Skip to main content

27th

starve my distraction-
feed my focus


Menjadi seseorang yang introvert, tetapi secara bersamaan juga extrovert, agaknya cukup menyulitkan. Gue pernah cerita kalau gue adalah Thinking Extrovert, tapi gue, by default, adalah seorang introvert. Jadi, katanya, seseorang dengan thinking extrovert punya motivasi diri sendiri yang lemah, motivasinya lebih banyak berasal dari luar. Mungkin, ini yang membuat gue perlu untuk melihat orang lain melakukan hal yang sama untuk ikut termotivasi, tetapi gue juga perlu memiliki privasi, hahaa.

Mungkin ngga seperti kebanyakan orang, gue lebih mudah terdistraksi ketika sendirian, dibandingkan di keramaian. Setelah gue pikir, mungkin dikarenakan ketika berada di keramaian, gue merasa bersalah jika ngga melakukan hal yang seharusnya, jadi gue merasa lebih produktif.  Kalau sendirian, gue sulit fokus dan sering melakukan hal-hal yang ngga penting, seperti cari makanan atau ganti channel radio/televisi, atau scrolling timeline. Bisa dibayangkan, terkadang belajar dikeramaian saja masih mudah terdistraksi, apalagi jika belajar sendiri, haha.

Distraksi dan ketidakfokusan gue sering membuat gue tidak dapat memenuhi target yang sudah ditetapkan. Ngga deng, gue memang hampir selalu miss planning, haha. Tapi akan lebih parah kalau gue ngga fokus. Gue kemudian mencari solusi untuk masalah gue ini, dan salah satu solusi yang sejauh ini menurut gue berhasil adalah gue perlu tempat yang nyaman yang dapat menghindarkan gue dari distraksi. Katanya itu hanya sugesti dan salah satu bentuk dari melakukan pembenaran atau menghindari masalah. Maksudnya gini, ketika gue merasa bahwa gue ngga bisa melakukan sesuatu karena gue ngga mendapatkan apa yang gue harapkan  sebelumnya, maka itu berarti gue cenderung hmm, apa ya, permissive (?). Padahal, yang (mungkin) seharusnya dilakukan adalah melawan diri sendiri, tapi rasanya sangat sulit, wkwk. Untuk saat ini, gue berusaha untuk berada pada keadaan yang dapat membuat gue mengoptimalkan fokus gue. Mungkin suatu saat bisa menemukan sesuatu yang membuat gue tetap fokus, seperti kamu misalnya, haha.

Itu kenapa gue sering banget ke ke perpusatakaan, karena gue akan menemukan orang lain yang juga belajar, tapi di sisi lain gue juga memiliki privasi untuk diri gue sendiri. Nah, karena gue pada dasarnya gue adalah seseorang yang mudah terdistraksi, maka gue biasanya akan cenderung memilih tempat di sisi jendela, yang membuat gue memiliki kesempatan untuk mengalihkan perhatian. Atau hal lain misalnya, gue akan cenderung olahraga dengan pergi ke lapangan yang ada track lari nya karena gue akan menemukan orang lain yang lari dengan pace mereka masing-masing. Gue jadi termotivasi tapi juga ngga membuat gue merasa bersalah karena ketidakmampuan gue berolahraga, wkwk.

Karena keadaan gue ini, gue jadi sering mencari tempat untuk belajar dan mengerjakan tugas ketika perpustakaan tutup. Coffee Shop di sebuah toko buku besar jadi salah satu tempat favorit dan salah satu tempat yang gue rekomendasikan, haha. Sebenarnya sih kadang merasa bersalah juga nongkrong lama tapi cuma beli paket yang paling murah. Jahatnya lagi, gue bisa menghabiskan waktu lebih dari 7 jam di sana, bahkan lebih, haha. Ngga papa lah ya, kan memaksimumkan utilitas, wkwk.

By the way, berada lama cukup lama di sana, kadang membuat gue memperhatikan kejadian di sekitar. Seperti misalnya, terkadang merasa miris karena ternyata banyak orang yang menyisakan makanan/minuman mereka. Bukan urusan gue sih dan gue sama sekali ngga punya hak untuk nge-judge, tapi karena gue sering mengikuti tweet tentang food security, membuat gue lebih menghargai makanan. Bahwa banyak orang di luar sana yang masih kelaparan dan mengetahui fakta bahwa proses from farm to table memerlukan sumber daya yang besar, mulai dari proses menanam, transportasi, memasak, hingga sisanya dibuang, dan kembali ke alam, membuat gue lebih peduli untuk menghindari makanan terbuang percuma. Kan gini, supply akan mengikuti demand, ketika demand meningkat, supply akan terus meningkat, dan sumber daya yang digunakan akan terus meningkat. Padahal, nyatanya banyak makanan yang terbuang, menandakan kalau demand sesungguhnya tidak efisien, dan berpotensi menimbulkan welfare loss (mungkin, sih). Hahaa, ngga tau deng, tapi yang jelas, dari dulu gue selalu diajarkan untuk makan secukupnya dan bertanggung jawab menghabiskan makanan yang telah diambil.

Hal lain yang sering gue perhatikan adalah interaksi pengunjung yang datang. Kadang lucu juga ketika tanpa sengaja mencuri dengar pembicaraan orang-orang di sekitar (padahal sudah pakai earphone), entah sedang pedekate, atau putus dengan pacar, atau masalah dengan orang tua, atau struggling dengan tugasnya, atau melihat fakta bahwa kadang seorang anak bahagia sesederhana hanya dengan dibelikan donat. Anyway, melihat beragam interaksi antar anak dan orang tuanya, membuat gue semakin yakin bahwa quality time antara anak dan orang tua itu perlu. Membangun hubungan anak dengan orang tua itu sesuatu yang, hmm apa ya, krusial menurutku sih. Mungkin kapan-kapan akan menulis tentang ini.

Sebenarnya masih banyak yang ingin gue ceritakan dari kejadian di sekitar.

Mungkin kita bisa ketemu kapan kapan di sana, wkwk

Semoga selalu bersyukur, semoga senantiasa mendapat pentunjuk!


Regards,
Ayu
yang masih
berusaha untuk
tidak terdistraksi



PS :

Hmm, sebenarnya mau memenuhi janji yang sudah banyak ditulis, tapi selalu saja ada alasan untuk tidak dilakukan....

Comments

  1. jadi sebenernya lo ekstrovert dong yuu karena butuh pengaruh luaaar (re:motivasi)? cmiiw

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaa, mungkin gitu sih ya, mil. atau mungkin aku ambivert atau pseudo-extrovert, wkwkwk.... kamu gimana kabarnyaa? pankapan aku mau ketemuu dongg, mau minta foto waktu nikahanmu, hehehe...

      Delete

Post a Comment