# tentang depresi
akhir-akhir ini rasanya males ngapa-ngapain, males nyoba courses, males nonton webinar, males nonton film, males baca buku, males nyoba resep, bahkan males untuk sekadar nonton vlog atau dengerin podcast. ngga tau, rasanya semacam ngga tertarik pada apapun, kaya feelingnya lost gitu aja. jadinya cuma mengerjakan hal-hal yang harus dikerjakan. semacam ngga punya target apapun selain sehat dan kerjaan lancar. i even cant define what i feel recently, i just feel lost.
tapi kemudian, mendapatkan chat dari seorang long-time-no-see-friend, and she asked questions
"enak ngga sih yu pindah haluan, takut ngga pas pindah?'
pertanyaannya sukses jadi question of these-past-weeks karena bikin mikir beberapa waktu terakhir ini. tapi, setelah beberapa chat, gue baru tau kalau she has been depressed for these past months. agak merasa bersalah sebenarnya, karena gue sama sekali ngga tau kabarnya beberapa tahun belakangan. padahal, she was one of the closest friends waktu kuliah yang udah kaya sekolah di tarakanita karena isinya hampir semua perempuan, tapi ya seperti yang pernah gue bilang sebelumnya, gue ngga pernah bisa untuk keep relationship.
sebenarnya, ini bukan pertama kali mendengar seorang teman ada di fase ini, meskipun gue juga ngga tau bisa membantu apa, selain ngasih semangat atau menyarankan untuk seek professional help if needed, dan tentunya mendoakan semoga ia baik-baik saja.
entahlah, mungkin (hampir) semua orang pernah mengalami fase ini. hal-hal semacam nangis terus, atau hidup rasanya worthless, atau suicide thoughts, atau hal-hal depresif lainnya. i was there, and that was kind of the worst year. the feeling is not easy, indeed, terutama ketika pada dasarnya seseorang itu menyadari kalau ia masih harus bekerja untuk membiayai hidupnya misalnya, atau ia punya keluarga yang berharap pada dirinya. tapi iya, pada akhirnya yang bisa diandalkan adalah diri sendiri. apabila ada seseorang yang bersedia menemani melewati segala prosesnya, it was a blessing. tapi, tetap saja, menurutku hanya diri sendiri (dan bukan orang lain) yang bertanggung jawab pada dirinya, pada kebahagiaanya.
takut menyesal, takut ngga bahagia, takut bikin kecewa, atau banyak ketakutan lainnya. dan ini akan semakin parah dan ngga masuk akal ketika berada di fase depresi. tapi, kalau menurut freakonomics,
"A good rule of thumb in decision-making is, whenever you cannot decide what you should do, choose the action that represents a change, rather than continuing the status quo," said Levitt.
entah sih, gue merasa kalau hidup itu apa ya, kadang aneh. some people were struggling to their ass off with their life problems. banyak orang biasa punya masalah yang seringkali dianggap "biasa saja" oleh orang lain. masalah karir, politik kantor, konflik keluarga, kekasih, pendidikan, cicilan atau bingung mencari pengasuh atau memilih melanjutkan bekerja atau mengurus anak (berbagai masalah tersebut mungkin ngga sederhana, bahkan beberapa bisa sampai buat desperate). ngga banyak yang punya kesempatan untuk bisa keluar dari status quo ketika menginginkannya. tapi di sisi lain, banyak orang yang bikin masalah yang ngga perlu ada dan bahkan merugikan orang lain. menipu, harassment, selingkuh, misalnya, dan gue ngga paham, apakah hidupnya kurang masalah.
terus lagi, sepertinya memang benar kalau katanya hidup itu ya tergantung keberuntungan, dan sepertinya itu menjadi faktor terbesar. gue makin menyadari kalau gue mungkin cukup beruntung punya kesempatan dipertemukan dengan orang-orang baik selama perjalanan hidup gue. something that i take it for granted. tapi kemudian, ketika merasa hidup yang dimiliki ngga seberuntung itu, apa yang bisa dilakukan selain mencoba menjalaninya sebaik yang dibisa.
adulting is hard, it is, indeed, really hard. semoga semuanya diberi kebahagiaan, mohon doanya!
regards,
Ayu
Comments
Post a Comment