Skip to main content

22nd

"A Good Education is Another Name for Happiness"


Beberapa waktu lalu sempat ngobrol dengan seorang teman tentang pendidikan anaknya. Masalah dilema ibu bekerja, yang merasa bersalah karena belum mendampingi anaknya dengan baik di tahun-tahun emasnya yang padahal berperan penting untuk perkembangannya di masa mendatang.

Well, menurut gue, salah satu solusi yang mungkin memang paling baik adalah dengan memastikan anaknya mendapatkan  pendidikan yang baik. Ini pengalaman gue aja sih dan apa yang bisa gue observasi dari orang-orang di sekitar gue, jadi ngga bisa digeneralisir juga. Gue tumbuh dengan ibu yang bekerja, tapi alhamdulillah gue ngerasa bisa berkembang dengan baik dan ngga aneh-aneh. Menurut gue salah satu alasannya adalah karena gue mendapatkan pendidikan yang cukup baik dan memiliki hubungan yang baik dengan orang tua gue, meskipun friksi itu pasti ada. 

Karena ayah dan  ibu gue adalah pegawai pemerintah dengan pendapatan yang ngga besar, gue kemudian diarahkan masuk sekolah negeri yang ngga butuh banyak biaya. Gue TK di TK Kartika, which means TK milik ibu-ibu TNI, lalu masuk SD Negeri di dekat rumah, dan melanjutkan SMP dan SMA Negeri yang ngga jauh juga dari rumah, kemudian masuk Universitas Negeri yang juga ada di sekitar rumah. Ayah gue dulu pernah bercanda, anak pegawai negeri sekolahnya di sekolah negeri aja, haha. Yang beruntung adalah lingkungan gue tinggal dikelilingi  sekolah yang cukup bagus kualitasnya. SMP dan SMA gue termasuk yang cukup favorit dan alhamdulillah gue beruntung bisa masuk di kelas yang cukup baik, sehingga lingkungan teman-teman gue juga adalah teman teman yang baik dan saling mendukung. Jadi, gue ngerasa bisa berkembang dengan baik dan mendapat banyak pengalaman selama gue sekolah.  

Ngga sedikit dari teman-teman gue yang ibunya bekerja, dan kami merasa kami baik-baik saja. Banyak dari mereka end up di universitas yang baik dan punya karir yang cukup baik. Meskipun gue banyak melakukan hal-hal yang dilarang ketika ibu gue ngga ada, misalnya jajan micin, haha, tapi pada akhirnya gue dapat menyeimbangkan hidup dan menjadi anak yang "baik". Begitu juga teman-teman gue, yang mana kami banyak melakukan hal-hal dilarang selama sekolah, entah bolos, berantem, atau kesalahan-kesalahan lain, tapi kami tahu batasan kami dan kami tahu tanggung jawab kami, dan alhamdulillah pada akhirnya kami juga end up jadi anak "baik-baik".

Jadi ya, menurut gue ngga ada yang salah dengan ibu bekerja, begitu pula dengan ibu tidak bekerja. Tapi menurut gue yang mungkin juga perlu menjadi concern adalah kualitas komunikasi, bukan hanya kuantitas. Gue sejujurnya ngga pernah ditanya oleh ibu gue apakah gue sudah mengerjakan tugas belum, sudah belajar belum, nilai gue bagus ngga, tapi gue selalu bisa cerita apapun ke ibu gue, begitu juga ke ayah gue, dan gue merasa bersyukur banget punya keluarga yang cukup demokratis, sebesar apapun kesalahan gue, seberapa pun kegagalan gue. Gue rasa gue ngga pernah sebegitu takut dengan ayah dan ibu gue, dan gue ngerasa secure sejak gue kecil karena gue tau kalau mereka akan selalu ada untuk gue meskipun selama sekolah gue sering ditinggal. Mereka ngga pernah menuntut gue untuk mencapai sesuatu, gue ngga pernah dimarahin karena nilai gue jelek misalnya, tapi yang mereka lakukan adalah memberikan contoh dan mereka menjadi panutan gue dalam kehidupan sehari hari. Respect, and not fear, ini yang mungkin pada akhirnya membentuk rasa tanggung jawab di diri seorang anak, dan ketika mereka sudah memahami tanggung jawabnya, maka ia akan berusaha sebaik yang ia bisa, dan menurut gue hidupnya ke depan akan baik-baik saja, seberapa pun masalah yang mungkin akan dihadapi.

Keluarga gue bukan keluarga yang sempurna, kami sama-sama masih saling belajar, saling mengingatkan. Ngga jarang gue kena marah, apalagi ketika SMP SMA. Kami juga sering saling miskomunikasi, tapi alhamdulillah kami selalu dapat menyelesaikan permasalahan kami dan berdamai kembali. Menurut gue, salah satu alasannya adalah karena gue bisa diskusi apapun di keluarga gue. Gue diberikan pengertian kenapa gue kena marah, kenapa gue ngga boleh ini-ngga boleh itu, kenapa gue harus ini-harus itu, dan gue juga bisa memberikan pendapat gue akan sesuatu, mengungkapkan keinginan gue. Hal ini yang juga yang sepertinya gue lihat dari keluarga teman-teman gue yang mana mereka juga tumbuh dan berkembang dengan baik. Masalah di keluarga pasti ada, tapi gimana cara menyikapinya yang mungkin akan memberikan hasil yang berbeda.

Dan lagi, dari yang gue observasi, untuk bisa memiliki pemahaman tentang menyikapi masalah dengan baik, mungkin diperlukan pengetahuan yang baik. Untuk mendapatkan pengetahuan yang baik, salah satu caranya adalah dengan mendapatkan pendidikan yang baik, dan untuk bisa mendapatkan pendidikan yang baik, diperlukan kemampuan yang baik. Untuk bisa memiliki kemampuan yang baik, diperlukan alokasi resource yang tidak sedikit, misalnya asupan makanan yang bergizi baik, atau stimulus dan fasilitas tambahan untuk dapat membuat seseorang berkembang lebih baik. Pada akhirnya, mereka yang memiliki banyak sumber daya yang akan menghasilkan sumber daya yang baik pula, dan begitu seterusnya.

Above all, yang jelas doa orang tua adalah hal yang mungkin memberikan pengaruh paling besar, selain pendidikan dan komunikasi yang baik, haha. Apalah kita, manusia, tanpa Tuhan yang Maha Kuasa yang mengabulkan segala doa, ya ngga...


Regards,
Ayu
yang masih butuh banyak doa



PS:

By the way, gue kemudian mendapatkan insight yang menurut gue keren banget ketika kuliah tentang inequality yang juga masih berhubungan dengan good education. Tapi, mungkin akan gue lanjutkan di tulisan selanjutnya. Akhir-akhir ini sedang banyak mendapatkan berbagai cerita dari kejadian di sekitar, tapi sedang banyak tugas, huhu. Mohon doanya!

Comments