Berpura pura bahwa kita baik baik saja.
As tiny wisdom said weeks ago.
Jadi, daripada aku pusing mikirin drama (yang sebenarnya aku ngga mau tau juga), aku mau cerita aja kalau aku akhirnya memutuskan datang acaranya tiny wisdom setelah lama ragu-ragu. I like how tiny wisdom draws about feelings, jadinya waktu dia open registration untuk acaranya di jakarta, aku daftar lebih karena support aja tapi sebenarnya masih ga niat bgt untuk datang.
Aku biasanya males bgt keluar rumah kalau ga perlu. Mungkin lifestyle changed as pandemic happened. Waktu hari acaranya sampai memutuskan untuk nanya orang2 terdekat, should i come, or not. Padahal agak jarang nanya orang untuk ambil keputusan, but not this time, gegara sangat malas, dan mendung banget waktu itu, liat prakiraan cuaca akan hujan juga, dan lagi agak pilek juga, dan ngerasa jauh banget di pusat jakarta yang agak tidak ramah krl dan sejenisnya. Terus scroll instagram (iya, akhirnya aku punya instagram wkwk), terus baca komen2 orang kaya sebenarnya banyak mau dtg tapi ga dpt tiket. Terus tiba2 mikir, kalau aku udah punya tiket, tinggal jalan, punya waktu, lagi sehat juga, dan realize banyak yang mau dtg tapi ga bisa etc. Jadi, ya udah aku memutuskan dtg, tanpa ekspektasi.
Acaranya bagus. Agak2 semi motivator type gitu dan sebenarnya aku ngerasa (mungkin) udah ga se-relate anak2 muda (i know aku udah tua). I know what i want, dan risikonya, and why-nya dan sejenisnya, cuma emang susah aja haha. Tapi ok kok, dan dpt sticker gratis.
At least, aku ngerasa kagum ada orang yang mau capek capek bikin konten yang mungkin ngga niche, ngga full of flower and happiness, padahal creator-nya punya full time job dan working abroad juga. Dia bisa aja bikin konten hidup di negara maju, konten tech bro dan sejenisnya, jastip kek, apa kek, instead of draw feelings.
Tapi terus mikir, it may help other people. It was one of the reason kenapa aku beli tiketnya kemarin. Beberapa tahun ini ngikutin karyanya, dan meskipun hidupku ngga misserable banget, tapi waktu baca karyanya, apalagi yang going 30 kemarin, jadi ngerasa eh ada ya yang di posisi yang sama juga.
Maybe we need more people talk about guilty feeling.
Terus kan jadi kepikiran karena waktu itu lagi heboh ada suicide karena helpless sama hidup di dunia. If people read this kind of content, apakah akan sedikit memperpanjang hidup mereka di dunia. Maybe it helps people, or at least ease the feeling.
Terus selesai acara hujan deres bgt dan jadinya makin menyadari how previlege i am. Keluar rumah kali ini, menyadarkan gue lagi, kalau activities outside home may boost economic activities, it creates job. Kalau aku stay di rumah, aku mungkin contribute cuma ke abang gofood/grabfood dan resto deket rumah, itu juga kalau mama lagi mau sesuatu atau ngga ada yang masak di rumah. Udah lama ga jalan literally as pejalan kaki dan jadinya menyadari kalau aku mungkin terlalu lama ada di situasi i have options, something that i really gratefull for, dan mungkin terlalu sering melihat orang lain yang juga punya abundant of options, kerja di luar negeri, kerja wfa dari kafe, kerja wfh gaji dollar, kerja dengan sopir, kerja pake mobil, etc etc. But other people may not have that options. Aku dengan mudah belanja online karena ga mau ribet macet, parkir, antri, berat. Banyak yang ngga punya opsi dan harus kehujanan di jalan.
Aku mungkin ngga bisa banyak bantu with all this chaos system, systemic problems, selain berusaha bayar pajak tepat waktu yang ga tau apakah akan dikorupsi, jadi fasilitas pejabat, jadi bangunan ikn, jadi jalan tol, jadi mrt, atau jadi dana pkh (dan ofc bayar zakat dan sedekah). Terus jadi inget kalau konsep rezeki itu sebenarnya yang dikonsumsi dan dibelanjakan. With all this future uncentainties, biaya hidup makin mahal, dorongan, investment ga jelas, tekanan sosial, kayanya masih waras udah alhamdulillah, selanjutnya ya cuma keep being kind.
Jadi dewasa nih berat ya, huft.
Dan mungkin karena kmrn aku ngga sengaja sombong kalau aku tau apa yang aku mau, i know my why, kemudian Allah mengingatkanku kalau aku tuh ga tau apa apa. Have you ever feel guilty feeling karena menginginkan other people achievement which you really wish for years? I mean, a feeling like apakah aku mungkin akan happy juga if i am in that situation, dan jadinya i wish i can do or have the same, dan jadinya questioning did i made a right decision?
Aku jarang find this kind of feeling. I try to keep my life to stay zen. I follow so many people in twitter who i dont know in real life, jadi aku ngga punya attachment atas apa yang terjadi di hidup mereka. But it just came up, dan mungkin karena it was what i really wish, aku goyah, padahal i know for real the reason why i gave up, and i know it was my best decision so far.
but maybe feelings is really like a wave. after days, i am okay. i think i am fine now.
mungkin aku memang tidak boleh sombong. aku harap aku selalu diberi petunjuk Tuhan, dijaga, dan dilindungi.
mohon doanya!
What will the old you see the young version of you.
Very best,
Ayu
Comments
Post a Comment