tentang take everything for granted
recently wondering, how often i take everything for granted. sebenarnya, aku sudah bikin draft ini cukup lama, sebelum akhirnya memutuskan untuk dipublish, karena ter-trigger sebuah tweet dan bikin kepikiran apakah tidak mencapai standar kebanyakan orang adalah sesuatu yang salah, bukti kurang berusaha, dan kemudian dianggap kufur nikmat.
banyak convinience yang aku dapatkan sepanjang perjalanan hidup dan tentunya aku bersyukur untuk itu. tapi di sisi lain juga membuat berpikir, how often i take everything for granted. mendapatkan kesempatan memiliki ayah-ibu yang baik, sekolah di tempat yang baik, bertemu banyak orang baik. ngga pernah di bully dan dijahatin sampai yang gimana banget, ngga pernah ketemu toxic person yang bikin trauma.
selama sekolah, aku menjalani ngga ngoyo, ngga punya ekspektasi yang gimana banget. aku kayanya hampir ngga pernah punya target luar biasa, sekolah ngga mikir ranking, kalau remedial ya yaudah, dulu ikut lomba juga karena ditunjuk, ngga pernah ngincer juara atau hadiah. aku selalu beranggapan bahwa yang penting sudah memenuhi tanggung jawab sebaik yang kubisa, kalau gagal ya udah, kalau nilai jelek yaudah belajar lagi. apalagi buat pelajaran fisika, olahraga, kesenian, kaya ya udah pasrah aja. ingin banyak hal, ya ingin saja, ngga dibuat pusing kalau tidak tercapai. ingin belajar di luar negeri, ingin makan enak, ingin ini, ingin itu, ya ingin aja. mungkin akan menjadikan hidup lebih bahagia, tapi kalau ngga, ya ngga papa. kalau ngga tercapai paling sedih sebentar tapi ya udah, ngga yang bikin demotivasi atau gimana, aku tetep melakukan apa yang harus kulakukan, mungkin kadang-kadang kepikiran, tapi ya udah. aku dulu merasa semua yang kualami itu karena keberuntungan, jadi pun ketika ngga lolos kedokteran aku cukup bisa menerima dan merasa tidak perlu menyalahkan keadaan. aku merasa apapun yang kudapatkan sepanjang hidupku bukan karena aku pintar, berusaha, bekerja keras, etc. it is always something that i take for granted.
mungkin karena ayah dan ibu (hampir) ngga pernah menuntut apa-apa. well i've told about this before. aku tidak nakal, tidak meninggalkan ibadah, dan tidak melawan kayanya sudah cukup. sepertinya mereka cuma berharap aku jadi anak baik. they dont really care how was my score, yang penting lulus, kalau remedial ya yaudah, kalau gagal ya yaudah. they never asked how much i earned, dan hampir ngga pernah menuntutku untuk menjelaskan further reason atas keputusan yang kubuat, termasuk ketika resign atau mau sekolah lagi. but they completely accept me for my good and my bad, and believe in me. dan mengizinkanku mengakses resource yang tersedia, komputer, laptop, alat masak, mobil, etc., tanpa aku harus merasa bersalah. dan hal yang juga paling disyukuri adalah aku merasa hampir ngga pernah dibanding-bandingkan, termasuk dengan sepupu, atau adikku sendiri, meskipun mereka relatif lebih oke hidupnya (at least aku merasa hampir ngga pernah mendengar itu dibicarakan di depanku). aku hampir ngga pernah dihukum, paling dimarahin sedikit. tapi ketika mama sudah sampai nangis karena kecewa denganku, aku akhirnya menyadari batasanku. jadinya ya, aku merasa punya tanggung jawab untuk berusaha sebaik yang kubisa, bukan untuk dipuji, i might never think about compliment. aku cuma takut mengecewakan mereka yang sudah percaya padaku. dan value ini terus kebawa sampai sekarang. ya meskipun, i do make people disappoint with me, a lot, but at least i am trying to do as best as i could.
