how if I made biased decision (?)
Jadi, ingin memberikan selamat kepada diri sendiri karena kali ini menulis (sedikit) panjang, haha. Padahal, setiap post-post kecil ngga penting kemarin punya cerita, tapi entah apakah akan dielaborasi lebih jauh atau ngga nantinya, karena katanya ada hal-hal yang lebih baik tidak dikatakan. Oh, dan karena gue tau ngga akan ada yang akan mampir di sini (kecuali kamu), jadi itu kenapa gue memilih nge-post di sini dibandingkan twitter. Atau mungkin alasan sebenarnya adalah karena gue tau kalau kamu pasti akan baca (?), ngga deng bercandaa, wkwk. Gue aja ngga tau kamu siapa, hahaa.
Okay, jadi akhir-akhir ini lagi sering mempertanyakan gimana caranya membuat keputusan atas apa yang gue lakukan tanpa bias, tapi kayanya ngga mungkin sih, wkwk. Mungkin kalau kamu tau, bisa ngasih info, hahaa.
Ini karena awalnya gue merasa ketika gue melakukan sesuatu, gue perlu punya alasan, gue perlu tau the reason why, dan itu membuat gue merasa jarang melakukan sesuatu atau membuat keputusan secara random. Sok-sok-an berpikir logis, tapi padahal gue ternyata membuat keputusan atas apa yang menurut gue benar, haha. Karena toh setiap apapun yang dilakukan pasti yang menurut gue paling baik, paling ngga yang memberikan utilitas paling tinggi, tapi padahal bisa jadi bias karena faktor pembentuk utilitasnya ternyata ngga tepat.
Ini yang menurut gue penting sih, belajar dari pengalaman. Karena gue tau kalau keputusan gue bisa banget bias dan salah, tapi setiap keputusan yang akhirnya dijalani akan memberikan pelajaran, kan.
Nulis ini juga gegara tiba-tiba menemukan cerita yang kemudian membuat gue mencoba memahami berbagai keputusan orang lain, dan ngga membuat judgement. Misal, menurutmu pada kasus PHP, yang salah yang (sepertinya) memberi harapan atau yang merasa diberi harapan? Awalnya, gue merasa yang salah adalah yang memberi harapan. Tapi ngga juga, karena gue merasa bahwa everyone always do have control for what they do (and hopefully for what they feel), dan ngga bisa selamanya merasa menjadi korban, semacam cenderung playing victim. Hal lain, juga misalnya ketika punya masalah dengan orang lain. You always do have a choice to talk, meskipun ya itu, mungkin ada hal-hal yang sebaiknya tidak dikatakan.
Tapi gue tau, kalau setiap orang pasti punya alasan atas apa yang pada akhirnya mereka lakukan dan putuskan, dan itu adalah yang paling baik dan paling benar menurut mereka, dan karenanya hanya bisa berharap, semoga yang terbaik, apapun itu! Mohon doanya!
Anyway. wish me luck for facing challenges ahead! will report you soon about this :)
Regards,
Ayu,
excited yet
insecure
Comments
Post a Comment