Skip to main content

21st

High School 
(n).  where self-esteem, innocence, and dreams go to die


Having one of my good friends getting married is somewhat exciting. Beberapa waktu lalu, salah satu temen gue yang paling baik menikah. Bukan teman yang gimana banget sih, tapi dia adalah salah satu temen gue yang paling baik selama gue SMA. Happy wedding day for him and his wife! Semoga sakinah mawadah warahmah ever after.

Seperti kata orang, datang ke pernikahan di usia sekarang pasti jadi ajang reuni, dan ketemu teman-teman membuat gue nostalgia masa SMA, haha. Jadi lucu aja kalau ingat perjalanan cinta temen gue ini dan teman-teman di sekitar gue. Karena ya, terkadang hal yang tak terduga yang terjadi. Well said, takdir itu ngga tau gimana cara kerjanya, tapi Tuhan pasti akan mempertemukan dengan seseorang yang baik di waktu yang tepat.

Lalu, gue ketemu sama teman-teman yang dulu gue sering nonton mereka kalau lagi tampil nge-band  di sekolah, atau waktu lagi tanding antar kelas pas class-meeting, atau waktu lagi jalan-jalan ke kelas lain buat ngobrol atau belajar bareng buat ujian. Haha, seru aja sih kalau diinget.

Selain nonton waktu lagi pertandingan antar kelas, entah itu basket atau futsal atau badminton, yang pasti dukung kelas sendiri, hal yang paling seru adalah nonton mereka kalau lagi ada pertunjukan band di sekolah. Pertunjukan band sederhana di lapangan yang ngga perlu pakai panggung dan biasanya jadi closing class-meeting di tiap akhir semester. Gue inget banget, namanya "Music After School". Gue pasti kadang nanya-nanya mereka mau bawain apa, atau sering request lagu buat dibawain, terus nungguin mereka tampil sambil nonton dari balkon dan ikutan nyanyi bareng, hahaa. Waktu dulu itu, Blink 182 lagi happening banget di kelas, atau lagunya The Script, yang The Man Who Can't Be Move, sama apa lagi yaa lupa.

Tuker-tukeran komik dan DVD film juga jadi hal yang paling epic sih ketika SMA, di luar belajar dan ikut lomba yang bikin ngga masuk sekolah berminggu minggu. 500 Days of Summer dan A Walk to Remember sepertinya jadi film wajib buat ditonton di masa itu. Terus, gue jadi inget waktu di tahun terakhir SMA, satu angkatan demo sampai dibenci guru satu sekolah, haha. Tapi itu super banget, sih.

Karena gue bukan tipe yang mudah keep the relationship, jadi setelah lulus dan kuliah masing-masing, gue jarang berkomunikasi lagi dengan teman-teman SMA. Meskipun banyak yang masih satu universitas, bertemu mereka mungkin hanya beberapa kali dalam setahun, saat reuni yang biasanya bersamaan dengan buka puasa bersama, atau ya saat menghadiri undangan pernikahan.

Oh iya, kemarin baru saja mendapat kabar baik dari teman yang cukup lama ngga saling kontak. Dia adalah salah seorang teman yang somehow jadi salah satu panutan gue selama gue SMA. She is really a good friend, tipe sanguinis, extrovert, petualang sejati. Padahal awalnya kita ngga saling kenal, tapi ternyata kita berdua punya teman yang sama, dan ya tiba tiba saja menjadi dekat. Gue bersyukur banget punya kesempatan mengenal dirinya. I learn a lot from her, pemikirannya luas, senang nonton NatGeo, dan memperkenalkan gue dengan The Beatles dan Kakek Paul. I am definitely so happy for her. Semoga dilancarkan semua niat baiknya :")

Hmm, jadi seru aja kalau inget teman-teman SMA dan apa yang gue alami selama perjalanannya, haha. Beberapa waktu lalu sempat lewat SMA, dan cuma mau sombong kalau sekarang SMA gue jadi bagus (dari luar, sih) dan yang jelas ngga pernah kena banjir, wkwk


Regards,
Ayu
yang sedang rindu
sama (si)apa ya.. haha



PS :

Oh iya, beberapa waktu lalu melihat spanduk Faculty Club dipajang di depan stasiun, dan sempat mikir kira-kira siapa ya yang nikah di Faculty Club, kalau alumni pasti cinta banget sama kampusnya, haha. Kemudian kaget ketika mendapat undangan dari temen gue, yang ternyata nikah di Faculty Club, meskipun dia anak kampus sebelah.

Anyway, masih bertanya-tanya ilham ada di mana. Mohon doanya semoga segera dipertemukan dengannya, hmm...

Comments