Skip to main content

40th

another post about personality-things.


Jadi, kemarin gue baru tau gitasav menikah, dan itu bikin gue jadi visit youtube channel-nya dan baca blog nya lagi, termasuk nonton video beropini-nya. Btw, "a letter to myself" yang gue tulis sebelumnya bukan bermaksud untuk mereplikasi apa yang dibuat oleh gitasav. Draft-nya sebenarnya sudah cukup lama gue buat, yang tujuannya untuk menyemangati gue, karena akhir-akhir ini rasanya butuh semangat, haha.

Seperti yang pernah gue bilang, gue selalu penasaran dengan berbagai sudut pandang orang lain dan ini bikin gue seneng baca blog atau nonton opini or articles or other talks. Setelah gue perhatikan, gue baru menyadari kalau gitasav dan afutami punya sisi kemiripan, mereka berdua punya blog, ngga segan untuk berpendapat, dan bahagianya mereka punya pasangan yang seru untuk diajak diskusi, dan gue (masih) senang melihat opini mereka. Oh ya, bahkan wedding theme mereka mirip (oke, lupakan, ngga penting).

Karena gue punya rasa keingintahuan yang tinggi, gue kemudian mencari tau tentang mereka. Gue merasa sudut pandang mereka agak mirip, selain juga karena gue merasa mereka kadang terkesan paling benar. Then, I found out that Gitasav is an INTJ, while Afutami is an INTP, both are I-N-T type person. Okay, that's the reason why dan gue ngga kaget sih. Tapi sejujurnya, ini membuat gue takut, karena gue merasa memiliki kemiripan sudut pandang dengan mereka. Apa itu berarti gue juga terkesan paling benar sedunia? Apa tulisan gue, cara gue berpendapat, mengesankan kalau gue sok tau? Am I one of a kind of dominated person? Do I look that heartless?

Sejujurnya ngga punya niat untuk nulis tentang personality things (lagi), tapi terus kepikiran dan membuat gue explore tentang ini lagi. Gue ngga mau meng-kotak-kotak-kan orang lain. I know that people can change, and they do change. Gue hanya perlu pendekatan yang agak cukup rasional yang membantu gue memahami diri gue, dan memahami orang lain, dan menurut gue sejauh ini MBTI cukup membantu gue. 

If you read my older post, gue pernah cerita kalau hasil dari personality test yang gue lakukan menginfokan kalau gue INTJ, yang ternyata cukup rare dan katanya hanya ada sekitar kurang dari 1% di dunia. Ini membuat gue memahami mengapa kadang gue merasa berbeda, dan somehow spesial, yang membuat gue merasa berhak perlu dipahami orang lain. Itu  sebelum gue baca The Subtle Art of Not Giving a F*ck: A Counterintuitive Approach to Living a Good Life yang pernah gue review sebelumnya. Buku ini kemudian membuat gue menyadari kalau gue ngga berhak merasa spesial dan bukan berarti karena personality ini juga maka lantas membenarkan gue untuk men-judge orang lain. Misalnya, sisi thinking gue memang cukup mendominasi, tapi itu bukan berarti gue lebih pintar, atau sisi feeling gue memang inferior, tapi itu bukan berarti gue se-heartless itu. Ini hanya gimana gue memproses informasi dan gimana akhirnya gue membuat keputusan, for doing something or not doing something. 

Ini juga adalah akumulasi setelah beberapa waktu terakhir gue terlibat dalam beberapa "deep" conversation tentang this kind of personality-things, dan bagaimana cara gue melihat kehidupan, yang mana pasti ngga bisa dipaksakan untuk sama dengan orang lain. Ini membuat gue masih bertanya-tanya sampai sekarang, apa gue perlu berubah dan jika ya, sejauh mana?

Selain INTJ, gue juga liberal. Gue pernah cerita kalau gue cenderung liberal, dan ini kemudian terlihat juga dari hasil kuis di idrlabs.com yang di-share oleh salah seorang teman, haha. Hasilnya, preferensi politik gue adalah liberalisme-kiri. Jadi katanya individu di kuadran ini berusaha menjunjung kebebasan individu sekaligus membebankan pajak pada pasar untuk memberikan manfaat sosial bagi mereka yang membutuhkan. Mereka cenderung menganggap diri sendiri tengah mencari keseimbangan antara kebebasan individu dan keadilan sosial, serta mendukung multikulturalisme, pemerintah sekuler, dan kerja sama internasional. Meskipun pada umumnya mereka skeptis terhadap keterlibatan negara dalam urusan sosial, mereka mengakui peran negara yang sah dalam memberantas diskriminasi dan menjamin perlakuan yang sama. 

