liberal (n)
a person who is liberal, such as one who is open-minded or not strict in the observance of orthodox, traditional, or established forms or ways
Beberapa waktu lalu, seorang teman share tentang pesebaran fakultas berdasarkan tipe pemikiran liberal-konservatif. Public health berada di region konservatif, sedangkan economics di region liberal, dan jadinya gue terkesan berubah 180 derajat, wkwk.
Tapi, menurut gue, berbagai hal yang gue temui dalam hidup gue membuat gue cukup liberal sejak dulu, hehehe. Meskipun kadang gue sering nge-judge, tapi gue cukup menghargai pilihan orang lain, dan gue paling ngga suka dipaksa, baik itu tentang pemahaman, doktrin, perilaku, atau apapun. Gue sering ngobrol dengan adek gue, dan ia takut kalau gue nantinya masuk ke filsafat lebih jauh, wkwk. Ngga kok, ngga sejauh itu, hahaa.
Hmm, mulai dari mana ya...
Jadi, selama ini gue diajarkan di public health mengenai "jika A maka B", kalau asupan tidak adekuat maka kurang gizi. Untuk sebuah keputusan misalnya, kalau pengetahuannya rendah maka memilih makanan tidak sehat. Ya ngga salah juga sih, karena public health adalah rumpun ilmu pasti, eksak. Pendekatan public health memang konvensional, dan terkadang itu memang perlu. Rasanya yang gue pelajari selama ini adalah jika pengetahuan seseorang berubah, maka perilakunya akan berubah. Tapi nyatanya, dunia kan ngga sesederhana itu.
Ini yang sebenarnya membebani pikiran gue sejak dulu, seberapapun upaya promosi kesehatan masyarakat, perilaku seseorang ngga akan semudah itu berubah. Lebih lagi, dulu promosi kesehatan masih banyak yang hanya seputar pembagian pamflet atau ceramah, jadi ya wajar aja kalau masih banyak orang yang ngga paham hidup sehat karena mereka ngga tau praktiknya seperti apa. Iklan di tivi pun seputar himbauan, bukan praktik yang dapat diterapkan sehari-hari, Mereka ngga tau makan yang baik seperti apa, karena apa yang mereka lihat adalah bagaimana enaknya makan di restoran cepat saji. Tapi gue seneng sih, beberapa tahun terakhir banyak iklan germas (gerakan masyarakat hidup sehat) yang cukup oke, yang sepertinya mengadaptasi proyek iklan dari GAIN dan mempertimbangkan karakteristik masyarakat Indonesia yang cenderung lebih visual.
Gue kemudian belajar economics, yang bidangnya memang benar-benar luas. Di economics, gue belajar mulai dari psychology, sociology, politics, industry, bahkan public health dan nutrition, selain tentunya math dan statistics, hiks. Gue belajar kalau keputusan seseorang adalah tentang preferensi dan utilitas juga ekspektasi, yang sulit diukur. Tapi yang dilakukan economics sebenarnya lebih sok tau dari public health, seperti melakukan prediksi dengan me-matematika-kan perilaku, wkwk. Ini serius, jadi semacam peramal gitu, misalnya kapan dan berapa suku bunga harus dinaikkan agar masyarakat menabung atau membeli saham, wkwk. Tapi, yang selalu diingatkan adalah tentang asumsi, jadi ngga boleh sok tau. Gue belajar bahwa semua hal pasti ada trade off-nya dan ngga ada yang sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah di dunia ini, termasuk pada keputusan yang diambil setiap orang.
Sejujurnya, gue beberapa kali menemukan pemikiran yang berseberangan antara public health yang konvensional dan economics yang liberal.
