priv·i·lege /ˈpriv(ə)lij/ noun
1. a special right, advantage, or immunity granted or available only to a particular person or group.
jika seseorang tidak bisa memilih keluarga tempat ia dilahirkan, maka apakah privilege adalah sebuah variabel eksogen? lalu sejauh mana tanggung jawab manusia dengan hidupnya?
karena katanya manusia tidak bertanggung jawab terhadap situasi yang hadir, tetapi bertanggung jawab pada respon yang diberikan atas situasi tersebut.
menemukan koneksi pada berbagai kesempatan sebagai hasil dari privilege dan assortativity yang terbentuk karenanya, membuat sadar bahwa pada akhirnya semua kembali kepada privilege, sesederhana mendapatkan kesempatan terlahir dalam keluarga yang cukup demokratis, memiliki kesejahteraan, dan berbagai hal baik lainnya.
tapi kemudian juga menyadari bahwa ada kerja keras yang perlu dilakukan, yang tidak bisa didapatkan hanya karena memiliki privilege, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa privilege akan memberikan lebih banyak kemudahan dan kesempatan.
dengan semua endowment yang dimiliki, maka kemudian merasa bersalah jika tidak mencapai lebih, semakin merasa perlu berjuang lebih lagi, melihat dunia yang nyatanya semakin kompetitif, ketika perbedaan usia, gelar almamater, prestasi, tingkat keterampilan terlihat sangat berharga.
karena katanya pada dasarnya manusia itu greedy
jadi mungkin, memiliki ambisi sesungguhnya adalah sebuah perilaku yang rasional
kemudian mempertanyakan,
apakah dunia memang seperti itu?
apakah manusia perlu menjadi se-ambisi itu?
apakah menjadi greedy itu adil?
apakah setiap orang perlu memiliki privilege yang sama?
apakah salah jika menjadi seorang biasa?
apakah dengan itu kemudian dikategorikan tidak bersyukur, tidak bertanggung jawab, karena menyiakan privilege dan kesempatan yang ada?
apakah dengannya kemudian semacam memberikan pembenaran atas ketidakmampuan yang dimiliki?
siapa gue bisa menilai.
but what i know the most is maybe this is actually how the world works
dan nyatanya, dengan semua lelah dalam pikir, kemudian tiba tiba baca buku bagus itu bisa buat moodbooster banget, haha.
jadi, secara kebetulan tanpa sengaja menemukan buku bagus ketika berkunjung ke sebuah toko kopi yang pernah direkomendasikan oleh seorang teman, buku lama dari indra herlambang
dengan berbagai kejadian yang terjadi akhir akhir ini, yang menguras pikiran, emosi, dan energi, yang kadang dituntut untuk selalu berpikir kritis, bahagia, dan tetap sane, padahal banyak hal sedang ada dalam pikir, dan bingung menemukan seseorang untuk berbagi cerita tentang semuanya, tanpa merasa bersalah, tanpa perlu takut dijudge.
tapi mungkin tidak semuanya perlu diceritakan, kadang cukup kepada Ia yang Maha Mendengar.
karenanya, di saat seperti itu rasanya waktu sendiri jadi sangat berharga, ditemani dengan buku bagus, kadang bisa membuat bahagia.
Regards,
Ayu
Comments
Post a Comment