Ini membuat gue berpendapat kalau semua orang berhak untuk melakukan apapun yang ingin mereka lakukan, selama itu bukan kejahatan, ngga melanggar hak asasi orang lain, ngga mengganggu ketertiban umum, dan terutama ngga mengganggu gue. Gue biasanya akan sangat keberatan ketika apa yang mereka lakukan mengganggu sisi pribadi gue, mengintervensi diri gue. Gue respect terhadap keputusan tindakan mereka, dan gue harap mereka juga bisa melakukan hal yang sama.  Gue merasa kalau "toleransi" yang gue berikan dengan pola pikir gue ini sudah cukup baik, dan ngga jadi masalah. Gue pikir dengan stand point gue ini, gue bukan seseorang yang keras kepala karena gue bisa menerima berbagai keputusan orang lain yang berbeda dari gue.

Tapi kemudian, setelah gue ngobrol, gue sadar kalau gue ngga sepenuhnya benar (dan mungkin ngga sepenuhnya salah). Jadi, ada sesuatu yang mungkin lack di pikiran gue, tentang compromise, tentang mempertemukan dua keinginan, tentang "mengalah untuk kebaikan". Ini karena gue merasa "ini urusan gue, dan toh gue ngga ikut campur urusan orang lain, jadi gue berhak melakukan apapun yang gue lakukan". Hal kecil misalnya, gue akan tetap memilih A, meskipun yang lain memilih B hanya untuk menghindari "ngga berbeda", atau gue akan lebih memilih pulang sendiri, dibandingkan saling menunggu hanya untuk menghindari "ngga sendirian", karena menurut gue itu berarti gue menghargai dia, dan dia menghargai gue untuk ngga saling memaksakan kehendak, atau ngga saling membuat menunggu. 

Tapi katanya, "Oke, ketika mereka ngga mengganggu kamu, dan kamu ngga mengganggu mereka, lalu apa itu berarti menghindarkan kamu untuk berbuat lebih baik. Misalnya, ketika ada ibu yang ngga ngurus anaknya, hanya kerena mereka ngga mengganggu kamu dan kamu ngga ingin mengganggu mereka, apa itu berarti kamu ngga menasihati ibu itu, membuat kamu ngga mengingatkan dalam kebaikan misalnya?"

Then, I innocently said "No, if they don't ask me". Gue merasa mereka punya hak untuk melakukan apapun yang mereka lakukan, dan gue ngga berhak untuk mengintervensi, yang gue bisa lakukan cuma ngasih info, tapi bukan untuk sok "menasihati", dan terutama memaksa mereka. 

Tapi nyatanya, "toleransi" semacam itu ngga cukup...

Menurut gue, setiap orang akan punya pendapat dan sudut pandang berbeda. Toh, gue ngga menuntut orang lain untuk setuju sama gue, dan menurut gue, mereka juga ngga berhak membuat gue setuju sama mereka. Lalu, gue berpikir, apa salah kalau gue disagree, tetap berada pada pendapat gue, dan berada pada sisi berbeda. Memiliki pendapat berbeda, atau sudut pandang berbeda, bukan berarti ngga bisa jalan bareng kan, bukan berarti ngga teman lagi kan? 

"Berarti kamu juga memaksakan kehendakmu terhadap orang lain untuk sama dengan value kamu. And it means you are selfish, headstrong, a defensive one. Because sometimes, "a yes" will bring so much better situation, even though you disagree. If you can't compromise, lalu apa bedanya dengan hidup sendiri?" katanya.  

See? 

I do compromise, sometimes. Tapi gue bukan seseorang yang bisa seketika itu juga untuk setuju. Gue mengkonsiderasi pendapat orang lain, kok. I really do that. Gue juga sama sekali ngga masalah terhadap mereka yang punya pandangan berbeda, termasuk life value, preferensi politik, atau apapun itu.  Tapi, gue juga punya preferensi, gue punya pertimbangan, dan gue merasa gue berhak atas keputusan apapun yang nantinya gue ambil, yang gue harap juga bisa dipertimbangkan.

This is bothering me, somehow. Gue takut banget sejujurnya, ketika gue harus selalu berkata "yes",  ketika gue dianggap berdosa jika berkata tidak, dan gue ngga bisa membayangkan untuk itu. 

Sebenarnya gue sangat berharap stand point gue ngga menjadikan gue terkesan feminis, atau mendominasi, atau apapun label yang diberikan. Gue hanya hanya perlu dihargai, dan mungkin diberikan kebebasan. 

But this me, this is my personality traits. 
Lalu, apa menurutmu gue perlu berubah?



Regards,
Ayu,
yang masih mencoba
memahami diri sendiri



PS: 
Terus jadi mikir pasti seru banget ketemu seseorang yang bisa diajak diskusi sepanjang hidup, hehee :')

Comments