Skip to main content

15th


The life we live is always at risk. Take it and drop every fear.


Jadi, gue udah liburan sekarang, setelah melewati minggu-minggu yang cukup berat kemarin. Selain menghadapi  pengumuman ngga lolos, gue kemudian harus menghadapi kalau nilai uts gue di salah satu mata kuliah jelek, dan gue rasa ujian akhir kemarin ngga begitu gue selesaikan dengan cukup baik, meskipun gue udah belajar sebisa gue, tapi mungkin memang guenya yang kurang cerdas, baik otaknya maupun cara belajarnya, haha. Gue sudah melewati masa masa gue nangis karena gue ngerasa gagal banget, tapi toh ngga akan ngerubah apapun. Jadi, ya udah di hadapi aja dan hanya bisa berdoa untuk bisa selamat di semester ini. Terima kasih banyak buat teman teman gue yang mau gue repotin, mau ngajarin gue, mau gue tanyain ini itu, dan terima kasih untuk diri gue sendiri, thank you for having been strong for whatever the situation might be happened, through this hard weeks :')

Terus liburan mau ngapain? Belum ada rencana sebenarnya. Tadinya mau nyoba apply intern gitu, tapi rata-rata syarat waktunya minimal tiga bulan, dan rasanya belajar buat ujian akhir kemarin benar benar took my time sebegitunya, jadi belum sempat se-struggle itu buat nyari internship. Yang jelas,  liburan ini mau review kuliah kemarin, sama mungkin mau belajar IELTS dan how to code someone, haha bercanda. Entah mungkin R atau Python, tapi susah sih kayanya, tapi gue harus belajar biar bisa punya skill dan portfolio yang bagus. Masih dalam tahap browsing nyari online course yang gratis sih. Mungkin, juga mau belajar lagi buat nyetir manual, meskipun ayah gue kayanya udah nyerah ngajarin gue nyetir manual, haha. 

Hari Jumat kemarin jadi hari terakhir masuk untuk semester ini, dan kemudian ngerasa sebebas itu sampai bingung mau ngapain. Gue lalu mengkompensasi tidur yang cuma sekitar 3-6 jam beberapa minggu terakhir, jadi gue ngerasa kebanyakan tidur beberapa hari terakhir ini. I still do some chores and cook some dish, and actually fix some of my posts at my blog and read a book, A Subtle Art of Not Giving a Fck. Jadi ceritanya, dua tahun terakhir ini, gue sering baca artikel atau opini di Medium, Quartz, Business Insider, Lifehacker, Huffington Post, World Economic Forum, the Economist, atau platform website sejenis, dan kadang nemu post yang bagus, salah satunya artikel dari Mark Manson, yang kemudian gue share ke adek gue, dan ternyata artikel itu adalah salah satu bagian dari bukunya, A Subtle Art of Not Giving a Fck, di mana adek gue ternyata punya full version-nya. Jadi, gue baru selesai baca itu kemarin dan mungkin akan gue review di post selanjutnya. 

Tentang artikel dan opini yang sering gue baca, gue biasanya ngga begitu senang dengan jenis post yang point-point, seperti 10 things to do what, 5 biggest of what, etc, karena gue ngerasa ngga dapet feel-nya. Tapi, kemudian beberapa waktu lalu, nemu artikel bagus di Medium, 5 Things I Wish I Knew In My Twenties. Entah kenapa isinya jadi ngingetin gue sama keputusan yang gue buat dulu, it reflects all my thought and my reason why I take a big risk of my life.

It’s your chance to be selfish and pursue your goals with pure single-mindedness......How bad could things get if you take that risk and fail? Could you lose all you money? Perhaps. But remember, money isn’t a finite resource. It can be accumulated again. Could you lose time? Definitely — so make sure you learn something valuable in the process, regardless of success. And the big one; regret. Will you regret not taking the risk?...... (Scott Tonges)

Jadi, di post sebelumnya gue pernah bilang, kalau gue pernah ngalamin krisis, quarter life crisis. Gue segitu ngga pengennya untuk berada di tempat gue saat itu, tapi gue takut banget ambil keputusan, gue takut akan segalanya. Lalu, gue sampai di titik di mana gue sadar kalau gue ngga bisa berada di state ini terus, gue harus ambil keputusan, apapun keputusan gue, apapun yang terjadi, sekarang. Tapi, tetap saja gue masih galau, untuk pada akhirnya take a big risk of my life. Saat itu, sekitar setahun yang lalu, gue nulis notes setelah gue hangout dan nge-hedon bareng adek gue.

