Skip to main content

66th

He founded you lost, and guided (you)


Sebenarnya, agaknya merasa sedih karena beberapa yang ditulis akhir-akhir ini mengesankan (sangat) negative vibes, hingga rasanya aku seperti kehilangan diriku...

Sampai puncaknya beberapa hari terakhir kemarin, aku lelah dengan emosiku sendiri, dengan orang-orang di sekitarku, hingga berpikir mungkin akan lebih bahagia jika sendiri.

Tapi, mungkin Tuhan memang begitu baik, mempertemukanku dengan mereka yang memberiku banyak pelajaran yang tidak pernah kusangka akan kutemui. Mungkin memang benar, petunjuk Tuhan tersebar di muka bumi, jika disadari. Seperti misalnya, melihat sebuah quote di timeline, yang kemudian membuatku membaca lebih jauh QS 93, dan menemukan bahwa Tuhanku mendapatiku sebagai seorang yang bingung, lalu Ia memberikan petunjuk.

Perjalanan Bandung-Jakarta saat itu kemudian membuatku banyak berpikir, bahwa hidup dewasa mungkin memang harus sesulit ini. Mungkin, memang salah mengejar kebahagiaan (yang selama ini kupertanyakan), karena dengannya akan ada rasa sedih. Mungkin memang benar, bahwa hanya perlu menjalani hidup sesuai pedoman, yang selama ini seharusnya diyakini.

Sampai akhirnya kemarin menemukan bahwa mungkin selama ini aku kehilangan perasaan ikhlas, termasuk terhadap perasaanku sendiri, sampai akhirnya tanpa sadar masih terluka. Aku terlalu melindungi diriku untuk tidak sedih, hingga lupa untuk ikhlas merelakan, bahwa hidup kadang tidak (selalu) bisa seperti yang kuharapkan.

And how do we do this? By letting go. By giving up. By surrendering. Not out of weakness. But out of a respect that the world is beyond our grasp. By recognizing that we are fragile and limited and but temporary specks in the infinite reaches of time. You do it by relinquishing control, not because you feel powerless, but because you are powerful. Because you decide to let go of things that are beyond your control. You decide to accept that sometimes, people won’t like you, that often you will fail, that usually you have no fucking clue what you’re doing.

You lean into the fear and uncertainty, and just when you think you’re going to drown, just as you reach the bottom, it will launch you back to your salvation.

(https://markmanson.net/why-the-best-things-in-life-are-all-backwards/amp?__twitter_impression=true)

Tinggal seberapa yakin dengan-Nya, karena mungkin, aku masih takut, takut kecewa, takut tidak bahagia. Tapi bukankah rencana Tuhan memang yang terbaik, lalu mengapa ragu?

So, I wish  to live my life wholeheartedly, tanpa lupa terus berusaha untuk bisa menjalaninya sebaik-baiknya.

Mohon doanya, selalu :")


Aku,
yang berharap
baik-baik saja

PS : Mungkin meromantisasi Bandung, nyatanya tidak berlebihan.

Comments