Misalnya gini, beberapa waktu lalu, gue bikin tulisan untuk salah satu tugas mata kuliah tentang sugary drinks tax to prevent obesity. Jadi, beberapa waktu terakhir sugar tax cukup banyak mendapat perhatian dan mulai banyak di-enforce di banyak tempat. Harapannya sugar tax dapat diberlakukan seperti cukai rokok, karena seperti yang diketahui konsumsi gula berlebih cenderung menyebabkan obesitas, yang memberikan risiko lebih tinggi untuk penyakit degeneratif. Puncaknya adalah ketika WHO diminta menahan rekomendasi sugar tax (WHO panel split on soft drink sugar tax to cut obesity) yang agaknya membuat public health expert kecewa. Tapi, terus gue baca baca lebih jauh tentang sugar tax ini dan kemudian menemukan artikel yang ditulis oleh Prof. Greg Mankiw di New York Times, "Can a Soda Tax Save Us From Ourselves?". Btw, Prof. Mankiw ini Prof. of Economics di Harvard dan bukunya jadi rujukan mahasiswa. Waks, gila sih, isinya cukup hmm apa ya, menohok menurut gue. Jadi katanya, "To what extent should we use the power of the state to protect us from ourselves? If we go down that route, where do we stop?" Hahaa.
Contoh lain misalnya adalah waktu gue nonton opini afutami di channel youtube-nya, frame and sentences, tentang "Berapa usia nikah yang tepat?" - On Marriage. Jadi, afutami membahas tentang tabel usia ideal menikah dan memiliki anak yang diambil dari ayonikah.com. Menurutnya, menikah dan memiliki anak adalah sebuah kebebasan seseorang, dan ngga setuju dengan anggapan kadaluarsa untuk perempuan yang memiliki anak melewati timeline tersebut. Ngga salah, dan gue paham karena ia berasal dari lingkungan yang berpendidikan baik. Gue pribadi juga sebenarnya kurang setuju dengan tabel itu, tapi sebagai seseorang yang pernah belajar public health, gue punya perhatian dengan anjuran untuk tidak menikah terlalu muda atau terlalu tua. Konsekuensi dari menikah pada usia tersebut adalah memiliki anak di usia yang terlalu muda atau terlalu tua, yang sebenarnya punya risiko kesehatan untuk si ibu dan si bayi, misalnya risiko kematian yang lebih tinggi. Nah, seberapa banyak sih orang di Indonesia yang paham konsekuensinya kalau ia akan punya risiko yang lebih tinggi jika memiliki anak terlalu muda atau terlalu tua, seberapa banyak masyarakat yang punya akses ke fasilitas kesehatan yang memadai ketika ia berada pada kondisi yang membutuhkan pertolongan akibat memiliki anak terlalu muda atau terlalu tua, karena ngga semua orang berpendidikan dan berpenghasilan baik, kan? Mungkin, dengan anjuran tidak menikah terlalu tua atau terlalu muda, masyarakat jadi lebih memiliki konsiderasi tentang risiko itu. Since she learns public policies at a very well-known uni, gue sebenarnya agak berharap opini yang disampaikan juga memberikan sudut pandang pertimbangan lain, selain tentang hak asasi untuk memilih kapan memiliki anak. Tapi di luar itu semua, gue seneng deh sekarang banyak yang mulai memberikan opininya dan berpendapat, wkwk.
Terus, pertanyaannya gimana untuk mengarahkan seseorang untuk berperilaku seperti yang diinginkan tanpa merasa dipaksakan atau dicederai hak asasi-nya, hahaa. Ini yang banyak dipelajari di behavioral economics. Salah satu buku tentang ini adalah Nudge, yang sedikit pernah gue singgung sebelumnya, meskipun belum selesai bacanya, haha. Nudge cerita tentang choice architecture untuk membuat choosers have a better decision through better information, karena menurutnya "Did Choosers Make Good Choices? Not Always". Misalnya gini, dibandingkan menaikkan pajak rokok mungkin akan lebih efektif memberikan informasi risiko merokok dan cara berhenti merokok, yang dibuat paling ngga sekeren dan sebagus iklan rokok yang gila banget. Karena, percaya atau ngga, sometimes exposure of information is a surprisingly strong motivator, and it could change preferences.
