May the Force be With You
Beberapa hari yang lalu, ngobrol sama seorang teman :
Y : Liburan ngapain aja?
M : Streaming, haha. Sama baca-baca buku, sih.
Y : Buku apa? Jangan bilang buku pengembangan diri.
M : >///< Haha, kok tau sih...
Actually, I am not intended to read those kind of books. Buku-buku motivasi sepertinya ngga pernah buat gue tertarik, bahkan kadang buat gue skeptis, haha. Satu-satunya buku pengembangan diri yang pernah gue baca mungkin bukunya Rene CC Suhardono, yang "Your Job is not Your Career" dan itu gue baca mungkin sekitar lebih dari satu tahun yang lalu. Kali ini gue cuma penasaran aja sebenarnya, bermula dari baca sebuah artikel di Quartz yang pernah gue cerita di post gue sebelumnya, terus ngga tau kenapa berlanjut ke buku yang lain.
Okay, jadi di post ini gue mau melunasi janji gue untuk review dan membuat blog gue (semoga) sedikit bermanfaat. Gue belum selesai baca "Nudge" sih, tapi ya sudahlah ya.
Sebenarnya, gue menghindari untuk memberikan rating, since I am trying to be less judging of something. Siapa lah saya berhak untuk men-judge sesuatu, jadi gue prefer untuk nulis review instead of giving rating. Meskipun kadang gue juga masih sering ngecek review dan rating sebelum memutuskan untuk nonton film atau baca buku. Jadi, terima kasih banyak untuk mereka yang berbaik hati berbagi review dan rating-nya di good reads atau imdb :)
Okay, di mulai dari buku yang gue baca lebih dulu, "The Subtle Art of Not Giving a F*ck: A Counterintuitive Approach to Living a Good Life", karya Mark Manson. Buat gue, bukunya cukup menampar gue, dan seperti judulnya it is really a counterintuitive ones. Karena gue bacanya setelah ujian dan kemudian menemui uncertainty, growth, iterative, boundaries di dalamnya, terus tetiba jadi teringat microeconomics macroeconomics, econometric, math economics, haha.
Awalnya agak kaget sih, dengan semua fck dan sht dimana mana, tapi isinya menurut gue bagus banget, karena gue tipe yang harus "ditampar". Isinya memberikan sudut pandang lain melihat hidup, that no matter what you do, life is comprised of failures, loss, regrets, and even death, terdengar bad banget ya. Tapi, semua negative experience membuat everything worthwhile in life is won, which is happiness. Ketika tidak tahu rasanya sedih, mungkin tidak tahu juga rasanya bahagia. Bukunya mengingatkan tentang kekalahan, tentang melepaskan, tentang kegagalan, tentang boundaries, tentang pilihan, tentang tanggung jawab, tentang menjadi uncertain, tentang tidak menjadi spesial.
"Do or do not, there is no how", Yoda.
Okay, jadi mari melakukan kebaikan, melakukan apa yang harus dilakukan :)
------------------
me who
in the middle of holidays
yang semoga membawa manfaat :')
PS :
Oh iya, menurut Anakin's Mom, "Nothing happen by accident" .
Anyway, sedang struggling belajar R membetulkan incorrect code, biar kode nya bisa sampe, wkwk...
Quotes ini yang menurut gue paling mempengaruhi gue, untuk belajar less judging of something :
"Uncertainty removes our judgments of others; it preempts the unnecessary stereotyping and biases that we otherwise feel when we see somebody on TV, in the office, or on the street. Uncertainty also relieves us of our judgment of ourselves. We don’t know if we’re lovable or not; we don’t know how attractive we are; we don’t know how successful we could potentially become. The only way to achieve these things is to remain uncertain of them and be open to finding them out through experience."
....
"Growth is an endlessly iterative process. When we learn something new, we don't go from "wrong" to "right". Rather, we go from wrong to slightly less wrong".
