My advice to you is to study the great writer of Political Economy, and hold firmly by whatever in them you find true; and depend upon it that if you are not selfish or hardheaded already, Political Economy will not make you so (Mill, 1867 in Mankiw)
Hmm, sudah lebih kurang seminggu setelah gue masuk lagi. Lalu, apa kabar? Gue rasa gue makin gila, haha. Semakin gue belajar lebih jauh, semakin gue sadar kalau apa yang gue pelajari itu abu-abu, dengan berbagai macam sudut pandang. Seru sih, tapi kalau benar-benar dipikirkan, mungkin akan benar-benar jadi gila, hahaa.
Tapi, gue senang. Gue senang tau banyak hal, terutama yang berhubungan dengan kehidupan manusia, dan alhamdulillah bisa gue temui ketika gue belajar disini selama ini.
Seminggu terakhir ini membuat gue berpikir kalau economics itu erat kaitannya dengan politik dan sejarah, terutama karena kebijakan yang dikeluarkan, yang (mungkin) mempengaruhi hidup orang banyak. Lebih lagi, dengan masalah nilai tukar rupiah, yang pasti akan ada campur tangan politik.
Tentang political economy.
Jadi beberapa waktu lalu sempat baca artikel di medium tentang research analysis of political economy kenapa ahok kalah, yang mana bukan semata-mata karena "menistakan agama", tapi lebih karena ketidakberpihakannya pada kaum miskin kota.
Seperti biasa, gue kemudian kepo dengan penulisnya, haha. Background penulisnya adalah politics, yang kemudian melanjutkan ke economics. Berujunglah gue dengan menemukan blog-nya, dan iseng baca-baca. Gue kemudian ngga sengaja melihat salah satu post yang membahas tentang kejadian kartu kuning, kalau kamu pernah tau, yang ternyata pernah gue baca juga dulu ketika kejadian itu cukup membuat ribut media sosial, haha.
Jadi, di sana gue menemukan sebuah quote yang menurut gue oke.
"Berdasar pada ilmu yang saya dalami, ada baiknya sudah dari awal kita memandang bahwa setiap orang bersifat self-interest. Dalam ekonomi politik, hal ini penting untuk menempatkan bahwa seorang individu dalam tindakan politiknya, seperti dalam kegiatan ekonomi, berniat untuk memuaskan dirinya, apapun itu bentuknya. Dalam istilah ekonomi, setiap individu akan mengambil langkah yang dianggap paling memenuhi utility-nya. Pada poin itu, ekonomi politik tidak berada pada tataran normatif atau moral dalam menilai apakah kepentingan itu baik atau buruk. Pada intinya semua orang memiliki kepentingan masing-masing dan urusan kita bukan pada membuktikan apa kepentingan itu. Dan tulisan inipun tidak ingin masuk pada tataran pengandaian akan definisi maupun kerangka motif si aktor. Hal yang ingin difokuskan adalah bahwa aksi yang dilakukan adalah pilihan rasional yang dapat memenuhi kepentingan pribadinya (Edbert Gani),"
Sisanya sih, gue masih belum bisa memutuskan setuju atau ngga, haha.
Seperti yang pernah gue bilang, kalau sejujurnya gue ngga tertarik dengan afiliasi politik tertentu. Karena iya, semua hanya untuk memaksimalkan kepentingan masing-masing, kan? Meskipun gue kadang masih ngikutin, gue sebenarnya cukup skeptis dengan politik, karena yang selama ini gue liat, dari mulai politik sekolah waktu SMA, politik kampus, sampai politik negara, membuat gue merasa kalau politik itu ya cuma memaksimalkan kepentingannya. Lebih lagi, beberapa orang yang gue tau tiba-tiba masuk politik dan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, dan itu membuat gue ragu.
Salah satunya, teman gue yang tiba-tiba jadi calon legislatif. Maksud gue, gue ngga bisa bayangin sih, karena gue ngerasa di usia gue sekarang, gue masih belum tau apa apa tentang masalah sesungguhnya masyakarat Indonesia, harapan mereka, gimana caranya bisa memaksimalkan welfare masyarakat tanpa menurunkan welfare sekelompok orang misalnya, yang menurut gue butuh banyak pengalaman dan rekam jejak, melalui riwayat pekerjaan misalnya. Lalu juga, mantan ketua BEM ketika gue kuliah dulu juga masuk politik dan tiba-tiba jadi ahli ekonomi di twitter. Dulu salah satu teman gue jadi tim sukses beliau ketika pemilihan ketua BEM, yang membuat gue terpapar dengan perkembangannya, dan berlanjut sampai sekarang. Lalu satu lagi, alumni fakultas yang dulu jadi calon ketua BEM fakultas, lalu kalah dan kemudian jadi kepala kajian strategis yang dulu sering demo pemerintah. Karena beliau alumni SMA 8, dan sempat jadi narasumber ILC tentang budgeting pemprov DKI, membuatnya lumayan terkenal. Nah, gue jadi ngga ngeliat seseorang itu maju jadi calon legislatif tulus untuk membuat Indonesia lebih baik. Gue ngerasa kalau motivasi menjadi calon legislatif kemudian kabur dengan keinginan mereka menang, atau memenangkan partainya. Iya, memenangkan partainya, memenuhi kepentingannya. Sick banget sih menurut gue,
Padahal, kemarin ayah gue nyaranin untuk ambil topik tentang publik-political economics, tentang pemilu, tapi kok kayanya gimana gitu, huft.
Lalu, kamu mau jadi apa?
Maunya jadi nutritional economist, hehee :")
Mohon doanya semoga lancar dengan topik yang sekarang, hahaa,
Regards,
Ayu,
yang sebenarnya
masih skeptis
sama politik
PS:
Gue lagi ingin misuh misuh gegara tadi ada yang parkir paralel yang bikin gue ngga bisa keluar padahal hari sudah menjelang malam, dan kesel banget karena mobilnya amat sangat berat. Mobil yang sama, yang dulu juga parkir paralel dan bikin gue sulit keluar. Wahai mereka yang punya mobil yang besar dan berat, tidakkah kalian menyadari kalau kalian parkir paralel itu sangat merepotkan orang lain? Terpujilah bapak satpam yang mau bantuin dorong dengan ikhlas. Semoga kebaikannya di balas Tuhan :)
Seru yu!
ReplyDeleteIyaa, mil. Kind of a nice thing to know abt it. Apalagi kalau pernah denger tentang political budget cycle dan medium voters theorem. Bikin makin skeptis sama politik, hahaa.
Delete