Skip to main content

24th

Just keep being you, or not (?)


Kemarin sempat ngobrol dengan beberapa teman. Mereka heran kenapa gue bisa tau beberapa hal tentang mereka. Gue sendiri juga ngga tau kenapa gue bisa se-kepo itu, bahkan kadang gue amazed dengan kemampuan kepo gue, haha. Tapi gue kan sebenarnya memang perhatian. Ini serius, wkwk. Gue kadang sering memperhatikan orang-orang di sekitar gue, entah tentang apa makanan yang sering dimakan, atau sesuatu yang mereka kenakan, atau keadaan mereka, atau hal-hal remeh temeh lainnya, terus kadang suka komen ngga jelas, semoga sih ngga dianggap nge-judge...

Terus gue jadi bertanya-tanya, apa yang orang lain pikirkan tentang gue. Gue kemudian menanyakan kepada beberapa teman, kira-kira menurut mereka, gue itu gimana. Beberapa setuju kalau gue itu, apa ya, selow banget, mungkin definisi lainnya dari ngga peka atau ngga punya perasaan, haha. Menurut mereka, gue terlihat ngga peduli pada apa yang orang lain pikirkan tentang gue. Padahal gue merasa kalau gue sering overthinking juga...

Gue kemudian menyadari, ketika gue merasa apa yang gue lakukan ngga salah, gue sejujurnya ngga peduli dengan apa yang orang lain pikirkan. Bukan sih, gue sebenarnya peduli dengan apa yang orang lain rasakan atas apa yang gue lakukan, bukan apa yang mereka pikirkan tentang gue. Selama ini gue merasa tingkat kepedulian gue pada suatu masalah ada pada bagaimana gue merasa bahwa sesuatu itu benar-benar masalah. Nyatanya, dalam menentukan suatu kejadian adalah sebuah masalah, gue perlu menemukan justifikasi yang menurut gue logis. Jadi, gue merasa gue ngga bisa jadi drama queen, dan ya gue juga ngga punya hidup yang such as drama.

Misalnya, ketika gue menemukan teman gue sakit, gue akan mencoba membantu dia sebisa gue. Atau misalnya, ketika gue menemukan pasangan temen gue melakukan hal yang salah, gue akan membantu mencari penyelesaiannya. Atau misalnya ketika gue ngerasa salah ke orang lain dan gue tau apa yang gue lakukan itu salah, gue akan berusaha minta maaf karena menurut gue itu masalah.

Tapi, ketika ada teman gue yang tiba-tiba sinis marah ke gue tanpa alasan, awalnya gue akan mencoba cari tau ke temen dekatnya, atau tanya langsung ke yang bersangkutan. Tapi, kalau dia tetap diam aja, gue akan ya yaudah lah dan ngga mau ambil pusing karena menurut gue itu masalahnya bukan masalah gue, haha. Gimana ya, gue ngga bisa jadi tipe yang mohon-mohon ke dia ketika gue merasa gue ngga melakukan kesalahan, "Kamu kenapa? Kamu marah? Aku salah ya? Aku salah apa?", terus dianya tetap diam aja, berharap gue peka, kan gue jadi kesel, haha. Gimana gue tau kesalahan gue kalau gue ngga dikasih tau kalau gue salah, karena gue memang ngga sepeka itu.

Gue ngga bisa menebak-nebak perasaan orang.  Gue akan sangat appreciate jika seseorang mengatakan secara langsung ke gue, tentang apa yang mereka harapkan dari gue. Karena itu juga yang biasanya gue lakukan ketika ada masalah dengan seseorang, gue akan berusaha untuk mengatakannya, meskipun kadang sulit. Tapi, setidaknya mengurangi risiko saling diam terlalu lama. Kadang gue suka gemes sama cerita misalnya tentang menganggap pasangannya ngga peka terus diem-dieman marahan. Ya gimana mereka dapat mengerti kalau ngga dibicarakan.

Tapi jujur sih, gue ngerasa kadang gue bener-bener ngga sepeka itu, ditambah lagi gue kan agak thinking-judgemental ya, haha. Kata temen gue, kayanya pun kalau gue di kode in orang, gue ga akan paham dan menganggapnya hal yang biasa aja, karena gue ngga baper-an, makanya terus terkesan ngga approachable, haha. Kadang, ketika gue merasa kalau menurut gue itu ngga logis, gue akan merasa apa yang gue pikirkan itu salah. Maksudnya gini, gue selalu merasa ngga  cukup menarik atau cukup pintar atau cukup cantik untuk diperhatikan, karena ada orang lain  yang lebih worthy untuk jadi perhatian. Jadi, ketika gue  merasa diperhatikan, gue akan meng-counter dan berkesimpulan bahwa itu bukan apa-apa karena logika gue mengatakan bahwa secara logis premisnya memberikan kesimpulan yang salah. Jadi ya, gue kemudian ngga membawa itu ke perasaan gue, I am over protecting myself to be dissapointed. Gue takut banget jadi sedih.