(Mark Manson)
Selain itu, section tentang The Responsibility buat gue teringat dengan salah satu status yang di post oleh ibu senior panutan gue, idola gue.
“You know, you should not blame Our Sustainer for whatever situation we are on,” He continued. ”Never question Him why we are down, because you also did not question when we are up. The life of a moslem is all good. When he/she is given ni’mah, she/he is grateful (syukur) and it is good for him/her. When he/she is given musibah, he/she is being patient (shabr) and it is also god for him/her. We are not going to be held accountable for what happened to us, but we shall be made accountable for our responses to any situation,” I knew he was saying this in order also to assure himself.
“You know, you should not blame Our Sustainer for whatever situation we are on,” He continued. ”Never question Him why we are down, because you also did not question when we are up. The life of a moslem is all good. When he/she is given ni’mah, she/he is grateful (syukur) and it is good for him/her. When he/she is given musibah, he/she is being patient (shabr) and it is also god for him/her. We are not going to be held accountable for what happened to us, but we shall be made accountable for our responses to any situation,” I knew he was saying this in order also to assure himself.
(HK)
Jadi, secara umum, intinya buku ini mengingatkan untuk ngga sombong, untuk jadi humble, tapi tetap bertanggung jawab atas apapun yang telah dipilih dan dilakukan, untuk tetap memberikan yang terbaik. Finally, this book will be one of the books that I will recommend with my pleasure :)
Entah bagaimana, kemudian gue baca "The Secret", karangan Rhonda Byrne. Bukunya sepertinya di adopsi dari tv seriesnya, tapi gue belum pernah nonton sih. Gue awalnya shock bacanya, karena that's too way much optimism there. Sebenarnya, isinya bagus, terutama buat mereka yang sangat positif dan optimis. Karena gue bacanya setelah baca buku yang sangat counterintuitive, jadi membutuhkan waktu yang cukup lama buat gue meng-counter pertanyaan-pertanyaan debat dalam otak gue. Isinya tentang Law of Attraction, tentang thoughts, tentang mind, tentang expectation, tentang gratitude, tentang force, tentang energy, tentang quantum physics. Bukunya menyiratkan something that's like everything is possible. Kalau semua yang terjadi dalam hidup adalah karena kita meng"attract"nya dalam hidup, melalui images yang ada dalam pikiran, melalui apa yang dipikirkan dan apa yang kita rasakan. "Every thought of yours is a real thing - a force" (Prantice Mulford, in Rhonda Byrne)
Salah satu qoutes yang menurut gue keren adalah quotes dari Charles Haanel (in Rhonda Byrne).
"The Universal Mind is not only intelligence, but it is substance, and this substance is the attractive force which brings electrons together by the law of attraction so they form atoms; the atoms in turn are brought together by the same law and form molecules; molecules take objective forms and so we find that the law is the creative force behind every manifestation, not only of atoms, but of worlds, of the Universe, of everything of which the imagination can form any conception."
Kalau dibandingkan, kedua buku itu seperti langit dan bumi, like seriously. I mean, kalau gue baca "The Secret" lebih dulu lalu baca "The Subtle art of not Giving a F*ck", mungkin rasanya seperti diterbangkan ke atas langit lalu dijatuhkan ke dasar bumi. Tapi, untungnya, gue baca dengan urutan sebaliknya, jadi masih menyisakan semangat positif di pikiran gue, haha. Kedua buku tersebut sebanarnya tujuannya sama, untuk membuat pembacanya menjadi lebih baik, tapi dengan approach yang berbeda, yang kalau bisa gue bilang, beda banget. Actually, I suggest to not read both of those books in a line, karena kalau langsung baca keduanya dan imannya ngga kuat, mungkin malah jadi bingung dan mempertanyakan "lalu gue harus gimana". Tapi, semoga yang gue baca ini membuat gue lebih baik, haha.
