Skip to main content

64th

.... and then why?


Setiap kali aku cerita kalau adikku sudah menikah, (hampir) setiap orang akan bertanya, "terus kamu gimana? kamu ngga kenapa-kenapa?" dan setiap itu juga aku bingung kenapa aku harus kenapa kenapa. Karena, i'm definitely ok, i'm totally fine, dan menurutku itu hal yang biasa saja, bukan hal besar yang harus dipermasalahkan.

Tapi yang (sedikit) menggangguku adalah semenjak adikku menikah, ibuku jadi sering memintakan doa kepada (hampir) setiap orang yang ia temui agar aku didekatkan dan dipertemukan dengan seseorang yang menjadi jodohku, yang kemudian (hampir) selalu aku ikuti dengan kata "aduh", dan bukan "aamiin", haha.

Bukan karena aku tidak ingin bertemu dengan seseorang yang katanya "teman sejiwa" tapi lebih karena aku masih lebih ingin lulus kuliah, ingin berpenghasilan baik, ingin main, ingin jalan-jalan, ingin melakukan banyak hal, (dan bukan ingin segera menikah). Ketika aku menceritakan ini kepada salah satu temanku, ia bertanya "kan kalau udah nikah masih bisa ini itu, bukan?" Pertanyaan itu lalu membuatku berpikir ulang, ternyata mungkin alasan sesungguhnya adalah karena "aku takut".

Pernah ngga sih, kamu terlalu takut, sampai akhirnya kamu tidak berani melakukan sesuatu? Aku sering mengalaminya. Aku penakut, sesungguhnya.

Katanya, "apa kamu takut karena mungkin kamu punya harapan". Sebenarnya pun, harapanku bukan semacam berparas rupawan, kaya raya, berpendidikan tinggi, beramal salih, pandai menyetir, atau membetulkan genteng bocor, haha. Harapanku lebih kepada aku dihargai sebagai manusia dan pendapatku bisa diterima (dan terutama tidak dianggap berdosa ketika berkata tidak), sesederhana itu. Tapi harapan ini kemudian membuatku takut, takut kemudian menjadi kecewa, menjadi sedih, entah karena tidak bisa memenuhi harapannya, atau karena harapanku tidak terpenuhi.

Padahal, aku sendiri juga sadar, bahwa hidup itu penuh risiko, dan ngga semuanya bisa sesuai harapan. Sebenarnya pun, aku tau, jika aku menghargai diriku sendiri (dan menerima diriku sendiri), aku tidak perlu khawatir.

Maka bagiku beruntunglah mereka yang diberi kesempatan bersama seseorang yang memberikannya kebebasan. Ini bukan perkara mengalah, bukan perkara siapa yang menang. Karena menurutku, bukan kewajiban seseorang (baik laki-laki atau perempuan) untuk mengalah, dan bukan berarti dengan tidak-mengalahnya perempuan, maka itu berarti laki-laki mengalah. Tapi ini tentang berhak menentukan pilihan, berhak membuat keputusan. Seperti cerita salah satu temanku yang dengan keinginannya sendiri kemudian mengubah impiannya setelah menikah, atau cerita seseorang tentang keputusannya untuk tidak bekerja lagi setelah punya anak. Menurutku, ketika keputusan itu ia pilih dengan sadar dan tanpa paksaan, maka bagiku ia tidak mengalah (karena ia memang tidak perlu mengalah).

Juga, beruntunglah mereka yang menemukan seseorang yang bersedia tetap tinggal seburuk apapun keadannya. Meskipun, menurutku, setiap orang adalah tanggung jawab dirinya masing-masing, jadi orang lain pun berhak untuk pergi atau tetap tinggal, dan tidak ada yang salah dengan keduanya.

Tapi mungkin pendapatku bias, menurut apa yang menjadi value ku, dan karenanya tidak berhak untukku men-judge orang lain dengan apapun keputusan yang dibuatnya. Bagiku keputusan setiap orang pastinya adalah yang saat itu menurut mereka paling baik (dengan mengecualikan kemungkinan adanya informasi yang tidak sempurna)

Lagi pula, aku tidak mudah jatuh, dan aku terlalu melindungi diriku untuk jatuh. Aku lelah menjadi tidak rasional dan terutama takut sedih lagi. Aku kadang kesal dan juga heran karena perasaan itu bisa membuat seseorang menjadi jahat dan tidak rasional, setidaknya itu yang pernah kutemui  dalam hidupku. Kadang berpikir, mungkin aku sebaiknya menjaga perasaanku untuk tidak benar-benar jatuh (tapi apakah semudah itu?).

tapi, mungkin nanti ada saat di mana kepercayaan menghilangkan ketakutan yang selama ini ada,
mungkin saja, kan

mungkin nantinya bertemu seseorang yang percaya padaku, percaya bahwa aku bisa, percaya bahwa aku memiliki hak untuk berkata tidak, percaya kalau aku bisa memenuhi harapan dengan menjadi diriku sendiri. dan aku percaya padanya dengan sepenuh hatiku.


warmly,
aku,
mohon doanya!

Comments