Skip to main content

78th

# tentang di-doxing


jadi, gimana rasanya di-doxing?

sebenernya, agak berlebihan sih pakai istilah doxing, cuma gue belum nemu diksi yang lebih tepat, hmm. mungkin ngga papa memakai istilah edgy biar dikira edgy, haha. padahal, edgy people wont use "di" and "ing" in one word, haha.

rasanya di-doxing itu susah dijelaskan, padahal di konteks ini sebenernya ngga masalah, literally ngga masalah. it wasnt a big issue tho, tapi entah kenapa di sisi lain seperti merasa dikhianati, rasanya aneh, haha. mungkin karena gue sendiri masih struggling, dan jadinya ngga ngerasa siap... 

tapi, setelah diingat kembali, gue pernah di-doxing diam-diam ketika personal chat gue di screenshot untuk jadi bahan gosip di kantor, haha. biasa aja sih sebenernya, tapi, again, ya rasanya aneh aja waktu tau. 

dan sebenarnya juga, gue mungkin pernah nge-doxing orang lain tanpa gue sadari (atau mungkin gue sadari), jadi ya basically gue juga jahat. tapi, akhir-akhir ini mulai sadar untuk mencoba ngga nge-doxing hidup orang lain. punya rahasia yang disimpan sendiri itu berat sih, haha, dan seperti yang pernah gue tulis sebelumnya, mungkin itu kenapa orang cenderung untuk bercerita. bahkan, ngga jarang termasuk hal-hal yang bukan tentang hidupnya. 

padahal, dengan gue nulis kek gini, secara ngga langsung, gue nge-doxing hidup gue sendiri, haha. bahkan mungkin orang lain yang baca jadi punya persepsi kalau gue minta di-stalk, tapi bahkan gue ngga yakin ada yang pernah baca, bahkan untuk mau nge-stalk, jadi ya dengan atau tanpa gue nulis pun, sepertinya ngga akan ada bedanya. hence, does it even matters?

oh dan katanya, you cannot judge a man by his acts, you cannot even understand his acts, if you know nothing about his thought.

kepikiran ini gegara, liat sebuah komen untuk seorang influencer yang menurut gue di-doxing terlalu jahat (even if it is true), but it was really too much, dan jadi ngebuat gue makin takut untuk mengecewakan orang lain karena basically people actually expected something on you and make judgement. 

i know that we cant please everyone, but i have disappointed many people so many times, even myself. dan karenanya gue punya trust issue, terutama terhadap diri gue sendiri. gue terlalu takut untuk membuat orang lain kecewa. knowing that there are people who believe in me while i dont even believe myself is another heartbreaking feeling, and it actually give me more pressure. 

tapi, kenapa? kenapa gue takut mengecewakan orang lain? 

gue terus bertanya-tanya dan masih belum menemukan jawabannya. mungkin karena gue takut mereka jadi sedih, atau karena gue takut kehilangan, atau sebenarnya yang gue takutkan adalah takut mengecewakan ekspektasi gue sendiri, entah sih. 

dan ketika orang lain kecewa, dan lalu pergi, atau bahkan mungkin menjadi tidak menyukaimu dan membencimu, apakah karenanya kamu jadi tidak berhak bahagia, atau hidupmu jadi lebih tidak berarti? karena mungkin people actually dont even care with you and your life.

bahkan, menulis ini pun mungkin ngga lepas dari judgement orang lain, .
tapi, lagi, seberapa berarti judgement orang lain? karena toh, you actually dont have to prove anything to anyone. karena katanya lagi, start paying attention to people as people, that you are good by being good. 

atau mungkin, karena kamu sebenarnya sedang berharap kalau kamu menjadi seseorang seperti yang ia harapkan? 

entahlah...


sincerely, 
Ayu

Comments