Tentang force yang gue baca di "The Secret", buat gue teringat dengan Star Wars. Jadi ceritanya, gue akhirnya menamatkan episode Star Wars (minus Episode VII, karena ngga ada di iflix, haha). Menamatkan episode Star Wars ini seperti menamatkan satu series drama korea yang padahal udah jarang banget nonton drama korea, wkwk. Dalam Star Wars, the force ini adalah energi yang membuat seseorang punya kekuatan untuk melakukan apapun, persis sama seperti dalam buku "The Secret". Sampai episode terakhir, menurut gue Star Wars keren banget plot twist nya, mengingatkan kalau seseorang ngga bisa di judge sepenuhnya sebagai baik atau jahat. Yang paling keren menurut gue sih Episode VIII, dan jadi penasaran untuk nonton sekuel selanjutnya yang menurut artikel yang gue baca akan rilis May 25th, 2018.
Setelah nonton Star Wars, gue jadi berpikir kalau Star Wars, Lord of The Rings, Harry Potter punya banyak kesamaan jalan cerita. Yang pertama, overall ceritanya pasti kebaikan melawan kejahatan, dan kejahatannya akibat keinginan akan kekuasaan. Lalu, si pemilik kebaikan, punya karakter khusus, yang entah bagaimana menyelamatkan dunia. Kemudian, antara si jahat dan si baik punya koneksi, seperti telepati, yang membuat mereka saling berkomunikasi. Semua itu gue rasa gue temukan ketika nonton Star Wars, Lord of The Rings, Harry Potter. Entah kenapa, gue ngikutin cerita sejenis sejak gue SD, meskipun sekarang ngga sampai ngikutin lanjutannya, seperti The Hobbit atau Fantastic Beast, paling cuma nonton filmnya dan ngga baca bukunya. Gue sebenarnya masih penasaran buat nonton Game of Thrones, yang sepertinya genre nya agak mirip. Tapi, kalau mengingat banyak episode dalam satu seriesnya, rasanya ngga sanggup, wkwkwk.
Oh iya, ada satu quotes yang menurut gue bisa gue infer ada dalam kedua buku yang sudah gue baca dan film yang gue tonton.
Setelah nonton Star Wars, gue jadi berpikir kalau Star Wars, Lord of The Rings, Harry Potter punya banyak kesamaan jalan cerita. Yang pertama, overall ceritanya pasti kebaikan melawan kejahatan, dan kejahatannya akibat keinginan akan kekuasaan. Lalu, si pemilik kebaikan, punya karakter khusus, yang entah bagaimana menyelamatkan dunia. Kemudian, antara si jahat dan si baik punya koneksi, seperti telepati, yang membuat mereka saling berkomunikasi. Semua itu gue rasa gue temukan ketika nonton Star Wars, Lord of The Rings, Harry Potter. Entah kenapa, gue ngikutin cerita sejenis sejak gue SD, meskipun sekarang ngga sampai ngikutin lanjutannya, seperti The Hobbit atau Fantastic Beast, paling cuma nonton filmnya dan ngga baca bukunya. Gue sebenarnya masih penasaran buat nonton Game of Thrones, yang sepertinya genre nya agak mirip. Tapi, kalau mengingat banyak episode dalam satu seriesnya, rasanya ngga sanggup, wkwkwk.
Oh iya, ada satu quotes yang menurut gue bisa gue infer ada dalam kedua buku yang sudah gue baca dan film yang gue tonton.
"Do or do not, there is no how", Yoda.
Okay, jadi mari melakukan kebaikan, melakukan apa yang harus dilakukan :)
------------------
me who
in the middle of holidays
yang semoga membawa manfaat :')
PS :
Oh iya, menurut Anakin's Mom, "Nothing happen by accident" .
Anyway, sedang struggling belajar R membetulkan incorrect code, biar kode nya bisa sampe, wkwk...
Comments
Post a Comment