Skip to main content

12th


Apakah harus menjadi orang lain untuk jadi menarik?


Pernah ngga sih, ngerasa iri sama seseorang karena dia populer, atau loveable, atau bisa menarik orang orang untuk berada di sekitarnya, misalnya. But, once you tried to be one of them, you just feel, that it isn't you, and you just feel tired of this kind of pretending.

Gue pernah, dulu. Gue termasuk seseorang, yang katakan, overthinking dan ini buat gue selalu berpikir, apa gue melakukan sesuatu yang sudah seharusnya.

Gue pernah mikir, kenapa gue ngga bisa seperti yang lain nya, yang sering posting di media sosial, memamerkan sedang apa dimana bersama siapa bagaimana. I have a life, like others. Gue hangout, kadang makan enak, jalan-jalan, masak-masak, baking cookies, doing the chores, pake make up, wearing a beautifull dress, jatuh cinta juga, punya masalah, sering nangis, sometimes facing drama in life, tapi entah kenapa gue ngga bisa untuk, somehow, share it. Ngga tau, ngga bisa, aja. Once a while, gue punya keinginan untuk share my life. Dulu gue pernah coba ngikutin orang-orang, karena gue ngeliat orang orang keren itu share their life, their opinion. Tapi, kemudian gue mikir, do I really have to do that, just to be like those people, to be like the others. Gue pernah denger, share it to express not to impress.

Gue sama sekali ngga punya masalah dengan orang yang sering share something, whether about their life or their opinion, seneng malah. Gue jadi tau tentang hidup mereka, dan gue turut bahagia kalau mereka bahagia, mungkin gue bisa bantu kalau mereka lagi sedih dan butuh bantuan. Gue, hanya, ngga bisa share my life in social media. Lagi, karena gue selalu punya pertanyaan dalam otak gue, apa gue harus melakukan ini, apa ini hal yang benar untuk dilakukan, jangan-jangan gue cuma mau impress orang lain. Sometimes, I do share about my life or my opinion, entah karena itu bagi gue menyentuh banget atau keren banget atau lagi pengen aja, haha, but mostly I don't share my daily life. Gue takut kalau pada nantinya, when I have a taught to share my life in social media, the reason is to impress anyone not to express me or my life or my thought, just to tell them what I did, or what i felt, wishing for their little bit of attention, that I am alive, I am exist. Beda dengan nulis di blog, karena bagi gue, di sini gue express my thought dengan bebas sesuka gue, dengan tulisan tulisan gue, tanpa gue harus mikirin pendapat orang lain, tanpa gue harus impress orang lain, tanpa gue berharap ada yang baca tulisan gue.

Karena overthinking ini juga, gue jadi ngerasa ngga enak-an kalau ngerepotin orang, jadi gue ngga keberatan untuk kemana mana sendiri atau melakukan sesuatu sendiri, kecuali kalau gue bener bener udah ngga bisa. Gue terbiasa untuk ke kamar mandi sendiri, ketika yang lain minta dianterin, atau ke toko buku sendiri, ketika yang lain minta ditemenin. Bagi gue, kadang janjian dan tunggu-tungguan itu buat gue, apa ya, agak kesel, selain karena gue ngga mau ngerepotin orang dengan minta dianterin kesana kemari. Terkesan ngga punya perasaan ya, haha, tapi gue akan bantu orang sebisa gue ketika dia punya masalah. I have a different way to express my sympathy. Ini yang buat gue cenderung ngga cocok untuk punya geng, karena ketika gue punya geng, gue harus ke mana mana bareng, tunggu-tungguan, punya barang samaan, jaga perasaan, jaman smp banget sih, haha. Gue lebih prefer dengan sedikit teman dekat dan dekat dengan siapapun, dibanding punya geng.  Antara terlalu mandiri atau menghindari komitmen, haha. Sebenarnya, katanya ini ngga bagus. Tapi, tetap saja, gue ngerasa ngga enak buat ngerepotin orang lain. Ini kenapa gue sering banget minta maaf ke orang karena ganggu atau ngerepotin ketika gue minta bantuan.

