“To those living this moment, with all of my sincerity, I wish you the best of luck. Because this is everyone’s first life.”(Ji-Ho)
Jadi, gue ingin memberikan selamat pada diri gue sendiri.
Selamaatttt!!!
Akhirnya gue sudah menyelesaikan R-Basic Online Course dengan baik, tapi tetap masih harus terus belajar dengan lebih baik. Gue sejujurnya amazed dengan komitmen gue belajar, haha. Sejauh ini masih berpikir, apa gue benar-benar mau jadi data analyst, karena melihat programming code dan math-statistical problem rasanya sudah sangat luar biasa.
Gue saat ini sedang dalam state berpikir mungkin mau berubah, hopefully for a better me. Bukan sih, sebenarnya setiap hari juga berharap untuk bisa jadi lebih baik. Tapi, sempat berpikir kapan kira-kira gue bisa jadi dewasa sepenuhnya, kapan mau tidak jadi anak muda labil lagi. Kapan mau berubah menggunakan "saya", di bandingkan "gue", misalnya. Hey, I am turning 25 this year. Jadi gue memutuskan mau mencoba pelan pelan menulis dengan bahasa yang baik dan benar, mungkin suatu saat akan menang lomba atau jadi publikasi, haha.
Oh iya, kali ini ingin cerita. Setelah sekian lama, akhirnya gue nonton drama korea lagi. Sebenarnya akhir-akhir ini gue sudah jarang mengikuti drama korea, bahkan gue belum nonton "Descendant of the Sun" yang terkenal dengan Song Song Couple-nya. Drama korea terakhir yang gue tamatkan sepertinya Reply 1997. Entah kenapa, gue rasanya semacam punya a love-hate relationship with korean drama. Gue seneng nonton drama korea, sejak Princess Hours ditayangkan di televisi. Tapi, seiring semakin bertambah usia, gue merasa harus menghindari drama korea, karena membuat gue menjadi melankolis. Rasanya seperti terlalu banyak kebetulan yang terjadi, tapi pada kenyataannya hidup tidak seperti drama korea dan terkadang semua ekspektasi itulah yang menimbulkan rasa sedih. Tapi tetap saja, gue senang dan penasaran ketika nonton drama korea.
Beberapa waktu lalu ketika scroling timeline, ada seorang teman yang share "Because It's My First Life" Episode 6 . Gue nonton dan langsung penasaran sama ceritanya karena menurut gue ceritanya unik. Gue kemudian liat rating, tapi ngga baca review, dan nanya-nanya lalu dapet info kalau dramanya bagus, ceritanya tentang seorang mediocre. Kemudian gue mengasumsikan ceritanya tentang seorang perempuan mediocre yang kemudian jatuh cinta dengan Mr. Right yang mediocre juga dan kemudian menikah. Oke, sepertinya bagus dan akhirnya memutuskan untuk nonton.
Dan ternyata, ceritanya beyond my expctation, ceritanya seputar pernikahan, tentang rasa sayang, tentang prinsip, tentang kehidupan. Gue belum tamat sih nontonnya, tapi sejauh ini menurut gue ceritanya bagus banget, and the way how the story tell us is really awesome for me. Dramanya dibuat dari sudut pandang pertama, dan pemeran utamanya banyak bernarasi, seperti berbicara kepada penonton, yang membuat dramanya melibatkan emosi buat yang nonton.
Dan entah kenapa, gue merasa banyak dari Ji-Ho (si pemeran utama) yang juga ada ada di hidup gue. Gue selalu suka model potongan rambut seperti dirinya, gue hidup di masa resesi dan masa sejahtera, keluarga gue agak patriaki meskipun ngga separah itu, gue melakukan hampir semua pekerjaan rumah mulai dari cuci piring, cuci baju, masak, bersih bersih, kadang sambil dengerin lagu pakai earphone, gue memilah sampah, gue mencuci bekas pop mie ketika gue makan di rumah, gue punya typical perfect sunday morning dimana gue menikmati makanan kesukaan gue setelah gue mandi, gue senang nge-quote dari buku yang gue baca, dan yang paling kena banget, gue sering berpikir dan berbicara dengan diri gue sendiri. Dan ya, semua itu membuat dramanya semakin menjadikan gue melankolis, di mana sebenarnya gue ngga suka dengan itu. Above all, gue ngga tau kenapa, cerita drama itu, somehow, memberikan jawaban dari pertanyaan yang akhir akhir ini membebani gue.
