Skip to main content

28th

Feelings are much like waves,
we can't stop them from coming but we can choose which one to surf


Jadi, kali ini gue mau memenuhi salah satu dari sekian janji gue yang pernah gue tulis. Gue mau nulis tentang assortative mating, meskipun dengan tambahan hal-hal ngga penting, wkwk.

"Assortative mating is a mating pattern .... in which individuals with similar phenotypes mate with one another more frequently than would be expected under a random mating pattern."(wikipedia)

Jadi, beberapa waktu lalu, gue dapet insight di kelas kalau assortative mating itu juga punya pattern in economics, bukan hanya secara biologi atau psikologi.  Jadi katanya seseorang cenderung end up dengan mereka yang equal dan punya kesetaraan in terms of level pendidikan atau pekerjaan. Kemudian, gue ngga sengaja menemukan kalau hal ini pernah dibahas di salah satu buku Gary Becker, :A Treatise on The Family".

"efficient marriage market usually has positive assortative mating, where high-quality men are matched with high-quality women and low-quality men with low-quality women".

Hmm, agak jahat sih, tapi sepertinya benar juga. Kan katanya laki-laki yang baik akan dipertemukan dengan perempuan yang baik. Ternyata pun, setelah gue perhatikan, gue lebih sering menemukan orang-orang di sekitar gue menikah dengan mereka yang memiliki pendidikan atau pekerjaan yang levelnya ngga begitu jauh. Gue hampir ngga pernah menemukan kisah seperti Cinderella di kehidupan gue. Tapi bahkan Cinderella pun sebenarnya berasal dari kalangan bangsawan, jadi mungkin ia mengalami assortative mating juga.

By the way, gue juga mau cerita. Ngga penting sih sebenarnya. I don't know why, but these daysI hear a lot of love stories in my life. Mulai dari menunggu, diperjuangkan, meninggalkan, ditinggalkan, menikung, ditikung, bersatu, berpisah, bahkan menikah dengan seseorang yang bahkan tidak memiliki perasaan pada awalnya, just because she doesn't have any good reason to say no for the proposal.

Well, in real life, kadang ngga semua cerita bahagia. Gue banyak mendengar cerita tentang ditinggalkan tanpa alasan setelah sekian lama diberi harapan, atau meninggalkan setelah lama bersama, atau memiliki perasaan yang tak tersampaikan.

Tapi gini, menurut gue, kita memang ngga bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta, but we can manage our feeling. Gue kemarin ngga sengaja baca di timeline tentang romantically hopeless dan dikasih buku bagus oleh seorang teman, karangan Yasmin Mogahed. Menurut gue kedua hal itu bagus banget untuk dibaca mereka yang sedang apa ya me-manage perasaan (?). 

Hmm, gimana ya mulainya. Jadi, beberapa waktu lalu gue baca artikel yang mengingatkan untuk ngga mudah baper, wkwk.

"Most of us sering kali merasa baper...Apakah ini salah? Tentu tidak, manusiawi. Namun menurut saya, ini bisa menjadi masalah ketika kita tidak mampu mengontrol emosi.... Secara tidak sadar kita membangun harapan atau ekspektasi yang terlalu tinggi... dan ketika realitas muncul di depan mata, kita sering mengelaknya..... Padahal harapan itu memang tidak pernah ada sedari awal.... Things get awkward, you try to avoid him/her as much as possible and you end up being resentful...“So, how do we maintain our feelings?”...Perhaps you should try to re-evaluate your emotions more often. Ask yourself. Maybe you just like to enjoy the adrenaline of being in a future, imaginary relationship, but you actually don’t feel love, what you feel is just excitement of being with someone? You know yourself better than anyone else.... Just because they are nice to you, doesn't mean they want you to be all over them. Vice versa, just because you are nice to them, doesn’t mean they owe you a relationship. And when you realize about the fact that his/her feeling is not mutual, don't blame them for it....."

Tapi, perempuan kan pada dasarnya mudah baper. Hmm, maka itu katanya kan yang penting adalah mengontrol emosi. Easy said than done sepertinya, karena kadang seberapa pun berusaha, seberapa pun berpikir bahwa tidak masuk akal, nyatanya tiba-tiba merasa sesedih itu, dan bahkan kesal dengan diri sendiri karena merasa sangat vurnerable, merasa ngga bisa mengatur apa yang dirasakan, dan itu membuat semakin sedih meskipun sebenarnya secara sadar mengetahui kalau itu salah.

Lalu mulai berpikir untuk menghindar agar tidak semakin sedih. Kan katanya kebahagiaan adalah tanggung jawab diri masing-masing, jadi mungkin boleh egois untuk menghindari penyebab ke-tidak-bahagiaan. Tapi itu salah ngga sih? Bahkan membuat gue jadi bertanya-tanya, apakah dengan menghindar berarti berbuat tidak adil? Karena bisa jadi dengan menghindar berarti mengurangi kebaikan yang mungkin menjadi hak nya. Kan katanya jangan karena kebencian kita terhadap suatu kaum (seseorang), membuat kita menjadi berlaku zalim.

Jadi, gue rasa perasaan sedih, vurnerable, atau apapun itu adalah cara Tuhan untuk mengingatkan bahwa Ia lebih berkuasa, termasuk perihal perasaan. Karena pada dasarnya manusia memang begitu lemah. Maka mungkin yang harus dilakukan adalah mengembalikannya kepada Tuhan, pemilik segalanya. Ini yang diingatkan dari bukunya Yasmin Mogahed, "Reclaim Your Heart".

"And so there are some who spend their whole lives seeking. Sometimes giving, sometimes taking. Sometimes chasing, but often, just waiting. They believe that love is a place that you get to: a destination at the end of a long road. And they can’t wait for that road to end at their destination. They are those hearts moved by the movement of hearts. Those hopeless romantics, the sucker for a love story, or any sincere expression of true devotion. For them, the search is almost a lifelong obsession of sorts. But, this tragic ‘quest’ can have its costs—and its gifts. The path of expectations and the ‘falling in love with love’ is a painful one, but it can bring its own lessons. Lessons about the nature of love, this world, people, and one’s own heart, can pave this often painful path. Most of all, this path can bring its own lessons about the Creator of love."

Entah sih, karena mungkin sesungguhnya ngga ada yang sepenuhnya benar dengan bertahan atau meninggalkan atau berjuang atau menyerah atau menghindar atau apapun keputusan yang mungkin dilakukan. Tapi mungkin yang terpenting adalah untuk berusaha tidak berbuat zalim, untuk tidak pergi tanpa penjelasan, untuk tidak memutus pertemanan tanpa alasan, misalnya. Meskipun, gue yakin, setiap kejadian pun akan memiliki cerita nantinya.

Dan ya, masing-masing punya hak untuk bahagia, regardless apakah menjadi bagian dari bahagianya atau tidak. Karena dalam perjalanannya, ngga ada yang bisa memastikan hati yang dimiliki manusia, ya kan? Well said, setiap orang adalah milik Tuhan Yang Maha Kuasa, begitu pula dengan perasaan yang dimilikinya dan Ia adalah Maka Pembolak-Balik Hati Manusia.

Jadi, berharap pada Allah, jangan berharap sama manusia, hehehe.


Regards,
Ayu yang sedang
me-manage perasaan (?)
wkwk



PS:

Actually, I am in the middle of exams, hiks. Jadi, ku mohon doanya! Semoga tercapai semua yang diharapkan :')

Comments