Skip to main content

50th

# tentangtakdir



Okay, mari ucapkan hamdalah karena sudah selesai ujian dan mari berdoa semoga mendapatkan hasil yang paling baik. Meskipun sepertinya gue belum memberikan usaha terbaik gue, tapi semoga ngga lupa bersyukur.

Jadi, gue mau cerita, setelah sekian lama membiarkan diri gue jenuh dengan segala hal yang harus dibaca, hahaa.

Kali ini  #tentangtakdir

Ini gegara kemarin mendapat banyak wejangan (bukan insight) waktu pertemuan terakhir untuk kelas di semester ini. Satu yang bahkan sampai gue tulis adalah :

"Tuhan pasti akan menunjukkan jalan mana yang pas buat kita" - JM

Yang akhirnya buat gue mikir lagi, haha.

Gue telah melewati banyak hal di hidup gue yang bikin gue sering bertanya-tanya tentang takdir. Waktu gue ngga lolos kedokteran dulu, gue sempet agak trauma karena gue takut dianggap ngga bersyukur kalau gue ikut ujian lagi. Buat gue saat itu, sebuah judgement was really effected me. Gue kemudian menemukan sebuah post di tumblr yunus kuntawiaji, yang cerita kalau kadang kita menghindari takdir untuk menuju takdir-Nya yang lain. Sayangnya, gue ngga bisa nemu artikel aslinya lagi. Yang akhirnya membuat gue mikir, bahwa pada akhirnya apapun yang diputuskan untuk dilakukan adalah atas izin-Nya.

Lalu, dengan berbagai irisan antara harapan yang dimiliki dan takdir yang terjadi nyatanya tidak sesuai harapan, membuat gue sempat meragukan takdir-Nya yang seharusnya sempurna, dan, untuk kesekian kali, takut dianggap berdosa. Sampai akhirnya gue merasa bahwa biarlah gue memaknai takdir menjadi sesuatu yang berharga bagi gue secara personal, termasuk rasa syukur di dalamnya. Gue pernah baca di twitter, bahwa kadang yang kita pikirkan ketika merasa beruntung memilih A bukan B, bisa jadi bias, karena ngga ada yang bisa memastikan bahwa memilih B lantas akan jadi lebih buruk, kan.

Tapi, manusia diberikan akal untuk memilih, mana yang sesui dengan dirinya, memaksimalkan utilitasnya. Manusia punya banyak hal yang mendasarinya membentuk respon akan apa yang terjadi pada dirinya. Ketika ia salah mengambil keputusan, maka seharusnya tidak lantas mengalahkan takdir.

Jika sebuah situasi adalah sesuatu yang ditakdirkan, apakah respon yang diberikan juga adalah sesuatu yang ditakdirkan? Gue masih belum bisa komentar tentang ini sih. 

Tapi, gue masih selalu percaya kalau setiap manusia pasti punya peran (dan tanggung jawabnya) di alam semesta, haha.

Oh ya, menurut gue, ketika takdir menjadi konsumsi publik dan bahkan mengesankan bahwa seseorang lebih terpilih dibanding yang lain karena takdir yang dimilikinya, bagi gue itu mengurangi makna takdir itu sendiri, haha. Menurut gue, sih.




Regards,
Ayu,
berharap bertemu
takdir yang baik, hehe



PS:

Anyway, kalau procrastinate itu adalah sesuatu yang ditakdirkan bukan (?), haha

Comments