Skip to main content

44th

There is opportunity cost to everything, and you can't have it all
(Mark Manson)


Well, i feel like these past days were so overwhelmed. Ngga sih, akhir-akhir ini lagi ngga bisa berpikir jernih. Ngga bisa disebut overload juga, tapi semacam gue ngga bisa berhenti berpikir, dan setiap gue berpikir, semakin gue ingin mencari distraksi, dan membuat gue semakin ngga bisa fokus dan berpikir dengan baik.

Gue rasa gue overthinking (lagi) untuk kesekian kali. Gue harus mikirin tesis, tapi di saat yang sama banyak tugas, tapi juga harus mulai belajar karena menjelang uts, dan gue masih juga ngga bisa memutuskan gue mau daftar apa. Gue bahkan ngga tau mana yang harus gue prioritaskan, karena nyatanya yang terakhir mungkin yang sebenarnya menyita banyak pikiran gue akhir-akhir ini.

I mean like, apa gue mau sacrifice (mungkin) satu-satunya kesempatan yang gue punya saat ini, untuk sebuah keinginan yang gue ngga tau baik atau ngga. Tapi keinginan itu adalah sesuatu yang sesungguhnya gue perjuangkan  hingga saat ini. Bukan karena gue mau ngga berjuang untuk cita-cita gue, tapi lebih kepada gue tau diri, gue ngga sepintar itu, ngga sebaik itu, ngga seberprestasi itu. Gue tau kemungkinan gagalnya akan sangat besar, dan lagi, gue takut apa yang gue inginkan nyatanya ngga baik buat gue. Tapi terus mikir, serius, mau menyerah begitu saja, serius ngga mau seberjuang itu, serius ngga mau mencoba mempertaruhkan kesempatan yang ada. Tapi, terus mikir juga, kalau nanti gagal gimana atau kalau nanti ngga sesuai ekspektasi gimana.

Well, like people said, just do it. Tapi nyatanya ngga semudah itu. I know that I have to take the risk, tapi gue ngga tau seberapa berani gue to take those risks. Gue ragu, seragu itu. Life is full of choices, and I can't have it all, I can't have all the things I want. There must be opportunity cost that I should take, yang gue ngga tau seberapa gue ikhlas gue untuk menerima itu.

Katanya sih, yang perlu dilakukan adalah merelakan, dan mungkin ikhlas, atas apapun yang terjadi nantinya, untuk setiap keputusan apapun yang akhirnya diambil, apakah berjuang atau menyerah. Jangan menyesal, yang sama sekali ngga mudah, and somehow I really wish that life will have second chance if something bad happen, but actually it's not. Gue tau kalau ngga ada yang bisa memastikan juga bahwa apa yang gue pilih adalah yang terbaik buat gue. Seorang teman pernah bilang, umumnya orang akan tau sesuatu itu baik atau ngga buat dia ya ketika dia udah ngejalaninnya, ngga banyak orang yang tau persis bahwa pilihannya adalah yang terbaik, sampai dia sendiri mengalami, failure is part of life, ya ngga sih.

Mungkin memang harus bikin list to do. Mungkin, biar ngga cuma dipikirin. Mungkin biar ngga terlalu ambil pusing dengan baik atau ngga, menyesal atau ngga nantinya.  Seenggaknya paling tidak sudah melakukan sesuatu, paling tidak sudah berusaha. Karena nyatanya, apa yang dipikirkan itu sangat bias. Mungkin, sih.

Gue sepenuhnya sadar kalau gue sebenarnya ngga pantas mengeluh, ngga pantas berkeluh kesah, tapi nyatanya ini membuat pikiran gue jadi rumit, dan ini memberikan dampak pada kehidupan gue sehari-hari, membuat gue lebih mudah panik ketika ada masalah. Gue tau kok, kalau menulis ngga bisa menyelesaikan masalah gue, tapi ini mungkin sesuatu yang bisa membuat gue merasa lebih baik, sama seperti makan es krim.

Jadi, maafkan gue. Mungkin jadi agak berlebihan, akibat hormon period, haha.

Regards,
Ayu,
di tengah
kebimbangan


PS :

Tetiba teringat, gue pernah mendapat sebuah pertanyaan di ask.fm, "apa yang lo takutkan sekarang?", dan akhir-akhir ini mungkin jawabannya adalah "gue takut tidak lagi beriman", haha. Please, jangan dianggap serius, wkwk.


Comments