happy father day!
Meskipun agak telat, tapi selamat hari ayah, my first man!
Gue lagi pengen cerita aja tentang ayah gue. Beberapa waktu lalu sempat ngobrol dengan ayah, tentang banyak hal. Selama ini, ayah selalu jadi panutan gue, baik untuk masalah pendidikan, karir, kehidupan, dengan berbagai kelebihan dan kekurangan beliau. Gue cukup sering diskusi dengan ayah termasuk ketika memutuskan peminatan atau tentang topik tesis (that i will face it soon, hopefully).
Ayah adalah tipe yang membebaskan anak-anaknya untuk berbagai keputusan yang diambil dalam hidup kami, kecuali bagi hal-hal yang menurutnya terlalu berbahaya. Ketika diskusi, ayah akan memberikan saran, tapi keputusan terakhir tetap ada di gue, dan beliau menghargai itu. Termasuk ketika dulu gue pengen banget masuk kedokteran atau ketika gue akhirnya memutuskan untuk lanjut kuliah, atau ketika adek gue akhirnya pindah jurusan. Dan seperti yang pernah gue tulis, orang tua gue, termasuk Ayah, ngga pernah menuntut gue untuk berbagai hal di hidup gue, dan itu membuat gue, hmm, cukup bersyukur mengingat kapasitas gue yang rata-rata ini, wkwk.
Dan setelah banyak ngobrol dengan ayah, ternyata semua bermula dari masa kecil beliau yang dididik dengan agak otoriter oleh alm. kakek, dan beliau ngga mau menerapkan hal itu kepada anaknya. Well, life is a process that makes everyone evolves, hopefully for being a better person, dan semoga gue dapat mengambil pelajaran yang baik dari apa yang telah ayah gue ajarkan selama ini.
Ayah adalah anak kedua dan menjadi anak lelaki tertua dari tujuh bersaudara, sehingga otomatis beliau menjadi harapan keluarga. Keluarga ayah bukan priyai, kakek adalah PNS di Jogja, dan nenek adalah ibu rumah tangga, tapi mereka memiliki komitmen untuk menyekolahkan anaknya hingga pendidikan tinggi dan hamdalah berhasil. Keluarga ayah sepertinya dikaruniai dengan kemampuan kognitif yang cukup baik, tapi ayah gue bisa dibilang ngga cukup pintar.
Ayah sangat lack of language skill, baik itu bahasa indonesia, inggris, arab, yang membuat perjalanan pendidikan beliau penuh perjuangan. Beliau pernah terancam tidak naik kelas di sekolah dasar. Ketika SMA, ayah terpaksa masuk sekolah kristen karena beliau ngga diterima seleksi masuk sekolah negeri dan ngga bisa mengaji. Ketika kuliah pun, beliau harus masuk universitas swasta karena gagal seleksi universitas negeri, dan terancam ngga selesai karena biayanya mahal. Hingga akhirnya di kesempatan terakhir, beliau berhasil diterima di UGM, tapi membutuhkan waktu lebih kurang tujuh tahun untuk lulus kuliah. Kalau bisa dibilang ini sangat berbeda dengan saudara beliau yang berhasil lolos seleksi sekolah manapun dengan mudah.
Tapi beruntungnya, setelah bekerja beliau dikirim untuk take courses di US, dan sempat ke Belanda untuk kuliah master yang pada akhirnya hanya menyelesaikan pre master, karena menurutnya beasiswanya dicabut akibat masalah politik antara Belanda dan Indonesia. Padahal kalau dipikir, gue sebenarnya agak ragu dengan kemampuan bahasa inggris ayah gue, tapi nyatanya beliau benar-benar ke sana dan survive.