Seseorang yang menurut gue menggabungkan economics dan public health dengan keren adalah Prof. Lawrence Haddad, yang beberapa kali juga pernah gue bahas sebelumnya. Btw, Prof. Haddad ini belum lama dapet World Food Prize Laureate Award yang sepertinya cukup bergengsi karena beritanya sampai masuk beritasatu dan Reuters. Tulisan beliau sebelumnya banyak tentang intrahousehold allocation dan cara pandang ini yang menurut gue dibawa untuk program pangan dan gizi. Beliau membuat berbagai stakeholders realize that nutrition matters, yang menurut gue dengan pendekatan yang lebih rasional. Oke nutritionist bilang kalau gizi penting, tapi seberapa penting untuk invest ke human nutrition. Ternyata "For every dollar invested in nutrition a country can get 16 dollars in returns", dan karena baca ini di Global Nutrition Report yang akhirnya jadi salah satu alasan gue tertarik ke development issues.
Ini yang menurut gue mungkin ngga akan banyak gue temukan di nutrition, how to prioritize something over another things, how to make a better decision through choices, how to being less inefficient. Termasuk, kapan memaksimalkan nett benefit, atau kapan harus mempertimbangkan cost yang ternyata terlalu costly meskipun benefit-nya juga besar. Lalu, yang juga penting bagaimana menghadapi trade off atas apapun keputusan yang dipilih.
Punya banyak sudut pandang itu seru sih menurut gue. Gue merasa kalau public health perlu belajar bagaimana cara berpikir di economics, dan begitu juga sebaliknya. Sama seperti liberal perlu belajar bagaimana sudut pandang konservatif dan sebaliknya. Menurut gue setiap hal agaknya punya lebih dari satu sisi, jika A maka belum tentu B, dan bagi gue ngga ada yang sepenuhnya benar dan ngga ada yang sepenuhnya salah, hanya sekarang gimana caranya untuk bisa jadi less wrong, gitu sih kayanya ya. Gue ngga bisa langsung menentukan benar/salah untuk keputusan kapitalis/sosialis, brain drain/brain gain, free trade/apply tariffs, misalnya.
Gue belajar untuk less judging, termasuk pada apa yang gue temui sehari-hari, belajar untuk lebih menghargai keputusan seseorang, belajar kalau dunia itu bukan hitam/putih tapi abu-abu mungkin. Btw, ada sebuah scene waktu gue nonton Margin Call yang menurut gue keren, sih, dan membuat gue semakin berpikir kalau gue ngga bisa melihat sesuatu hanya dari satu sisi.
Seth Bregman : Shit, this is really going to affect people.
Will Emerson : Yeah, it's going to affect people like me.
Seth Bregman : No. No. Real people.
Will Emerson : Jesus, Seth. Listen, if you really want to do this with your life, you have to believe you're necessary. And you are. People want to live like this, in their cars and the big fucking houses they can't even pay for, then you're necessary. The only reason that they all get to continue living like kings is because we've got our fingers on the scales in their favor. I take my hand off, then the whole world gets really fucking fair really fucking quickly, and nobody actually wants that. They say they do, but they don't. They want what we have to give them, but they also want to play innocent and pretend they have no idea where it came from. That's more hypocrisy than I'm willing to swallow. So fuck... Fuck normal people. The funny thing is, tomorrow, if all of this goes tits up they're going to crucify us for being too reckless. But if we're wrong and everything gets back on track, then the same people are going to laugh till they piss their pants, 'cause we're gonna look like the biggest pussies God ever let through the door.
Seth Bregman : Do you think we're gonna be wrong?
Will Emerson : [long pause] No, they're all fucked.
Anyway, tulisan ini cuma opini gue aja sih, dan pasti nya belum tentu benar juga, hehehe. Jadi, gue sesungguhnya akan sangat senang kalau mungkin diajak diskusi dengan orang-orang, termasuk kamu, wkwk.
Regards,
Ayu
yang hmm apa ya,
liberal (?), hehe
PS :
Gue suka banget sama (opini nya) Mas Wikan yang tentang "Nggak minder istri pinter?" - On Educated Women di "frame and sentences", wkwk. Duh, Mas, suami idaman banget, sik. Hahaa
Anyway, baru nonton [Kenapa Belum Nikah?] Eps 5 - Bahagia itu adalah Mencintaimu, meskipun kalimat terakhir dari ceritanya super drama dan ngga banget, hahaa. Sebenarnya pun setiap orang sesungguhnya dapat memilih, untuk berjuang atau menyerah, untuk tetap tinggal atau menghindar, dan ngga ada yang benar-benar salah dengan itu, kan? Hehe
PSS :
Gue bikin tulisan cupu kek gini aja butuh waktu tiga hari, ckck.
