Skip to main content

72nd

#tentang aku yang offensive, defensive, dan stubborn


Some people may think I am offensive and defensive (and stubborn)....

Akhir-akhir ini mulai kepikiran lagi, apakah gue perlu berubah? Well, semua orang perlu berubah untuk jadi versi yang lebih baik, tapi sejauh mana?

Jadi, di suatu kesempatan, gue ngobrol ringan, dan entah gimana gue secara spontan memberikan argumen yang mungkin terkesan meng-counter dan akhirnya gue merasa kalau pendapat yang gue berikan membuatnya tersinggung...

Mungkin, karena beberapa waktu belakangan lebih banyak ngobrol dengan mereka yang yaudah dan ngga masalah kalau gue punya pendapat beda. Gue kemudian lupa memposisikan diri, sesuatu yang biasanya gue lakukan kalau gue berada di situasi yang baru, karena gue pikir dia udah kenal gue dan pribadi gue yang sering argue.

Sebenarnya, gue seneng banget untuk having discussion. Tapi, pengalaman membuat gue menyadari kalau gue punya potensi (yang besar) membuat orang lain tersinggung. Gue kadang (ngga sih sering) lupa untuk mengendalikan ke-spontan-an gue untuk komentar, and that's why gue lebih memilih texting, dan membatasi interaksi ke orang-orang yang gue rasa punya probabilitas tinggi untuk jadi tersinggung dengan apa yang gue ucapkan.

As I and people around me grown up, we start to have real discussion, most of them about life, values, and point of view, yang mana kadang berbeda. Bahkan, gue sering argue sama adik gue who I think she supposed to know "me" cause we live more than 20 years together, terutama saat masa-masa kuliah dan quarter life period. We were going through a lot of argue. Like literally argue, about anything. Tapi, akhirnya gue mencoba memahami kalau we have really different personality dan kemudian mencoba memberikan respon yang mungkin diharapkan, dan ngga lupa sering bilang kalau gue sama sekali ngga punya maksud jahat. Akhirnya, gue merasa gue harus belajar untuk "membaca" orang-orang, untuk bisa survive. Gue akhirnya terbiasa untuk membangun early judgment, "oh kayanya gue ngga bisa develop further conversation with this particular kind of person". Entah sih, gue ngga tau ini baik atau ngga, tapi gue merasa ini adalah cara yang paling aman.

Meskipun, ada beberapa orang yang kalau ngobrol bareng, we are fine dengan pendapat masing masing, dan kayanya ngga banyak yang bisa bear with me, dengan berbagai pendapat gue. Mungkin, ini karena pendapat dan komentar mereka bahkan seringkali lebih jahat (?). Hahaa, ngga bercanda..

Awalnya, gue berpendapat kalau gue punya hak untuk argue, karena gue ngga harus selalu setuju kan? Bagi gue, orang lain pun ngga harus selalu setuju, dan karenanya gue menganggap bahwa gue ngga keras kepala. Tapi, setelah gue cerita, gue kemudian diingatkan "kadang, seseorang cerita untuk didengarkan, dan mungkin ngga semua memerlukan pendapat, even if you think that you need to argue, try to deliver it as other perspective". Hmm, okaaayyy...

Kejadian ini sebenarnya bikin gue kepikiran, gue mulai insecure dan anxious. Ketakutan ngga berdasar seperti teman-teman (atau mereka yang gue anggap teman) ngga mau berteman sama gue, karena gue terlalu keras kepala dan ngga menyenangkan, atau mungkin nyebelin.

Lalu, rasanya ingin menanyakan ke orang-orang apakah gue nyebelin, atau mungkin ternyata gue toxic. Gue sempat menanyakan ke seorang teman dan yang ia sarankan adalah menyuruh gue cari literature review tentang indikator nyebelin dan toxic, haha. Padahal setelah gue pikir lagi, gue cuma pengen sesederhana dijawab pertanyaannya, "gue nyebelin ngga sih?", wkwk.