tapi kalau dipikir, sejak dulu, salah satu keinginan yang selalu kumiliki adalah menjadi orang baik. aku cuma ingin bisa jadi orang baik dan bahagia secukupnya, hidup dengan baik, menjadi sebaik-baik manusia. ketika keinginan lain dikabulkan Tuhan, aku selalu menganggapnya sebagai keberuntungan.
seperti yang ditulis sebelumnya, aku mulai mikir serius tentang keinginan itu waktu kuliah. dulu waktu masih fresh man year, aku pernah mikir, apakah salah untuk tidak seperti kebanyakan orang yang menginginkan berbagai hal yang luar biasa. aku dulu bingung ketika disuruh bikin 100 mimpi saat orientasi karena melihat orang-orang di sekitar punya keinginan dan ambisi yang hebat-hebat, jadi mapres, sekolah di ivy league atau oxbridge, jadi ketua ini itu, menang ini itu, etc etc. sedangkan keinginanku receh-receh, bisa daur ulang sampah, pakai mesin jahit, menari, buat kue, main musik, naik sepeda, nyetir, mau naik perahu, snorkeling. kayanya aku memang sudah berbakat jadi medioker, wkwk.
satu-satunya keinginanku yang cukup luar biasa itu belajar di luar negeri, bukan keinginan yang semacam masuk ivy league atau top uni lainnya, atau bukan juga karena berharap diajar profesor ternama atau ambil jurusan yang spesial atau punya karir dan pendapatan yang lebih baik atau memperbaiki indonesia etc etc, tapi cuma karena sesederhana ingin jalan-jalan dan hidup di dunia berbeda, haha. tapi, mungkin ini karena waktu kecil, ayah sering cerita kalau amerika itu tempat belajar yang ideal, baik pelajaran hidup ataupun perkembangan ilmunya, karena katanya di sana setiap orang berjuang dan mereka dinilai berdasarkan kemampuan dan usahanya, bukan karena relasi atau status sosial. hmm, itu dulu sih, beberapa puluh waktu yang lalu. eropa juga menyenangkan buat jalan-jalan. jadi ya, gimana ngga tertarik coba.
melihat orang-orang di sekitar serius dengan hidupnya, ambisius, dan bikin mereka punya banyak kesempatan yang ingin kucoba. ya gimana engga, teman-teman selama smp-sma-kuliah jadi ketua ini itu, menang ini itu, bikin ini itu, pergi ke sana ke sini. dan semua itu membuatku merasa maybe i should start to be like other people. apalagi dulu dengan limited resources yang dimiliki, ayah berhasil mendapat beasiswa keluar negeri, take higher education. ibuku juga meskipun kuliah ngga selesai tapi bisa hidup dengan baik. adikku apalagi, ngga perlu ditanya, selalu ranking, menang ini itu, ikut ini itu, tampil di sana sini. ditambah lagi self thought semacam "mereka yang resource-nya lebih limited aja bisa ini bisa itu, kok lo ngga?''. jadi akhirnya, di tahun-tahun akhir kuliah, aku mulai set goals, punya target, berharap bisa menjadikan jalan untuk lebih memberi manfaat (dan tentunya jadi bahan untuk flexing buat nyari beasiswa, haha). apalagi kan bikin motivation letter disuruh mikir "kenapa" yang ngga bisa dijawab dengan sekadar ingin jalan-jalan. mulai sering diberi pertanyaan serius tentang "habis lulus mau jadi apa?".
