maybe we should look back a little bit, just to respect our journey and appreciate what we have done
Jadi, sudah memasuki 2019, dan kemarin kebetulan melihat status seorang teman, "2018 sudah bermanfaat buat siapa?" yang rasanya agak #jleb.
Jadi, 2018 udah ngapain aja? haha, agak satirize sih buat gue, since gue ngerasa super sangat mediocre dibandingkan dengan apa yang dialami oleh orang-orang disekitar. Tapi katanya kan "respect the journey", sum of all my small choices along the journey that shape me now. Gue mungkin ngga sekeren mereka, tapi gue punya perjuangan gue sendiri, punya battlefield gue sendiri. Ngga papa kok untuk jadi biasa aja, seenggaknya kan ngga berbuat jahat, haha.
Mudah? Buat gue, sama sekali ngga, terutama di usia yang tanpa sadar sering membandingkan banyak hal, terutama tentang hidup dan segala pencapainnya. Berada di lingkungan orang-orang yang super keren, IP tinggi, menang kompetisi lomba ini itu, lolos ini itu keberuntungan super banyak, tapi perjuangan yang juga sangat hebat, membuat gue merasa kalau gue bukan siapa-siapa.
Tapi di tahun ini, gue menemukan banyak hal, gue menemukan apa yang sebenarnya gue ingin pelajari selama ini, menemukan insight dari dosen-dosen yang keren banget yang bikin mindblowing, menemukan teman-teman yang bisa diajak ketawa bareng dan mengingatkan untuk senang, menemukan situasi yang membuat gue belajar mengurangi keegoisan tanpa merasa dikorbankan, memnemukan keadaan di mana gue belajar me-manage perasaan yang ternyata ngga mudah, haha. Hal-hal kecil yang membuat gue sangat bersyukur, meskipun juga mengalami perasaan dan emosi yang sering naik-turun, dengan berbagai pertemuan dan perjalanannya, dan ya berbagai kegagalan dan penolakan yang ngga sedikit, hahaa. Gue belajar, kalau ngga selamanya semua tentang pencapaian, tentang keberhasilan, karena ada banyak hal yang terjadi selama perjalanannya.
Ya, gue merasa beruntung terpapar dengan banyak hal, yang sebenarnya ingin gue share ke banyak orang. Gue menemukan intersection atas apa yang gue minati, semacam perasaan, "finally, this is it", setelah perjalanan berliku dengan rantai kimia, sistem tubuh manusia, berbagai bahan makanan, atau pengambilan data di lapangan. Lalu, tadi nemu thread dari awardee salah satu beasiswa, yang membuat gue mengingat kembali alasan gue akhirnya pilih ekonomi. Gizi ke ekonomi, sama sekali ngga biasa di Indonesia, yang umumnya gizi ke manajemen, entah karena pada akhirnya mereka bekerja di sektor keuangan atau karena ingin menjajaki karir di manajemen perusahaan. Sedangkan, gizi ke ekonomi, mungkin agak asing, terutama ketika gue bilang mau evaluasi efektivitas program, yang kemudian ditanya waktu wawancara, kenapa harus di ekonomi belajarnya, haha. Saat itu, gue sama sekali belum terpapar banyak, kalau sebenarnya nutrition and economics are beyond what they think.
Gue diingatkan kalau gue beruntung punya kesempatan belajar banyak hal sejauh ini. Setidaknya, apa yang gue pelajari terkait dengan apa yang gue alami sehari-hari, tentang makanan, tentang jual beli, tentang perilaku, tentang pilihan. Lalu, semacam merasa punya tanggung jawab, kira kira apa yang bisa gue share, haha.
Pun gue ngga tau perjalanan nantinya akan membawa gue kemana, yang jelas berharap menemukan kebaikan dan memberikan kebaikan di dalamnya, hehe.
Semoga senantiasa diberi petunjuk Tuhan atas peran yang dijalani di muka bumi.
Regards,
Ayu,
wishing you
a blessed new year
PS:
Lagi penasaran sebenarnya untuk baca bukunya Sylvester McNutt dan Steven Pinker, wkwk, padahal harusnya mulai serius menulis (thesis), haha.
Comments
Post a Comment