Akhir akhir ini gue sering berpikir tentang sesuatu, dan apa yang gue pikirkan ini tiba-tiba selalu hadir dalam hidup gue terus menerus meskipun tidak disengaja, dan hal itu membuat gue merasa, why on the earth do this thoughts come over and over again, expose and attract me in never ending story. Entah tiba-tiba muncul dari cerita teman, atau scrolling timeline, atau baca blog, atau nonton televisi, atau baca buku, atau nonton drama korea. Tapi kemudian, membuat gue terus menerus mempertanyakan sesuatu,
apakah mungkin seseorang menikah tapi tidak saling memiliki perasaan pada awalnya,
terutama bagi seorang perempuan yang tiba-tiba dilamar.
This thoughts is bearing me a lot these days. Maksud gue, gue paham bahwa a feeling actually grows as it is, naturally. Kalau menurut pepatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Tapi, ini bukan hanya sekadar crush atau apa, tapi ini menikah, dengan seseorang yang akan menghabiskan waktu bersama, mungkin, hampir di setiap hari.
Tentang pertanyaan ini, sebenarnya sudah gue pikirkan sejak lama, sejak temen kantor gue tiba tiba menanyakan,
"kalau ada seseorang yang baik akhlaknya dan kehidupannya, tiba tiba datang untuk melamar, apa lo siap?"
Kejadiannya sudah lebih dari satu tahun lalu, ketika kami pergi makan siang. Saat itu, gue refleks tertawa dan menjawab, "ngga tau, tergantung", and suddenly, it made me fear a lot. Then I questioned myself, am I ready for facing this kind of situation, I just couldn't imagine if I marry with someone who I don't know at all. Saat itu, gue ngga tau apa gue sanggup, apa gue siap.
Gue awalnya mempertanyakan bagaimana kalau ternyata pada akhirnya perasaan itu tidak ada, karena ada orang-orang yang sedekat apapun dengannya, gue hanya tidak bisa menyukainya in that way, gue hanya sayang selayaknya seperti seorang teman, seperti saudara.
Gue sebenarnya masih ngga tau apa gue siap to take further step in my life. Karena ya, ternyata masalahnya bukan gue kenal dia atau ngga, masalahnya ada pada diri gue sendiri. Saat itu, gue ngerasa belum selesai sama diri gue sendiri. Kalau kata orang, cintai ia karena Allah, tapi gue masih belum paham bagaimana caranya. Well, I am trying and working on it, for loving someone lillahi ta'ala, but I just don't know....
I do not have great love life yet so far, tapi gue selalu berharap bahwa ia yang akan hadir dan menemani hari-hari gue nantinya adalah seseorang yang gue sayangi dari dalam hati setulusnya, seseorang yang sama sama saling menghargai, sama sama berjuang bersama untuk menjadi lebih baik, untuk sama sama lower the ego tanpa merasa dikorbankan, he who I know that I can have his back no matter what, he who I know that we can support each other even though we have different path, karena buat gue bersama bukan berarti harus selalu sama.
Dan ya, mungkin yang dibutuhkan perempuan adalah "diperjuangkan" dan sebuah perasaan "dibutuhkan". Mungkin by default memang begitu. Kalau me-refer lagunya Tulus yang sewindu, mungkin karena Tulus hanya menyimpan rasa yang dipendam sejak lama, jadi si perempuan melupakannya dan berpaling ke pangeran yang memberikan harapan. Tulus larut dalam angan, angan tanpa tujuan. Tapi si perempuan juga jangan keterlaluan PHP nya seperti Summer, yang bagi gue sih ngga manusiawi. Dan masalahnya, ngga semua perempuan bisa seperti Khadijah yang melamar Nabi lebih dahulu. Karena perempuan dipilih, bukan memilih, tapi berhak memutuskan.
Oh ya, setelah semua cerita yang gue temui, mungkin seseorang yang kausukai selama bertahun-tahun, adalah ia yang kelak menikah denganmu. Atau mungkin seorang yang kau miliki perasaan kepadanya selama bertahun-tahun, bukanlah ia yang kelak akan menikah denganmu. Dan mungkin juga, seseorang yang bahkan tidak pernah kau kenal sebelumnya adalah seseorang yang menikah denganmu, dan kau bersyukur untuk itu.
Jadi, kalau sekarang gimana? Udah siap? Hmm, gue serahkan semua kepada Tuhan.
Make do'a for whatever you wishing for.
Regards,
Ayu
yang masih berharap
sama Allah.
PS :
Anyway, entah kenapa, out of no where, drama korea yang gue tonton ini mengutip quote dari Gary Becker, "According to the sociologist, Gary Becker, people get married when it provides more benefits than being single". Kemudian gue browsing, dan ternyata Gary Becker bukan hanya economist, tapi juga sociologist, dan menulis "A Theory of Marriage". Okay, fine, kenapa bahkan nonton drama korea masih juga berkaitan dengan economics, haha.
Comments
Post a Comment