Gue Setelah 3 Tahun Lulus Kuliah
Jadi, gue mau ngikutin post nya sam maulana (salah satu blogger favorit gue, haha), tentang Gue & Teman-Teman Setelah 3 Tahun Lulus Kuliah. Bahkan ini sampai dibuat part dua nya, Berani Bermimpi, Ini Kehidupan Kami Setelah 3 Tahun Lulus Kuliah (Part 2). Ngga deng, bercandaa, hahaa.
Tapi, memang sudah tiga tahun pasca wisuda (kalau ngga salah sih di tanggal ini), dan masih ngga nyangka sejujurnya ternyata waktu berlalu secepat itu. Meskipun katanya ngga penting, tapi gue masih ingat ketika diarak dan jadi fakultas yang terakhir datang, padahal lokasinya paling dekat, haha. Dan nyatanya, masih ingat juga ketika melihatnya berdiri di pintu balairung, dengan kameranya, dan entah mengapa tanpa sengaja ternyata menunggu giliran foto yang sama, dan kemudian melihatnya bersama kekasihnya (yang sekarang menjadi istrinya), wkwkwk.
Jadi, selama tiga tahun ini apa saja yang terjadi? Beberapa mungkin sudah gue ceritakan di post gue sebelumnya, dan mungkin ini jadi repeat post.
Well, ya, salah satunya adalah I've been through the lowest point of my life, saat gue (mungkin) mengalami quarter life crisis. Sebenarnya, sharing hal ini hanya untuk refleksi diri sih, dan mungkin mencoba memberikan sudut pandang yang lain.
Terus gimana gue menghadapinya?
Mungkin jawabannya terdengar klise, tapi gue rasa semua karena pertolongan Tuhan yang memang Maha Baik, dan gue rasa gue sangat beruntung memiliki keluarga yang mendukung gue (dan tentunya mendoakan gue).
Mungkin saat itu mereka ngga tau kalau gue berada pada kondisi yang seburuk itu. Gue merasa tertekan dengan diri gue sendiri, gue menyalahkan diri gue, gue takut banget punya keinginan dan takut membuat keputusan. Gue sejujurnya ngga bisa membayangkan kalau orang-orang di sekitar juga melakukan hal yang sama terhadap diri gue, yang mungkin akan memperburuk keadaan gue. Tapi, gue sangat bersyukur hal itu ngga terjadi, gue bersyukur gue berada di lingkungan di mana gue bisa mengobrol dengan nyaman, dan gue rasa itu salah satu hal yang paling penting bagi seseorang yang mengalami masalah, atau mungkin krisis.
Mungkin saat itu mereka ngga tau kalau gue berada pada kondisi yang seburuk itu. Gue merasa tertekan dengan diri gue sendiri, gue menyalahkan diri gue, gue takut banget punya keinginan dan takut membuat keputusan. Gue sejujurnya ngga bisa membayangkan kalau orang-orang di sekitar juga melakukan hal yang sama terhadap diri gue, yang mungkin akan memperburuk keadaan gue. Tapi, gue sangat bersyukur hal itu ngga terjadi, gue bersyukur gue berada di lingkungan di mana gue bisa mengobrol dengan nyaman, dan gue rasa itu salah satu hal yang paling penting bagi seseorang yang mengalami masalah, atau mungkin krisis.
Tentang masa lalu. Tentang bagaimana gue selalu mempertanyakan keinginan gue.
Gue dulu pengen banget jadi dokter, bahkan sempat bermimpi jadi dokter setelah gue istikharah, haha. Gue dulu memilih jurusan yang membuat gue ngga didepan komputer, atau banyak menghitung, bukan karena gue menghindari matematika, tapi karena gue pengen punya profesi yang punya impact langsung ke orang lain. Tapi gue kemudian selalu gagal, hingga akhirnya gue menyadari bahwa gue mungkin ngga akan sekuat itu menjadi tenaga kesehatan. Nyatanya, gue menemukan ketertarikan di sisi yang lain, yang (mungkin) lebih menyenangkan, sesuatu yang dulu gue hindari. Gue sempat berpikir bagaimana jika gue dulu tetap bersikeras dengan keinginan gue, dan sejujurnya itu membuat gue takut.