Overthinking ini buat gue terbiasa untuk memikirkan, mempertimbangkan segala hal, termasuk ketika gue memutuskan untuk do something, ask someone, or buy anything. Gue akan melakukan sesuatu, ketika gue punya justifikasi for doing something. Gue akan tanya seseorang, ketika gue ngerasa benar benar butuh bantuan. Gue akan compare ketika memutuskan membeli barang, termasuk harga, kualitas, kegunaan, keergonomisan. Jadi, jangan heran kalau baju, sepatu, tas, yang gue pakai itu-itu aja, karena all those things sudah melewati berbagai pertanyaan dalam otak gue. Jangan heran juga, kalau gue ngga bisa basa basi atau modus ke orang lain. I am a kind of 'straight to the point' person. 

Kadang gue mikir kenapa gue overthinking dan "kurang cari perhatian". But then, setelah browsing, sepertinya karena gue mungkin adalah seorang INTJ.

As most women tend to share virtually everything of their private lives with other females, the INTJ female runs into difficulties (Tessa Schlesinger)

Jadi, gue pernah nyoba tes MBTI di https://www.16personalities.com/ dua kali di rentang waktu yang berbeda, dan gue mendapati hasil bahwa gue INTJ. Meskipun, pada beberapa tes online lainnya, hasilnya beragam mulai dari ISTJ, INFJ, INTx. Tapi gue merasa, yang lebih mewakili gue adalah INTJ.

Gue juga pernah tanpa sengaja tes sedik jari, meskipun gue ngga tau reabilitas dan validitas nya gimana. Bukan tes sidik jari yang untuk DNA, haha, tapi yang untuk kepribadian.  Jadi, waktu itu ada kerabat senior di kantor yang dateng untuk tes sidik jari nya consultant dari LSHTM, dan gue ikutan nyoba. Hasilnya, dominant function gue adalah Thinking extrovert (Te). Awalnya gue heran dibilang extrovert, karena selama ini tes yang lain bilang kalau gue introvert. Jadi, extrovert pada tes ini maksudnya adalah lapisan otak gue abu-abu, ngga tau sih gimana prosesnya, tapi jadinya ini yang buat gue perlu motivasi dari luar. Ini kenapa gue butuh belajar di perpus, kenapa gue harus olahraga di lapangan, atau kenapa gue harus take courses, karena gue ngga termotivasi kalau melakukan sesuatu sendiri di rumah, gue perlu untuk melihat people do the same things to be motivated. Jadi gue ke perpus, bukan karena gue rajin. Ini juga kenapa gue cenderung generalis, instead of spesialis, kenapa gue lebih tertarik  makro, instead of mikro, kenapa gue merasa ngga akan tahan kalau gue jadi dietitian (meskipun dulu banget pengen kerja di rumah sakit, karena gagal masuk kedokteran, haha), karena gue cenderung ngga bisa mendalami sesuatu sampai ke akar-akarnya.

Gue ngga paham juga sih, yang mana yang hasilnya lebih benar secara ilmiah, belum pernah coba browsing. Dominant function Te di MBTI test cenderung mengarah ke ENTJ atau ESTJ, meskipun Te juga menjadi auxilary function of INTJ... Tapi ya apapun itu, kan yang penting seenggaknya gue bisa mengenali diri gue lebih baik. Jadi gue tau gue ngga bisa di mana, potensi gue di mana, dan apa yang perlu diperbaiki, since gue ngga cukup baik untuk Feeling function, jadi terkesan ngga punya perasaan.

Dan gue ngga bisa memaksakan diri gue untuk jadi orang lain. Pretending to be someone else is tiring. Dan ya, yang harus diterima adalah everyone is different, and they have their own personality and utilities. Gue hanya harus jadi the best version of me, be the better of me, and hopefully dia di masa depan bisa menerima gue apa adanya, dan gue juga pasti akan menerima dia apa adanya, tanpa lupa untuk berusaha jadi lebih baik.


dini hari,
menjelang pagi.


PS:

Kemarin nemu quote bagus dari Huffpost:

You're forgetting that the right person will fall for you without you even having to try.. 
(Sonya Matejko)

Jadi, jangan insecure untuk jadi diri sendiri, haha...

Comments