Ayah kemudian melanjutkan kuliah di Indonesia setelah beliau menikah. Beliau ambil ilmu lingkungan dengan peminatan ekonomi lingkungan. Penelitian beliau mengenai analisis biaya manfaat salah satu waduk di Jawa Barat dan menurut beliau modelnya dibawa dan diaplikasikan oleh pembimbingnya di negara berkembang lain, yang mana padahal menurut beliau nilai mata kuliahnya ngga bisa dibilang bagus. Beliau bahkan sempat ditawarkan untuk bekerja di ADB, menggantikan pembimbingnya yang pindah ke World Bank.
Tapi, minat ayah adalah mengunjungi berbagai daerah di Indonesia dan berinteraksi dengan pemerintah daerah di sana, selain karena sebenarnya tak punya dana untuk mengganti biaya pendidikan, hehe. Ayah memiliki spesialisasi di bidang perbatasan wilayah, dan telah mengunjungi hampir semua provinsi di Indonesia. Beliau pergi ke berbagai kabupaten/kota hingga ujung perbatasan Indonesia dan bahkan pernah di demo akibat konflik perbatasan di suatu wilayah. Tapi sayangnya, gue ngga punya ketertarikan yang sama.
Meskipun begitu, seperti yang pernah gue ceritakan, ayah cukup gentleman dalam kehidupan sehari-hari. Ayah biasanya buat kopi sendiri dan ngga pernah minta ibu untuk dibuatkan kopi, beliau ngga menuntut ibu untuk menyiapkan makanan tertentu dan biasanya akan beli sendiri kalau beliau sedang menginginkan sesuatu, dan ketika gue sering sakit waktu gue kecil, ayah akan membantu take care of me ketika ibu belum pulang karena biasanya ayah pulang lebih cepat meskipun beliau sering tugas luar kota. Yang paling penting adalah ayah hampir ngga pernah melarang ibu untuk melakukan apapun yang diinginkannya, in a good way. Ini yang menurut gue patut diacungi jempol sih dan gue merasa beruntung mendapat contoh yang cukup baik menurut gue selama ini di keluarga.
Dan gue inget, ayah adalah ia yang dulu menyarankan gue ambil economics ketika gue SMA. Gue inget banget beliau menyarankan "ambil ekonomi aja, bidangnya luas" ketika gue diskusi dengan beliau tentang jurusan. Tapi gue dulu secara sadar ingin banget jadi dokter, hingga akhirnya gue selalu gagal seleksi masuk kedokteran. Ayah bilang sebenarnya beliau agak ragu gue ambil kedokteran, karena gue liat tikus mati aja jijik, ngga bisa megang ayam hidup, takut sama kecoa, hahaa. Tapi, ayah selalu mendukung apapun keinginan anak-anaknya, asalkan itu baik.
Hingga akhirnya gue kuliah di gizi dan ayah gue sempat cerita kalau beliau sebenarnya punya keinginan gue menjadi bagian dari UN Agency, semacam WHO, atau masuk ke pemerintah. Setelah lulus, gue mencoba apply di banyak tempat, hingga gue akhirnya diterima di salah satu organisasi pemerintah tingkat ASEAN. Ayah cukup senang dengan tempat kerja gue saat itu karena menurutnya apa yang beliau inginkan untuk gue telah tercapai, karena ternyata beliau sebenarnya ngga ingin gue kerja di rumah sakit atau di industri.
And surprisingly, my dad was told me when he was in Washington around 1980, he was seeing World Bank Building. And you know what, he suddenly said "Waktu Papa liat World Bank, Papa sempat mikir mungkin Papa akan kerja di World Bank kalau dulu Papa ngikutin Mbah. Tapi saat itu Papa bilang ngga apa apa, mungkin nanti anak Papa.".
"Hopefully, it will be happened one day, Dad," I do really wish.
Regards,
Ayu
yang masih
respect dengan Ayah-nya
PS:
Gue baru nonton channel-youtube nya afutami dan suaminya, frame & sentences, dan itu membuat gue semakin pengen nulis tentang liberalis.
Comments
Post a Comment