Skip to main content

86th

tentang asking help


hmm, jadi apa kabar? kayanya akan nulis beberapa hal dalam waktu dekat, about thoughts, opinions, rants, experiences, reviews, everything, setelah beberapa waktu belakangan jarang bikin post dan merasa punya beban karena disimpan sendiri. jadi mungkin isinya nanti akan kebanyakan misuh-misuh. 

should i say sorry then? hmm, i hope no. padahal katanya aku sebaiknya mempertimbangkan bagaimana efek dari apa yang kulakukan/kukatakan pada orang lain. tapi apakah setiap hal yang kulakukan harus considering what people's thought? terus kapan aku bisa express my feelings? as i said before, aku nulis bukan untuk influence siapapun, writing helps me facing the hard world. if i have to keep everything inside my mind, mungkin lama-lama aku bisa stres. 

beberapa waktu terakhir banyak hal yang bikin mikir tentang asking for a help, karena ngga semua orang memiliki keberuntungan untuk meminta dan mendapat bantuan.  

beberapa waktu terakhir aku sering dengerin orang-orang curhat tentang masalah hidup yang biasa ditemui sehari-hari di sebuah sesi zoom buat curhat. bukan karena ingin membandingkan penderitaan sehingga membantuku bersyukur (setiap orang toh punya struggling-nya masing-masing), but it helps me to feel not alone menghadapi dunia. aku cuma ingin merasa menjadi manusia. 

awalnya aku ketinggalan sebuah webinar tentang kegagalan, tapi kemudian podcasternya bikin sesi zoom buat curhat dan di sesi ini you can be anonim and turn off the video. karena penasaran, aku ikut beberapa sesi dan ngerasa apa ya, mungkin lebih membantuku berempati karena selama ini katanya aku sering banget ngga put myself to other's shoes ketika ada orang yang curhat, haha. at least, aku diingatkan kembali kalau setiap orang berbeda, cara pandangnya, masalahnya, kepribadiannya. curhatnya macem-macem mulai dari tentang skripsi, asmara, konflik dengan orang tua, trauma, karir, sampai menghadapi kedukaan. 

kedengerannya aneh sih, dan membuat aku penasaran sekaligus kagum sama podcaster-nya yang entah kenapa menyediakan waktu dua-tiga jam tiap minggu (meskipun ia selalu bilang untuk jangan berekspektasi) "cuma" untuk dengerin orang lain curhat. as a selebtweet/selebgram/podcaster, dia ngga bikin semacam instagram live yang tanya via chat terus dijawab dan bisa menaikkan engagement. dia bikin sesi zoom buat curhat yang ngga direcord, ngga dibuat konten, ngga dimonetisasi. padahal mungkin dia sibuk, yang ikut juga ngga banyak (relatif terhadap followernya),  tapi dia dengerin dengan sabar dan give feedback form his and his friend's point of view.

dan iya, setelah beberapa sesi, akhirnya aku mengetahui alasannya. dia merasa energinya cukup banyak, dan it might help others. as I thought before, entah kenapa, aku merasa mungkin memang ada orang-orang yang punya energi berlebih untuk dengerin curhat, untuk punya engagement, untuk masuk di hidup orang lain dengan berbagai masalahnya. aku akhirnya menyadari mungkin memang ada beberapa orang yang dikaruniai Tuhan dengan berbagai masalah dan drama (meskipun aku tau pasti beberapa dari mereka ngga menginginkannya) tapi Tuhan juga memberikan padanya orang-orang yang membantunya menghadapi drama dan masalahnya tersebut. and i think they should be grateful for that.

dan aku merasa aku ngga bisa berada di posisi itu, di posisi yang selalu membantu orang lain dengan segala masalah dan dramanya (kecuali untuk keluarga terdekat). awalnya aku merasa bersalah karena ngga pernah bisa terlalu engage, ngga pernah bisa make deeper connection, ngga pernah bisa selalu membantu atau dengerin masalah orang lain. tapi setelah berbagai kejadian aku menyadari kalau energi yang kumiliki terbatas, fokusku sangat terbatas. aku ngga punya banyak energi, buat diri sendiri dan masalahku aja kayanya kurang. dan ketika aku memberikan perhatian, energi, waktu, atau apapun itu pada orang lain, i will do my best without expectation, i do not need replies. but once i start to hope for something, it doesnt feel right and i will get my step back. 

biasanya, aku inform something or decision after a long journey of self doubt. aku sangat jarang asking for a help, and if i did it, that means i really need a help or opinion.  i actually hate the situation where i need to ask for a help, not because i have to show my weaknesses, but because it made me being in vulnerable position. karena disadari atau tidak i will build my expectation, that someone whom i asked would help me, terutama if s/he had said yes at the first place. i hate the fact that my life is not really in my control.

karena akhirnya, pada dasarnya yang benar-benar bisa diharapkan adalah diri sendiri. 

but somehow I wonder, how would the life felt if I have someone beside me who help me, or at least try to help, someone who can be asked without a hesitation, without a guilty feeling if i might ruin his/her busy days, someone who doesnt mind to listen my rants so i dont need to write blog or tweet, or someone who always be there to support me going though this hard life.

maybe it will be something i really grateful for. 


but, if you need me, you always know where to find me,
yours sincerely, 
Ayu



PS:

tentang asking for a help ini juga bikin kepikiran waktu baca beberapa hal lain, termasuk status ulang tahun salah seorang lama atau tweet tentang labor di bidang engineering and technology. tapi mungkin akan dibahas kapan-kapan. 

Comments