Berbagai kejadian dalam hidup gue kemudian membuat gue ragu atas keinginan gue. Seringnya gue menemui keadaan di mana nyatanya gue menyukai sesuatu tetapi kemudian gagal, atau nyatanya tidak sesuai harapan, atau bahkan nantinya ngga gue inginkan lagi, membuat gue sebegitu takutnya punya keinginan, takut berekspektasi, takut kecewa.
Kenapa sesuatu yang gue inginkan pada awalnya ternyata tidak benar benar gue inginkan nantinya. Kenapa gue hampir selalu gagal dengan apa yang gue harapkan. Kenapa gue menghadapi kejadian yang ternyata berhubungan dengan keinginan gue di masa lalu, yang kemudian nyatanya ngga benar benar gue harapkan saat ini. Gue teringat dengan salah satu quote dari buku yang gue baca ketika SMA setelah gue gagal di setiap ujian masuk kedokteran, "Terkadang kita ditakdirkan untuk tidak menginginkan apa pun yang kita minta setelah kita mendapatkannya" (The Akhenaten Adventure).
Bahkan, QS. Al-Baqarah: 216 menjadi sesuatu yang sangat membuat gue takut saat itu. Gue sempat mempertanyakan kenapa Tuhan membuat manusia menderita dengan keinginan mereka yang ternyata tidak baik baginya, kenapa Tuhan ngga membuat manusia menyukai apa yang menjadi takdirnya dan pasti baik baginya (atau menjatuhkan hati kepada seseorang yang juga pasti memiliki perasaan yang sama, haha). Jadi manusia ngga perlu kecewa, manusia ngga perlu sedih.
Tapi kemudian, gue menyadari kalau hidup ngga selalu bisa seperti yang gue inginkan. Hidup memang penuh risiko dan ngga semuanya berjalan lancar. Setiap rencana apapun yang dimiliki, mungkin ngga bisa selalu berhasil, dan iya, kegagalan dan penolakan memang harus dihadapi. Mungkin itu cara Tuhan untuk mengingatkan bahwa Ia Maha Kuasa dan manusia begitu lemah, dan butuh kekuatan dari-Nya.
Mungkin nasihat untuk mendekatkan diri pada Tuhan, menjadi sesuatu yang klise dan tidak memberikan dampak yang signifikan. Tapi mungkin yang memang perlu dilakukan adalah memiliki keyakinan, terutama kepada-Nya. Seperti yang pernah gue baca di salah satu buku Mitch Albom, "Have a Little Faith". Bahwa, memiliki keyakinan itu, somehow, memberikan kekuatan, untuk berjuang, untuk hidup lebih baik, untuk dapat bahagia, untuk lebih bersyukur. Bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, dan kelak pasti akan kembali kepada Yang Maha Kuasa. Tapi, selama hidup di dunia, mau berbuat apa.
Regards,
Ayu,
setelah tiga tahun
pasca wisuda
PS:
Hmm, sebenarnya sedang mempertimbangkan untuk membuat tulisan gue di blog di protect...
Gue dulu pengen banget jadi dokter, bahkan sempat bermimpi jadi dokter setelah gue istikharah, haha. Gue dulu memilih jurusan yang membuat gue ngga didepan komputer, atau banyak menghitung, bukan karena gue menghindari matematika, tapi karena gue pengen punya profesi yang punya impact langsung ke orang lain. Tapi gue kemudian selalu gagal, hingga akhirnya gue menyadari bahwa gue mungkin ngga akan sekuat itu menjadi tenaga kesehatan. Nyatanya, gue menemukan ketertarikan di sisi yang lain, yang (mungkin) lebih menyenangkan, sesuatu yang dulu gue hindari. Gue sempat berpikir bagaimana jika gue dulu tetap bersikeras dengan keinginan gue, dan sejujurnya itu membuat gue takut.