Ini yang menurut gue mungkin ngga akan banyak gue temukan di nutrition, how to prioritize something over another things, how to make a better decision through choices, how to being less inefficient. Termasuk, kapan memaksimalkan nett benefit, atau kapan harus mempertimbangkan cost yang ternyata terlalu costly meskipun benefit-nya juga besar. Lalu, yang juga penting bagaimana menghadapi trade off atas apapun keputusan yang dipilih.
Punya banyak sudut pandang itu seru sih menurut gue. Gue merasa kalau public health perlu belajar bagaimana cara berpikir di economics, dan begitu juga sebaliknya. Sama seperti liberal perlu belajar bagaimana sudut pandang konservatif dan sebaliknya. Menurut gue setiap hal agaknya punya lebih dari satu sisi, jika A maka belum tentu B, dan bagi gue ngga ada yang sepenuhnya benar dan ngga ada yang sepenuhnya salah, hanya sekarang gimana caranya untuk bisa jadi less wrong, gitu sih kayanya ya. Gue ngga bisa langsung menentukan benar/salah untuk keputusan kapitalis/sosialis, brain drain/brain gain, free trade/apply tariffs, misalnya.
Gue belajar untuk less judging, termasuk pada apa yang gue temui sehari-hari, belajar untuk lebih menghargai keputusan seseorang, belajar kalau dunia itu bukan hitam/putih tapi abu-abu mungkin. Btw, ada sebuah scene waktu gue nonton Margin Call yang menurut gue keren, sih, dan membuat gue semakin berpikir kalau gue ngga bisa melihat sesuatu hanya dari satu sisi.
Seth Bregman : Shit, this is really going to affect people.
Will Emerson : Yeah, it's going to affect people like me.
Seth Bregman : No. No. Real people.
Will Emerson : Jesus, Seth. Listen, if you really want to do this with your life, you have to believe you're necessary. And you are. People want to live like this, in their cars and the big fucking houses they can't even pay for, then you're necessary. The only reason that they all get to continue living like kings is because we've got our fingers on the scales in their favor. I take my hand off, then the whole world gets really fucking fair really fucking quickly, and nobody actually wants that. They say they do, but they don't. They want what we have to give them, but they also want to play innocent and pretend they have no idea where it came from. That's more hypocrisy than I'm willing to swallow. So fuck... Fuck normal people. The funny thing is, tomorrow, if all of this goes tits up they're going to crucify us for being too reckless. But if we're wrong and everything gets back on track, then the same people are going to laugh till they piss their pants, 'cause we're gonna look like the biggest pussies God ever let through the door.
Seth Bregman : Do you think we're gonna be wrong?
Will Emerson : [long pause] No, they're all fucked.
Anyway, tulisan ini cuma opini gue aja sih, dan pasti nya belum tentu benar juga, hehehe. Jadi, gue sesungguhnya akan sangat senang kalau mungkin diajak diskusi dengan orang-orang, termasuk kamu, wkwk.
Regards,
Ayu
yang hmm apa ya,
liberal (?), hehe
PS :
Gue suka banget sama (opini nya) Mas Wikan yang tentang "Nggak minder istri pinter?" - On Educated Women di "frame and sentences", wkwk. Duh, Mas, suami idaman banget, sik. Hahaa
Anyway, baru nonton [Kenapa Belum Nikah?] Eps 5 - Bahagia itu adalah Mencintaimu, meskipun kalimat terakhir dari ceritanya super drama dan ngga banget, hahaa. Sebenarnya pun setiap orang sesungguhnya dapat memilih, untuk berjuang atau menyerah, untuk tetap tinggal atau menghindar, dan ngga ada yang benar-benar salah dengan itu, kan? Hehe
PSS :
Gue bikin tulisan cupu kek gini aja butuh waktu tiga hari, ckck.
Comments
Post a Comment