Skip to main content

20th

"You can make anything by writing."
(C.S. Lewis)


Jadi ceritanya, gue belum lama follow twitter Dr. Lawrance Haddad. Gue pernah cerita kalau beliau adalah economist di bidang food and nutrition. Executive Director of GAIN, reviewer di Global Nutrition Report. Menurut gue, keren ngga sih, he is not nutritionist, nor physician, but well-known in the field of food and nutrition, and especially international development. Yang gue kagum lagi adalah beliau bukan hanya nulis buat publikasi di jurnal yang hanya bisa diakses oleh orang orang terbatas, tapi beliau juga aktif di twitter, dan punya blog pribadi yang berisi opini-opini ringan, tapi tetap berkualitas. Beliau menempatkan diri bukan sebagai ivory tower.

Kemarin beliau baru buat tulisan di blog nya, "How to Persuade People to Eat More Nutritious Food?", mengulas buku "Why You Eat What You Eat", dari Prof. Rachel Herz. Kemudian, gue jadi ingat dengan pertanyaan yang gue ajukan ketika kuliah umum behavioural and development economics. "Kenapa orang cenderung lebih memilih makanan yang ngga sehat dibanding makanan yang sehat? Apakah karena harganya lebih murah atau apa." Jawabannya simply, just because it is available, and it tastes better. So people can choose, and the problem is the taste (which sometimes considers as preference) was irreplaceable. Siapa coba yang ngga suka indomie, coca cola, chiki. Nah, masalahnya sekarang adalah when all those unhealthy foods are available, how to make people getting better for choosing the foods that they consumed. Padahal, kalau diumpakan secara ekonomi, healthy foods memberikan keuntungan yang lebih besar, mungkin seperti investasi yang akan memberikan interest rate, dalam bentuk hidup yang lebih sehat di masa depan misalnya. Tapi, seperti yang gue baca di "Nudge" dari Prof. Richard H. Thaler dan Cass R. Sunstein (yang padahal masih belum selesai karena nonton drama korea dan keasyikan baca novel, haha), manusia adalah humans, not econs, jadi tidak jarang manusia melakukan dan memutuskan sesuatu yang tidak rasional bagi scientist, bagi researcher, bagi economist. Itu kenapa, behavioral economics dan marketing research sebenarnya sangat diperlukan untuk promosi hidup sehat yang lebih baik, bukan hanya diaplikasikan untuk industri iklan.

Gue sebenarnya masih belajar banyak tentang apa sebenarnya "healthy foods" dan "health behaviour", karena kalau ditanya pun masih banyak yang belum gue pahami. Gue juga bukan termasuk seseorang yang anti unhealthy foods atau seseorang yang healthy lifestyle freak, karena food choice gue masih berantakan, gue juga masih punya sedentary lifestyle. Tapi yang gue tau, semua yang berlebihan itu tidak baik, dan ketika seseorang dapat menjadi lebih baik, kenapa tidak diusahakan. Again, public policies have an important role in this field. Daripada research, mungkin lebih baik memperbesar alokasi anggaran untuk promosi hidup sehat, sehingga masyarakat paham stunting itu apa, makan ikan itu baik, vaksin itu penting.

Anyway, membahas tentang beropini di blog, gue sejujurnya prefer membaca tulisan seseorang  dibandingkan melihat status atau any-kind-of-stories, kecuali twitter mungkin, karena twitter helps me update with good articles. Banyak professor dan researcher di luar negeri yang punya blog atau website pribadi, di luar jurnal mereka tulis. Mereka juga kadang menulis di media mainstream seperti medium, atau world economic forums, atau guardian. Itu kenapa, gue sering baca those kinds of articles yang menurut gue menambah sudut pandang gue, karena  artikel yang ditulis bukan hanya sekedar liputan, tapi ada opini di sana. Beda dengan di Indonesia, yang menurut gue researcher di sini terlalu sibuk dengan penelitiannya, mereka kurang mendisemenasikan ilmunya kepada masyarakat umum, yang ngga paham sama ilmu mereka.

Entah kenapa, kadang gue merasa membaca tulisan seseorang di blog-nya seperti melihat dirinya yang lain, dirinya yang sebenarnya. Melalui tulisan, mereka seperti jujur dengan diri mereka sendiri, sesuatu yang bahkan mungkin ngga gue temukan ketika menjalin komunikasi dengan mereka di dunia nyata, kecuali mungkin kalau gue deket banget sama mereka. Entah sih, tulisan seseorang di blog itu, somehow, membuat gue jadi mengetahui sudut pandangnya akan sesuatu, tentang apa yang ia pikirkan, tentang apa yang ia rasakan, tentang pengalamannya, tentang preferensinya.

Beberapa blog yang sering gue ikuti selain blog temen temen gue adalah blog nya Sam Maulana, atau Prawita Mutia. Dulu masih sering baca blog nya Kurniawan Gunadi atau Yasir Mukhtar, tapi sekarang sudah jarang. Kadang seru juga sih liat vlog yang isinya opini gitu, seperti punya Gita Savitri atau Aida Azlin. Tapi, gue ngga cantik cantik banget, jadi bagi gue, dengan gue menulis saja sudah lebih dari cukup. Gue sebenarnya sudah mulai nulis blog sejak SMA, tapi kemudian gue hapus karena rasanya kok isinya lebih banyak curhat ngeluhnya. Gue kemudian vakum selama lebih kurang dua tahun selepas lulus kuliah, meskipun masih sering nulis di mobile notes application. Jadi, kalau melihat gue sedang ngetik lama, mungkin sebenarnya gue lagi bikin tulisan.

Ketika masih SMA dan kuliah, gue masih sering menemukan tulisan-tulisan teman gue, tapi semakin dewasa, mereka sudah jarang menulis. Mungkin karena adanya instagram atau path. Well, gue rasa gue agak conservative dan ngga kekinian, karena gue ngga punya instagram, apalagi snapchat dan udah lama uninstall path. Seperti yang gue bilang, gue menghindari untuk impress someone, dan bukannya express myself. Pernah baca artikel tentang How Technology is Hijacking Your Mind? Gue merasa mungkin bisa meminimalisir hal itu dengan membatasi penggunaan sosial media dan punya blog. Entah kenapa, gue merasa aman dengan menulis di blog, meskipun toh orang-orang juga bisa baca. Dan seperti yang pernah gue tulis, lewat blog gue bebas memberikan pendapat gue, opini gue...


Regards,

Ayu
yang masih senang menulis



PS:

Oh ya, sudah mulai masuk kuliah lagi. Mohon bantuan, mohon bimbingan, mohon doanya!

Comments