dan akhirnya ditinggal nikah. Nah, On your wedding day, ceritanya ngga ada php sih, tapi akhirnya ditinggal nikah juga, haha. Menurut gue, feel nya beda karena gue merasa di On your wedding day, Hwang Woo-yeon yang ditinggal nikah lebih self-aware, jadi lebih bisa self-accept kalau dia juga salah, dan akhirnya menerima yang terjadi dengan baik. Sedangkan, Tom di 500 days of summer ngga gitu, jadinya dia depresi ketika Summer nikah, meskipun pada akhirnya bisa menerima dan move on. Gue jadi inget, ada yang pernah posting tweet di timeline yang bilang kalau "It was Tom's fault. Tom is selfish, he's projecting, he's not listening".

Karena katanya situasi yang terjadi itu netral, yang membuat ngga netral adalah emosi yang terlibat di dalamnya. Tapi terus jadi mikir, berarti baper itu sebenarnya baik, tinggal gimana memahami perasaan dan emosi yang terlibat, biar bisa melihat masalah dengan baik, biar ngga salah persepsi, biar ngga merasa di php, haha.

Terus, apa lagi ya, mungkin agak out of topic sih. Jadi gue baru dengerin diskusi nya gitasav lagi, hahaha. Terus, gue ngga ngerti lagi, kenapa gue merasa diskusi nya dangan paul seru banget. Gue jadi mengingat cara gue kalau sedang diskusi atau berada dalam deep conversation, dan itu agak mirip dengan sudut pandangnya ketika melihat masalah, dan gimana dia sering banget ngomong jadi. Nah, kalau sering baca tulisan gue, gue sering banget nulis jadi, dan gue se-struggle itu untuk ngga memulai tulisan gue dengan kata "jadi", haha. Hmm, yang lain misalnya, dengan opininya tentang usia 20 an, atau politik, atau padangannya yang lain yang menurut gue ngga berpihak, tapi gue belum sejago itu sih untuk nonton segala hal yang dia tonton, wkwk.

Btw, maafkan kalau ngga penting banget, haha. Tapi gue butuh sesuatu untuk menuangkan apa yang dipikirkan. Apapun itu, mohon doanya untuk kebaikan bersama ! 


Regards, 
Ayu 
yang mencoba untuk
lebih self-aware


PS:

Mungkin sesungguhnya hanya butuh semangat atau seseorang yang bersedia menemani untuk tetap terjaga hingga larut malam, haha..

Comments