Adulting be like, hmm....
Tadi ketemu dengan sepupuku yang baru punya anak kedua..
S : Berarti Ayu sekarang 25 ya?
G : Iya, haha.. Cariin calon dong, Mas..
S : Haha, emang udah siap?
G : ......
Anyway, menjadi dewasa itu sesuatu yang apa ya.....
Gue sebenarnya bukan anak yang manja, meskipun mungkin kesan yang tampak seperti itu, salah satunya karena gue ngga bisa naik motor atau ngga pernah nge-kos dan selalu bawa bekal.
Iya, gue ngga bisa naik motor, yang mungkin menurut sebagian orang merupakan sebuah keterampilan wajib yang harus dimiliki. Tapi, gue merasa cukup tangguh untuk jadi pegiat kendaraan umum, macem krl, kopaja, angkot, transjakarta, kereta ekonomi, atau ojek. Yaa, meskipun gue buta arah dan ngga mudah menghapal jalan, tapi gue bukan anak manja yang harus naik mobil ber-AC.
Salah satu alasan paling krusial kenapa gue pada akhirnya naik mobil adalah karena gue jauh lebih hemat dengan naik mobil. Biaya transportasi ketika gue naik mobil berdua bareng adek gue lebih murah dibandingkan kalau gue naik gojek, apalagi naik angkot. Rumah gue agak sulit diakses dengan angkutan umum, jadi harus disambung ojek. Gue butuh sekitar 15k++ untuk pulang pergi ke kampus dengan ojek online, dikalikan dua dengan adek gue, kami butuh sekitar 30k++ sehari untuk biaya transportasi. Dengan naik mobil, kami hanya butuh sekitar 10k untuk bensin dan 4k untuk parkir. Mungkin ini masih jauh lebih mahal dibandingkan kalau gue bisa bawa motor sendiri, tapi bagi gue it helps a lot karena gue bisa menghemat lebih dari 50% dibanding dengan gue naik transportasi umum.
Selain itu, mobil jarang dipakai sejak ayah gue sudah ngga aktif kerja, jadi kami hanya memaksimalkan manfaat pajak yang sudah dibayar setiap tahunnya, wkwk. Selama ini mobil yang dimiliki keluarga gue pun biasanya bukan mobil baru, dan yang gue pakai ini sudah berusia lebih dari 10 tahun. Gue juga bawa mobil untuk membantu gue belajar menyetir dengan baik. Gue sadar kalau gue harus bisa menggantikan ayah gue menyetir, karena gue ngga bisa selamanya merepotkan beliau. Gue ngga punya saudara laki-laki, jadi mau ngga mau gue harus bisa mandiri, dan salah satunya adalah seenggaknya gue harus bisa menyetir.
Sejujurnya gue agak jengah dengan mereka yang berpikir kalau orang yang naik mobil padahal rumahnya dekat adalah anak manja nan tajir. Karena ngga semuanya begitu, termasuk gue, dan untuk itu gue menuliskan apa yang gue pikirkan di sini.
Lalu, gue memang ngga pernah nge-kos dan hampir selalu bawa bekal. Ini mungkin mengesankan kalau gue anak manja yang selalu diurus oleh orang tua. Tapi menurut gue, bukan berarti mereka yang ngga nge-kos adalah anak yang manja. Jadi, beberapa bulan terakhir gue sering ditinggal ayah dan ibu gue selama berminggu-minggu karena ibu gue harus membantu merawat nenek gue yang bedridden di Jogja. Padahal dulu, ketika ibu gue masih kerja, gue jarang banget ditinggal beliau, paling lama 3-4 hari. Sebagai anak perempuan tertua yang cukup tau diri, otomatis gue hampir secara total menggantikan peran ibu gue selama beliau ngga di rumah. Kami ngga punya pembantu, jadi ibu mengerjakan hampir sebagian besar pekerjaan rumah, kadang gue bantu. Tapi, ibu kadang ngga mau dibantu, ribet katanya karena jadi ngga leluasa di dapur.
