karena mungkin, yang menurutmu baik, belum tentu benar-benar baik
ketika memiliki satu-satunya kesempatan saat ini, dan dihadapkan pada pilihan, yang memiliki probabilitas berhasil lebih baik, ataukah yang kemungkinan gagal lebih besar, tapi ini adalah sesuatu yang selama ini dicita-citakan.
tapi, apakah yang menurutmu baik, nyatanya benar-benar baik?
tapi, bukankah hidup itu tentang pilihan, dan risiko atas apapun pilihan yang pada akhirnya akan diambil
tulisan itu gue buat beberapa minggu lalu, dan dilanjutkan dengan tulisan yang masih membahas hal yang sama, tentang kebingungan gue, tentang keraguan gue atas apa yang sebaiknya gue pilih. karena nyatanya gue memang sebingung itu, gue seragu itu dengan pilihan gue, dengan apa yang seharusnya gue lakukan. berbagai hal yang pernah gue alami membuat gue takut untuk tidak bisa se-nothing-to-lose itu, dan itu terus membebani gue beberapa minggu terakhir. akhirnya, gue meyakinkan diri gue untuk memilih, dan ya, berusaha untuk ikhlas menerima apapun yang mungkin terjadi nantinya, yang nyatanya sama sekali tidak mudah.
karena ya, gue gagal.
tapi, kamu tau apa yang membuatnya lebih sedih?
bukan karena gue sadar bahwa gue akan kalah, karena gue merasa mungkin gue sudah harus merelakan apa yang gue perjuangkan selama ini.
it just happened that way, somehow. kalau mereka bilang, karena takdir berkata demikian. seberapa pun gue mempertanyakan berbagai "what if".
gue secara sadar memahami bahwa kemungkinan gue gagal akan sangat besar. seminggu sebelumnya, gue sudah merasa sesedih itu. gue tau, kalau ini analogi nya mungkin terdengar creepy, tapi nyatanya perasaan sedih-nya sama ketika gue merasa kalau gue kalah, bahkan sebelum gue tau apa yang sesungguhnya terjadi.
rasanya seperti ketika gue memiliki perasaan, dan mencoba untuk berbuat sebaik mungkin, but it turns out you think that he doesn't have the same feeling as you do, and suddenly you cry because at that point you feel that sad for yourself, you know that you have been lose, even though you actually don't know what the real thing is going to happen.
saat itu, gue merasa, gue sudah melakukan sebaik yang gue bisa untuk mencoba memenuhi kualifikasi yang gue tau menjadi harapan mereka, tapi kemudian gue merasa sedih karena gue merasa bahwa signalling dari mereka menyiratkan kalau gue ngga bisa menjadi bagian dari mereka, meskipun gue tau belum tentu itu yang terjadi. lalu, gue mepertanyakan, apakah gue masih mau untuk mencoba dan pada akhirnya mengetahui fakta bahwa gue bukanlah yang mereka harapkan. apa gue siap merasa kecewa, merasa sedih.
dan akhirnya, gue memberanikan diri gue untuk mencoba, dan gue kalah, haha. rasanya? sedih. gue mengingat berapa kali gue mencoba (yang juga dengan berbagai kebodohan, haha), dan akhirnya memperjuangkan yang selama ini diusahakan, tapi nyatanya tetap gagal. ini mungkin, rasanya sama seperti menyatakan perasaan setelah berusaha sebaik mungkin dan ditolak, wkwk.
tapi, ngga lama, gue mengetahui, kalau itu bukan salah gue sepenuhnya, bukan karena gue tidak mereka harapkan, karena nyatanya perkiraan mereka yang salah. but, still, gue tetap tidak lolos.
dan di titik itu, gue sadar kalau, maybe it just happened that way. karena ya, mungkin kita hanya tidak ditakdirkan bersama, haha. dan mungkin ini saatnya gue merelakan apa yang selama ini menjadi kenginan gue. karena, seberapa pun keinginan manusia, pada akhirnya Ia adalah penentu segalanya, dan apapun yang telah Ia tentukan pasti yang terbaik, kan?
regards,
ayu,
yang kadang
masih sedih :")
Comments
Post a Comment