----------------------------------------------------

Dan pada akhirnya pun, gue harus menghadapi pilihan bahwa hidup perlu realistis terhadap kenyataan. Iya, hidup harus realistis. In the end, the reason why you keep do work is to pay the bill, to keep, or enhance, your status, in terms of social economics, keep the welfare, keep your standard of living. I mean, kenapa pada akhirnya orang tetap struggling dengan pekerjaan yang mungkin ngga mereka suka, adalah karena mereka ingin bisa membeli semua yang mereka butuhkan dan inginkan, untuk bisa sejahtera, paling tidak seperti orang tua mereka.

Apa lagi yang dicari dengan gaji naik, kerjaan yang ngga begitu berat, lingkungan nyaman, teman kantor menyenangkan, akses transport ngga sulit, bos baik, dan (mungkin) kesempatan untuk kuliah lagi. Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan..

Tapi kemudian, tetap ada sesuatu, yang terus membebani piikiran, ketika rasa bersalah terhadap diri sendiri muncul, akan hidup yang seharusnya dijalani, tentang mimpi yang ingin dicapai. Yang kemudian ditakutkan adalah ketika pada akhirnya menyesal karena tidak mencoba dan mempertaruhkan semuanya, pada ikhtiar yang dilakukan, dan pada doa yang dipanjatkan. Karena mungkin, jika tidak sekarang, maka mungkin tidak akan selamanya. 

Tapi, lagi yang ditakutkan pula adalah kufur nikmat dan mengecewakan mereka yang telah bahagia.    
--------------------------------------------

Ambil keputusan untuk take a risk saat itu, sama sekali ngga mudah buat gue. Gue anak tertua di keluarga, dengan adek yang masih kuliah, dan ayah ibu yang sudah memasuki masa purna bakti. Ngga tau sih, gue ngerasa kalau ayah ibu gue selalu senang waktu cerita ke orang lain kalau anaknya udah kerja. Apalagi, gue sering bawa sesuatu waktu pulang kantor, kadang traktir mereka, beliin sesuatu, meskipun mungkin ngga seberapa. Kadang bantu sedikit keuangan keluarga, beli beberapa logistik, meskipun mereka mungkin ngga butuh bantuan, tapi gue tau mereka senang. Seenggaknya, gue bisa sesekali hangout dan beli some stuffs tanpa membebani mereka, termasuk ketika gue kehilangan handphone gue di KRL. 

Dengan semua keadaan itu, gue mikir, gue egois banget ngga sih, kalau gue memutuskan untuk off kerja, dan lanjut kuliah, yang mungkin tanpa beasiswa, dengan jurusan yang baru banget buat gue. Apa gue siap untuk kehilangan reguler income?  Apa gue siap untuk ngga lagi sedikit membantu orang tua gue? Apa gue siap untuk lebih berhemat, meskipun gue ngga segitu konsumtifnya? Apa gue siap untuk mengorbankan segalanya? Setelah diskusi dengan orang tua gue, mereka bahkan ngedukung penuh untuk gue lanjut kuliah, meskipun mereka tau risikonya, kalau gue harus off, kalau gue ambil jurusan yang ngga linier. Jadi, insya Allah, dengan restu orang tua, gue kemudian memutuskan untuk lanjut kuliah tahun ini. Paling ngga gue punya sedikit tabungan selama gue kerja, untuk ngga membebani mereka dengan tuition fee dan mungkin beberapa expenses gue selama kuliah.  Alhamdulillah nya, sampai saat ini, keluarga gue ngga pernah kekurangan dan semoga selalu begitu, jadi gue mungkin ngga perlu begitu khawatir. 

Salah satu alasan lainnya kenapa gue pada akhirnya ambil risiko untuk kuliah lagi dan mungkin changing career, adalah karena gue belum punya sesuatu yang perlu gue pikirin banget, anak misalnya. Jadi, risiko yang gue ambil, mungkin cuma akan berdampak ke diri gue sendiri. Jadi, itu kenapa gue insist untuk kuliah di tahun ini, karena jika semakin lama, maka mungkin akan semakin sulit. Jadi, gue harus take responsibility atas pilihan gue ini dan ngasih effort semaksimum yang gue bisa. Gue harus percaya sama takdir gue, sama cita-cita gue, apapun yang terjadi nantinya.

Semoga selalu diberi petunjuk di jalan yang lurus. Mohon doanya!


----

with so much contemplation
in my 3rd day of long holidays




Comments