Whatever she had found, it made her a better person. Maybe that's what love was, finding the person who brings out the best in you.
I need to make myself keep sane, haha. Jadi, akhir-akhir ini lagi sering nonton web series, haha. Mulai dari Nic & Mar yang sudah lama banget sampai Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode yang paling baru. Padahal, dulu sudah disarankan untuk nonton Sore Istri dari Masa Depan, tapi entah kenapa baru sekarang dilakukan. Terkesan cheesy ya, tapi bagus kok. Oke, jadi gue mau review web series yang menurut gue worth untuk ditonton.
Nic & Mar
Gue suka banget script dialog-nya. Agak berat sih, tapi ngalir, ngga lebai, ngga terkesan dibuat-buat, dan yang seru, bikin mikir, haha.
Sore Istri dari Masa Depan
Soundtrack-nya juara sih menurut gue, I'm gazing the way you move from far and I'll find you wherever you go.
Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode
Alur ceritanya bagus menurut gue, agak ngga masuk akal, tapi life value-nya oke banget. Salah satu film yang entah kenapa bikin gue sampai nangis, hahaa.
Semuanya memang tentang romansa, yang beraneka rupa. Karena iya, cerita setiap orang berbeda, dan ini kemudian bikin gue jadi mikir banyak, haha.
Jadi, waktu nonton Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode, gue jadi inget cerita seseorang yang putus karena salah satu-nya merasa ngga punya perasaan sejak awal, setelah hmm, lebih dari dua tahun bersama, di usia yang ngga lagi remaja. Sakit sih kayanya yaa. Awalnya gue mikir, kok bisa, terus selama ini dianggap apa. Tapi, gue kemudian sadar, that's life though, dan ya people change, so does feeling.
Lalu, Nic & Mar, ketika masing-masing memiliki perasaan, tapi ngga bersama, karena ego masing-masing atau mungkin keadaan. Ini kemudian membuat gue teringat tentang cerita seseorang yang sampai saat ini ngga bersama padahal gue rasa mereka saling memiliki perasaan, tapi masing-masing juga punya ego yang besar. Ini juga yang awalnya membuat gue merasa Dilan itu ngga masuk akal, karena akhirnya ngga bersama padahal memiliki perasaan yang sama. Gue tau gue cukup egois, dan ini membuat gue mikir, apa ngga bisa bersama ketika masing-masing punya mimpi yang berbeda, atau punya preferensi berbeda, atau cara pandang yang berbeda. Katanya mungkin akan melelahkan karena akan ribut terus, jadi lebih baik ngga bersama. Again, that's life, a real one.
Dan diantara yang lain, Sore Istri dari Masa Depan mungkin yang paling ideal (dan mungkin diharapkan bagi kebanyakan orang). Gue udah sering banget mendengar tentang memperbaiki diri untuk bertemu dengan seseorang yang baik. Tapi, gue juga kadang menemui keadaan di mana bertemu dengan seseorang bisa membuat orang lain berubah, dan mungkin menjadi lebih baik. Padahal mungkin sesuatu yang perlu diubah itu sudah berulangkali dikatakan orang lain disekitarnya. Mungkin, ini definisi menjadi lebih baik yang hakiki. Semacam saling membutuhkan untuk menjadi lebih baik sama-sama.
Awalnya gue terlalu naif menganggap kalau masalah perasaan ini sederhana. You have feeling, she/he has feeling, you both have reciprocate feeling, then you just can be together, happily ever after. Tapi, nyatanya ngga sesederhana itu, ke-tidak-cocok-an itu nyata, dan perasaan itu bisa berubah. Mungkin, terkadang seseorang perlu jatuh dan sakit. Mungkin saja, sebuah perasaan belum cukup, mungkin yang juga penting adalah dibutuhkan, dihargai, lower the ego tanpa merasa dikorbankan.
Tapi, ketika bertemu dengan seseorang, yang dengannya kamu berubah menjadi lebih baik, itu sebuah anugerah sih menurut gue. Meskipun, pada akhirnya mungkin ngga bersama, tapi seenggaknya patut disyukuri pernah bertemu dengannya.
Yang jelas sih, mungkin gimana takdir Tuhan, ya ngga?