Berbagai kejadian dalam hidup gue kemudian membuat gue ragu atas keinginan gue. Seringnya gue menemui keadaan di mana nyatanya gue menyukai sesuatu tetapi kemudian gagal, atau nyatanya tidak sesuai harapan, atau bahkan nantinya ngga gue inginkan lagi, membuat gue sebegitu takutnya punya keinginan, takut berekspektasi, takut kecewa.
Kenapa sesuatu yang gue inginkan pada awalnya ternyata tidak benar benar gue inginkan nantinya. Kenapa gue hampir selalu gagal dengan apa yang gue harapkan. Kenapa gue menghadapi kejadian yang ternyata berhubungan dengan keinginan gue di masa lalu, yang kemudian nyatanya ngga benar benar gue harapkan saat ini. Gue teringat dengan salah satu quote dari buku yang gue baca ketika SMA setelah gue gagal di setiap ujian masuk kedokteran, "Terkadang kita ditakdirkan untuk tidak menginginkan apa pun yang kita minta setelah kita mendapatkannya" (The Akhenaten Adventure).
Tapi kemudian, gue menyadari kalau hidup ngga selalu bisa seperti yang gue inginkan. Hidup memang penuh risiko dan ngga semuanya berjalan lancar. Setiap rencana apapun yang dimiliki, mungkin ngga bisa selalu berhasil, dan iya, kegagalan dan penolakan memang harus dihadapi. Mungkin itu cara Tuhan untuk mengingatkan bahwa Ia Maha Kuasa dan manusia begitu lemah, dan butuh kekuatan dari-Nya.
Mungkin nasihat untuk mendekatkan diri pada Tuhan, menjadi sesuatu yang klise dan tidak memberikan dampak yang signifikan. Tapi mungkin yang memang perlu dilakukan adalah memiliki keyakinan, terutama kepada-Nya. Seperti yang pernah gue baca di salah satu buku Mitch Albom, "Have a Little Faith". Bahwa, memiliki keyakinan itu, somehow, memberikan kekuatan, untuk berjuang, untuk hidup lebih baik, untuk dapat bahagia, untuk lebih bersyukur. Bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, dan kelak pasti akan kembali kepada Yang Maha Kuasa. Tapi, selama hidup di dunia, mau berbuat apa.
Meski kadang masih terbersit pertanyaan tentang masa depan, tapi yang terpenting menjalani saat ini sebaik-baiknya, kan?
I know that I am so much stronger now, hopefully. Gue masih sangat berusaha untuk dapat hidup lebih baik, in any terms, untuk lebih bermanfaat, untuk lebih mensyukuri hidup, untuk lebih menghargai diri sendiri, lebih menghargai orang lain. Karena gue masih selalu percaya bahwa setiap orang pasti punya peran di alam semesta ini.
Hidup itu menyenangkan, dikelilingi orang-orang baik itu membahagiakan.
Jadi, semangat untukmu yang mungkin berada dalam kegelisahan. Mari berjuang sampai tidak bisa lagi berjuang. Karena semua orang berhak untuk menjadi bahagia, dan menjadi bahagia perlu diperjuangkan.
Maukah menemani gue berjuang menjalani saat ini?
I know that I am so much stronger now, hopefully. Gue masih sangat berusaha untuk dapat hidup lebih baik, in any terms, untuk lebih bermanfaat, untuk lebih mensyukuri hidup, untuk lebih menghargai diri sendiri, lebih menghargai orang lain. Karena gue masih selalu percaya bahwa setiap orang pasti punya peran di alam semesta ini.
Hidup itu menyenangkan, dikelilingi orang-orang baik itu membahagiakan.
Jadi, semangat untukmu yang mungkin berada dalam kegelisahan. Mari berjuang sampai tidak bisa lagi berjuang. Karena semua orang berhak untuk menjadi bahagia, dan menjadi bahagia perlu diperjuangkan.
Maukah menemani gue berjuang menjalani saat ini?
Regards,
Ayu,
setelah tiga tahun
pasca wisuda
PS:
Hmm, sebenarnya sedang mempertimbangkan untuk membuat tulisan gue di blog di protect...
Comments
Post a Comment