Kenapa pindah jurusan?
Kenapa?
Karena mau cari jodoh. haha, engga deng, bercanda. Eh tapi kalau ketemu juga ngga nolak #eh
...Karena gue pengen jadi data analyst..
Jadi ceritanya, dulu gue pernah interview untuk jadi pegawai non pns di salah satu lembaga pemerintah yang gue incer banget, sejak sebelum gue lulus, untuk sebuah posisi yang gue pengen banget. Selama kuliah, gue memang sudah tertarik sama biostatistics, epidemiology, data analysis, dan human development.
Singkat cerita, gue dipanggil untuk interview, bareng sama lulusan terbaik (dari biostatistics) dan mahasiswa berprestasi fakultas. Jadi, ya, apalah saya, yang bagai pasir di lautan ini.. Waktu interview gue ditanya apa gue bisa STATA dan pernah ngolah data sekunder yang banyak.. Dan mungkin karena I have no experience in that kind of fields, so I was failed.
Semenjak itu, gue ingin meneruskan kuliah yang bisa buat gue jago stata, dan ngolah data sekunder yang beribu ribu.
Gue sempet pengen ambil applied statistics, teknologi informasi, sistem informasi manajemen kesehatan, public health, public policy, hingga akhirnya pilih economics, setelah mempertimbangkan berbagai hal. Ketika lulus tes pun, gue memutuskan untuk defer satu tahun. Niatnya sih untuk nyari beasiswa, tapi ya gitu...
Kemudian, takdir membawa gue di sini, saat ini. Then I'm falling in love, into this field, and wish to know more about development economics and public policies.
Karena dari awal gue memang ambil economics untuk relate ke health, nutrition, and food, gue jadi lebih fokus untuk deepen my knowledge. Akhir akhir ini gue juga mulai follow akun yang berhubungan dengan food security and food economics. Setelah baca beberapa journal, dan tweet, gue baru tau kalau banyak economist di bidang food and nutrition. Salah satunya, Lawrence Haddad, researcher di IFPRI, executive director of GAIN, an economist in development studies, di bidang food and nutrition. Beberapa economist lainnya, Peter Timmer, Jack Fiedler, misalnya, juga expert di bidang food and nutrition policy. They are economist, tapi studinya mostly about food and nutrition.
Awalnya memang agak merasa bersalah, kenapa pilih economics, kenapa ngga ngelanjutin gizi atau public health yang masih banyak banget masalahnya. Sama sekali bukan untuk potential higher income. Ada hal hal yang gue pengen capai dengan belajar economics, yang ngga bisa gue temukan kalau gue ambil nutrition and public health. Dan gue mau ngga mau menghabiskan waktu gue untuk belajar hal-hal yang ngga gue suka, seperti biokimia, atau biomedicine, misalnya.
Dulu, tiap gue pulang kerja, gue selalu lewat urban slum area di daerah salemba, dan gue selalu merasa bersalah karena gue merasa bertanggung jawab tapi ngga tau apa yang bisa gue lakukan untuk bisa buat mereka meningkatkan derajat hidup mereka. Gue pernah baca, kalau one of the way to make this world a better place to live is through work. Jadi, gue pengen kontribusi sedikit to make this world better di bidang yang gue suka, dengan jadi data analyst, agar policy maker bisa buat kebijakan yang tepat sasaran, yang ngga buang buang anggaran. And how to have that skill, adalah dengan belajar ekonomi.
Even in this point, I guess I made an irrational decision, dengan merelakan kesempatan kesempatan yang ada, dan bahkan sacrifice apa yang gue punya, if you know my story through this. Tapi, gue bahagia, dan gue ngerasa path yang gue tempuh sekarang, Insya Allah akan membawa kebaikan.
Setelah gue belajar pun, banyak banget life lesson yang bisa diambil. Behavioural economics misalnya, bisa dipelajari untuk intervensi perilaku kesehatan yang lebih baik. Perilaku bukan semata mata ditentukan oleh sosial ekonomi dan pengetahuan, ada preferensi di sana yang sulit diukur. Mau ngga mau, semua aspek kehidupan dan perilaku seseorang memang terkait sama ekonomi, in terms of maximizing utility, apapun utility nya.
Jadi, siapa yang bilang gue pindah jurusan? I just extend my skill and take some specific fields. And ya, I know it is not easy and it will be that hard.
Tapi apapun itu, semoga selalu bersyukur, semoga selalu diberkati!
Mohon bimbingan dan mohon doanya!
PS :
Kalau diterima cpns gimana? Aamiin! Hmm, tapi kita pikirkan nanti...
Comments
Post a Comment