Regards,
Ayu,
wishing to be
found, hehe
PS:
Ketika perjalanan perasaan menjadi contoh di kelas untuk fase diagram dari dynamic condition yang menuju konvergensi/divergensi, itu agak creepy sih but that's absolutely okay, hahaa.
Nic & Mar
Gue suka banget script dialog-nya. Agak berat sih, tapi ngalir, ngga lebai, ngga terkesan dibuat-buat, dan yang seru, bikin mikir, haha.
Sore Istri dari Masa Depan
Soundtrack-nya juara sih menurut gue, I'm gazing the way you move from far and I'll find you wherever you go.
Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode
Alur ceritanya bagus menurut gue, agak ngga masuk akal, tapi life value-nya oke banget. Salah satu film yang entah kenapa bikin gue sampai nangis, hahaa.
Semuanya memang tentang romansa, yang beraneka rupa. Karena iya, cerita setiap orang berbeda, dan ini kemudian bikin gue jadi mikir banyak, haha.
Jadi, waktu nonton Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode, gue jadi inget cerita seseorang yang putus karena salah satu-nya merasa ngga punya perasaan sejak awal, setelah hmm, lebih dari dua tahun bersama, di usia yang ngga lagi remaja. Sakit sih kayanya yaa. Awalnya gue mikir, kok bisa, terus selama ini dianggap apa. Tapi, gue kemudian sadar, that's life though, dan ya people change, so does feeling.
Lalu, Nic & Mar, ketika masing-masing memiliki perasaan, tapi ngga bersama, karena ego masing-masing atau mungkin keadaan. Ini kemudian membuat gue teringat tentang cerita seseorang yang sampai saat ini ngga bersama padahal gue rasa mereka saling memiliki perasaan, tapi masing-masing juga punya ego yang besar. Ini juga yang awalnya membuat gue merasa Dilan itu ngga masuk akal, karena akhirnya ngga bersama padahal memiliki perasaan yang sama. Gue tau gue cukup egois, dan ini membuat gue mikir, apa ngga bisa bersama ketika masing-masing punya mimpi yang berbeda, atau punya preferensi berbeda, atau cara pandang yang berbeda. Katanya mungkin akan melelahkan karena akan ribut terus, jadi lebih baik ngga bersama. Again, that's life, a real one.
Dan diantara yang lain, Sore Istri dari Masa Depan mungkin yang paling ideal (dan mungkin diharapkan bagi kebanyakan orang). Gue udah sering banget mendengar tentang memperbaiki diri untuk bertemu dengan seseorang yang baik. Tapi, gue juga kadang menemui keadaan di mana bertemu dengan seseorang bisa membuat orang lain berubah, dan mungkin menjadi lebih baik. Padahal mungkin sesuatu yang perlu diubah itu sudah berulangkali dikatakan orang lain disekitarnya. Mungkin, ini definisi menjadi lebih baik yang hakiki. Semacam saling membutuhkan untuk menjadi lebih baik sama-sama.
Awalnya gue terlalu naif menganggap kalau masalah perasaan ini sederhana. You have feeling, she/he has feeling, you both have reciprocate feeling, then you just can be together, happily ever after. Tapi, nyatanya ngga sesederhana itu, ke-tidak-cocok-an itu nyata, dan perasaan itu bisa berubah. Mungkin, terkadang seseorang perlu jatuh dan sakit. Mungkin saja, sebuah perasaan belum cukup, mungkin yang juga penting adalah dibutuhkan, dihargai, lower the ego tanpa merasa dikorbankan.
Tapi, ketika bertemu dengan seseorang, yang dengannya kamu berubah menjadi lebih baik, itu sebuah anugerah sih menurut gue. Meskipun, pada akhirnya mungkin ngga bersama, tapi seenggaknya patut disyukuri pernah bertemu dengannya.
Yang jelas sih, mungkin gimana takdir Tuhan, ya ngga?
Regards,
Ayu,
wishing to be
found, hehe
PS:
Ketika perjalanan perasaan menjadi contoh di kelas untuk fase diagram dari dynamic condition yang menuju konvergensi/divergensi, itu agak creepy sih but that's absolutely okay, hahaa.
Comments
Post a Comment