Ketika ibu ngga di rumah, gue pada akhirnya yang mengerjakan hampir itu semua. Bahkan kemarin, di saat gue ujian, bulan puasa, dan gue juga harus mengerjakan segala macam pekerjaan rumah, karena adek gue juga sedang sibuk-sibuknya ngerjain skripsi. Gue yang biasanya kalau bangun sahur dua puluh menit sebelum subuh, jadi harus bangun paling ngga enam puluh menit sebelumnya untuk menyiapkan makanan. Lalu setelah subuh mencuci piring kotor dan memilah makanan yang harus dibuang atau dimasukkan kulkas. Beruntungnya jadwal ujian gue siang hari, jadi biasanya gue akan langsung ke kampus untuk belajar sebelum ujian karena takut ketiduran dan malam sebelumnya hanya belajar sekenanya. Pulangnya, gue mencuci baju, sambil menyiapkan buka. Lalu tarawih dan setelahnya cuci piring lagi. Setelah itu gue baru belajar sampai gue ngantuk, haha. Gue merasa gue belajar banyak banget dengan ditinggal ibu di rumah, meskipun gue bersyukur banget ayah gue cukup gentleman untuk membantu gue menanak nasi, goreng telur sendiri, atau cuci baju.
Gue merasa hal yang paling krusial dengan menjadi dewasa adalah, hmm apa ya, belajar untuk ngga egois. By the way, ini sulit loh. Misal gini, kalau gue nge-kos sendiri, gue bisa sesukanya makan kapan, cuci baju kapan, bangun kapan. Kalau lagi males, gue bisa sahur pakai roti dan susu atau hanya pakai sereal tanpa merasa bersalah. Tapi, gue ngga mungkin memberikan roti dan susu untuk makan sahur ayah dan adek gue, gue ngga mungkin membiarkan mereka tanpa baju bersih karena belum dicuci, gue ngga mungkin menolak untuk menggantikan menyetir ketika adek gue di ujung deadline, seberapapun misalnya gue sibuk dengan ujian dan tugas-tugas. Dan kadang, lower the ego tanpa merasa dikorbankan itu ngga mudah.
Terus gue kemarin baru baca buku tentang Kirana yang sangat terkenal itu, haha. Buat gue, bukunya bagus banget, menceritakan perjuangan Ibuk Retno Hening dan tips parenting yang menurut applicable. Gue dulu juga sering nonton The Return of Superman waktu masih ada "Song Triplet" dan gue amazed banget dengan cara Papa Il Gook dan istrinya mendidik anaknya. Ini yang buat gue mikir betapa hebat ibu-ibu yang bekerja tapi bisa mengurus keluarganya dengan baik, sebenarnya ini pun berlaku untuk para bapak. Gue merasa sih, ibu yang hebat itu berperan banget, didukung dengan bapak yang hebat juga. Dan entah kenapa ketika ngobrol dengan adek gue, gue bilang "gue pengen jadi ibu yang seperti Mama" karena menurut gue, ibu gue hebat banget dengan berbagai kelebihan dan kekurangan beliau.
Gue kemudian mikir, menjadi dewasa itu berarti harus siap dengan berbagai tanggung jawabnya, siap untuk ngga egois, siap untuk bisa lebih bersabar, siap untuk melalui lika-liku hidup, haha. Karena ada orang lain yang gue harus dipikirkan, yang harus dipenuhi kebutuhannya, bukan hanya diri sendiri. Ketika katanya gue terlihat masih suka main, terus pertanyaannya, udah merasa siap?
Haha...
Regards,
Ayu
yang masih belajar
untuk jadi dewasa
PS:
Akhirnya gue gagal nonton Star Wars, dong pun. Sedih sih, hiks.
Oh iya hari ini tarawih terakhir, lalu sedih juga ngga? wkwk..
Comments
Post a Comment