Kadang gue mikir, gue sepertinya harus berusaha untuk mencoba men-develop sisi feeling gue dengan lebih baik. Karena terkadang sesuatu yang menurut gue bukan masalah, ternyata itu masalah buat orang lain, dan gue perlu membangun toleransi untuk hal itu. Tapi ya, hal itu kadang begitu sulit, haha. Gue agak sulit untuk put my feet on other shoes, karena gue melihat sesuatu dari sudut pandang gue, bukan dari sudut pandang dia. Ketika gue mengatakan "kalau aku jadi kamu, .." itu berarti gue benar benar memposisikan diri gue jadi dirinya dengan pikiran gue, bukan literally menjadi dirinya. Ini yang buat kadang gue dianggap egois, judgmental dan ngga peka.

Lalu, gue cukup amazed karena salah seorang teman mengatakan gue cukup easy going. Gue sejujurnya agak terkesan dianggap easy going, karena by default gue adalah seorang yang introvert. Haha. Tapi kalau diingat, gue ternyata men-develop sisi ekstrovert gue dengan cukup baik, setidaknya untuk bisa bertahan hidup di dunia. Gue kemudian baru sadar, gue cukup bisa berkomunikasi dengan orang lain dari berbagai latar belakang, setidaknya untuk sekadar memulai percakapan. Tapi, kalau seseorang itu ngga terbuka sama gue, dan gue ngga bisa masuk ke dirinya, jadi ya udah krik-krik. Karena gue ngga punya energi yang besar untuk membuat seseorang jadi terbuka. Gue jadi inget, waktu resign, salah seorang yang ngerasa kehilangan adalah mbak dan mas yang suka bersih bersih ruangan dan itu membuat gue terharu karena itu berarti gue menjalin hubungan yang baik dengan mereka.

Meskipun gue cukup easy going, tapi kalau boleh jujur, gue ngga punya geng, hiks. Gue pernah ditanya, "memang Ayu ngga punya geng?" Dari dulu gue ngga pernah bisa punya geng. Sedih sih, kadang iri juga sama mereka yang punya geng. Tapi gue tipe orang yang menjalin hubungan dengan orang per orang dan gue ngga bisa terikat untuk masuk ke dalam sebuah geng. Ngga tau, ngga bisa aja, gue ngga bisa menjadi eksklusif, dan karena itu gue akan cenderung deket sama beberapa orang dari berbagai geng yang berbeda di tempat gue berada saat itu.  Jadi ketika gue pindah, kedekatan gue dengan temen gue yang lama akan berkurang , dan gue akan menjalin engagement dengan orang yang baru. Gue bukan tipe yang bisa keep the relationship kalau udah lama ngga saling kontak, karena effort yang gue keluarkan untuk itu menurut gue sangat besar, haha.

Kadang gue bertanya-tanya, kapan saatnya gue perlu menerima personality gue dan kapan saatnya gue perlu berusaha untuk berubah. Kan katanya, don't just be yourself wkwk.  Maksud gue, personality itu kan endowment atau bisa dibilang genetik, yang mungkin bisa dikalahkan dengan pengaruh lingkungan. Tapi ya itu, seperti yang pernah gue tulis, gue pernah mencoba untuk mengikuti orang-orang keren, mencoba jadi sok asyik atau sok sksd ke orang lain, mencoba untuk masuk dan terikat ke dalam sebuah geng, menjadi seseorang yang bukan gue, tapi kemudian gue lelah, gue menyerah, gue ngga bisa. Haha. Tapi terus mikir, dengan gue yang versi ini, apa kira kira gue bisa bertahan hidup dengan baik, apa ada orang yang bersedia jadi temen gue, apa ada orang yang  mau memberikan waktunya atau perhatiannya untuk gue, apa akan ada yang pada akhirnya memilih gue dari sekian orang lainnya, in any terms of condition. Ini yang buat gue selalu insecure ketika ada pemilihan kelompok, haha. Apa sih ini, mulai deh overthinking-nya.  Yang penting kan gue berusaha jadi the better version of me, ya ngga...

Jadi, gue akan sangat-sangat appreciate jika ada seseorang yang berbaik hati memberikan saran dan kritik yang akan membuat gue jadi lebih baik, hehe...


Regards,
Ayu
yang masih berusaha
untuk jadi lebih baik



PS:

I am rarely being sad actually, and if it happens then it means I can not bear it anymore. But, you know what, I have a really bad day today. and it made me cry, a lot. Then, I have a little hope that you will help me, or just make me happy, a little bit. I've been waiting so long and I've tried really hard, if you know. 

Comments