Well, ya. I have been being undoubted introvert, like a whole time of my life, plus thinking and judgmental for some reason. Tapi, ngga tau juga sih, mungkin karena sejak kecil sudah terbiasa sendiri karena kedua orang tua bekerja dan kadang dimarahin kalau berisik dan merajuk.

Sebelum gue tau, gue sudah melewati perasaan sedih karena gue merasa ngga pernah menjadi seseorang yang benar-benar diharapkan kehadirannya (meskipun ngga pernah di-bully dan gue bersyukur untuk itu, tapi kadang setiap orang butuh validasi), perasaan bersalah karena ngga pernah jadi teman yang baik (karena sering buat orang lain tersinggung), perasaan iri kepada mereka yang jadi spotlight dan dengan mudah menarik perhatian, tapi di sisi lain gue nyaman dan memilih untuk ngga banyak berinteraksi di keramaian (ini sebelum gue baca tentang paradoxes). Gue pernah berusaha berubah, sharing anything I did, karena gue merasa mereka yang berhasil di karir, beasiswa, atau apapun adalah yang punya citra profil diri yang baik dan sharing apapun yang mereka lakukan. Well said, this world is designed mostly for extrovert. Gue dulu mengira gue perlu berubah untuk bisa survive.

Lalu, gue menemukan alasannya, bahwa gue mungkin seorang INTJ, dan setelah yang gue baca, mungkin ini yang membuat gue sering ngga sengaja membuat orang lain tersinggung. Tapi ini kontra dengan gue yang plegmatis yang berusaha menghindari konflik, yang bikin gue jadi sering kepikiran dan insecure. Gue mulai merasa gue spesial, bahwa orang lain perlu memahami kalau gue ngga seperti kebanyakan orang. Tapi, setelah berbagai perjalanannya (dan setelah gue baca tentang tidak menjadi spesial), gue memahami bahwa gue ngga spesial, dan jadi introvert juga ngga membuat gue spesial, tapi jadi introvert bukan juga sebuah dosa dan kesalahan.

I was going through long enough journey with my introversion and self acceptance.

Semakin dewasa, gue semakin sadar kalau gue ngga bisa please everyone, tapi ada minimum level yang harus dicapai untuk sekadar basi basi, dan bisa survive. Gue merasa bahwa gue perlu belajar beradaptasi dengan baik. Adaptasi menurut gue adalah survival skill. Lagi, bukan mereka yang harus mengerti, tapi gue yang harus beradaptasi. Tugas gue di dunia yang untuk survive dan untuk survive, gue harus adaptasi. Bagi gue sih ini bukan munafik, karena gue ngga pretend myself untuk jadi orang lain. This is just how to survive. Gue ngga harus berubah, tapi sudut pandang gue yang perlu diubah. Gue masih bisa membawa diri dengan baik, dan tetap menjadi intorvert.

Lagipula, people come and go, like it used to be. Why worry?
Bukannya, gue udah biasa sendiri, kan yang penting gue ngga berbuat jahat, atau setidaknya ngga punya intention untuk berbuat jahat.

Lalu, dengan semua yang terjadi, akhir-akhir ini lagi sering menemukan situasi "if it is meant to be, it meant to be". Akan ada orang-orang yang akan tetap awkward ketika bertemu (dan obviously membuat gue ngga tau harus berbuat apa), tapi akan ada yang tetap menyenangkan ketika bertemu meskipun sudah ngga jarang ketemu. Termasuk dengan mereka yang top tier di berbagai situasi yang gue temui, akan ada yang membuat gue minder, tapi gue harap akan ada yang menerima gue as I am, believe in me, and support me.

"it's not that bad, be more confidence"
kadang, hidup itu penuh kejutan ya...
I don't know where life will lead me, but what I can do is give my best..
apapun itu, doakan aku yang terbaik!


sincerely yours,
Ayu












Comments