tapi, bikin motivation letter (terutama untuk beasiswa) jadi sangat sulit rasanya. aku ngga bisa beralasan terkait kesulitan ekonomi atau ingin meningkatkan taraf hidup, aku tidak punya banyak saudara yang perlu ditanggung, aku hidup di kota dengan berbagai fasilitas dan kemudahan (depok kan kota, wkwk), aku merasa ngga se-struggling itu dengan hidupku (meskipun tentunya aku mengalami berbagai kesulitan juga). dan aku amat sangat bersyukur dengan itu. tapi ya sebagai anak dari keluarga dengan tingkat sosial ekonomi menengah, kuliah di luar negeri masih terlalu berat secara finansial. oke, berarti aku harus pakai jalur prestasi. tapi as i said, aku juga ngga sepintar itu, tidak punya prestasi, aku memahami keterbatasan kemampuan dan energi yang kumiliki untuk memberikan impact ke banyak orang, aku tidak tahu akan memberi kontribusi apa di bidang ilmu yang akan kupelajari. aku cenderung lebih generalis, dan aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang secara spesifik kuminati dan ingin kucari tahu lebih jauh. i dont know what motivates me. jadi ya, i try so hard to find my role in this universe that i can write in a piece of motivation letter.
aku cukup selektif ketika set my goals, maka itu ketika selama perjalanannya it turned out did not make me feel as i expected, it made me really shock. karena aku mungkin tidak terbiasa memiliki ekspektasi, dan ketika dikhianati ekspektasi diri sendiri, aku belum cukup siap. jadi, setelah melewati berbagai hal, aku mulai melihat goals sebagai sesuatu yang berbeda, tidak lagi melihatnya sebagai sebuah end, but more as a process. mungkin dulu merasa kalau aku akan bahagia ketika berhasil mencapai target dengan masuk kedokteran misalnya atau masuk ke instansi yang kuharapkan, tapi yang kadang aku lupa kalau itu bukan akhir. aku masih ingin mencoba banyak hal, tapi tidak menjadikannya sebuah goal yang harus tercapai. jadi, aku tidak menganggapnya sebagai beban, karena toh there will always a risk that i have to face, apapun keadaannya.
but again, aku punya privilege untuk ambil risiko, to put my life on risk, untuk mencoba hal yang ingin kucoba, untuk resign, untuk bisa gagal, untuk tidak selalu berhasil, to have more than one shot, untuk punya safety nett. dan dengan semua privilege itu, aku mungkin secara relatif belum dianggap mencapai standar sukses kebanyakan orang. aku masih belum bisa ngasih impact ke banyak orang (termasuk make world a little bit better place to live), belum banyak ngebantu orang, english score belum mencapai 550 (seperti yang dihebohkan kemarin), belum pernah dapet beasiswa ke luar negeri, belum punya karir yang settle, aset ya gitu gitu aja.
dan membuatku berpikir, apakah karena aku terlalu take everything for granted so He mad at me. have you ever feel so anxious karena takut dianggap mensia-siakan privilege yang dimiliki, kufur nikmat, dan diberikan azab. have you ever had the guilty feeling because you did not achieve what the society expect to you with all the convenience that you already have?
aku sudah melewati periode yang panjang merasa bersalah dengan diri sendiri, and that was really one of the worst feeling. perasaan bersalah itu masih ada, apakah take everything for granted itu salah satu kufur nikmat, dan apakah aku menyia-nyiakan previlege yang diberikan Tuhan. tapi, yang tau sebenar-benarnya dirimu, alasanmu, dan semua hal yang kamu alami adalah dirimu sendiri dan Tuhanmu.
aku percaya kalau setiap orang punya peran. and having the roles itself is not a competition. indeed, there will always be a selection that sometimes you have to take, untuk punya nilai tertinggi misalnya, atau masuk kerja, punya jabatan, even for marriage, tapi aku merasa kalau itu bukan kompetesi, everyone has their own portion to live in the world. kalau katanya, setiap orang punya rezeki masing-masing,
mungkin peranku di dunia sesederhana memberi manfaat pada orang-orang terdekat. and thats okay. ngga papa kok as long as appreciate people and every moment.
jadi, kumohon doakan aku, semoga aku menjalani hidupku dengan baik.
kudoakan juga untukmu, selalu.
with indescribable feeling,
Ayu
Ayu
Comments
Post a Comment