Skip to main content

73rd

#tentang Itaewon Class

Ternyata, udah lama banget ngga nulis blog, wkwk. Padahal ngga banyak yang dilakukan, hanya mungkin apa ya, rasanya kek feel overwhelmed dengan apa yang terjadi and it is draining my energy somehow. Rasanya lelah berada dalam survival mode, fear of missing out anything, anxious dengan uncertainty. Tapi di sisi lain juga mikir tentang hidup seperti apa yang sebenarnya ingin dijalani.

Lalu beberapa hari terakhir, mencari pelampiasan, dengan nonton drama korea lagi karena penasaran setelah baca tulisan tentang Itaewon Class yang tiba-tiba ada di timeline, haha. Ceritanya oke sih, bikin mikir tentang moral value dan perasaan.

Terus jadi inget tentang kelas ethics dan negotiation yang bikin mindblowing, dan somehow kesel karena jadi merasa hopeless. Why we,  in a discussion, are led to agree on one opinion, why we cant have different opinion, why do people make strategy to intervene other's opinion? I just cant get it somehow. Hal ini bikin gue makin sadar kalau gue ngga suka sama politics, se-ngga-suka-itu. Melihat secara nyata, dan bukan hanya merelasikannya dengan teori yang telah dipelajari, kalau people do something just based on their own interest. It is sickening for me, somehow. Someone has said that advocacy is the cost that you have to bear, but i just realize that i think i can not bear that cost, i just cant, and it makes me re-thinking much about my decision and things i should do.

Oke, lupakan saja, maafkan misuh-misuhnya. Balik lagi ke Itaewon Class, tapi gue ngga mau bahas ethics yang berat-berat, wkwk.

Kalau cerita ini adalah cerita yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari, maka cerita yang mungkin akan disebarluaskan ke netizen adalah "pacaran 15 tahun tapi kemudian direbut teman kerja", haha.  Apa yi seo salah karena mendekati pacar orang? Apa seo ro yi salah karena perasaannya berubah setelah sekian lama? Apa soo ah salah karena memberikan harapan untuk kepentingannya sendiri?

Apakah jika perasaan seseorang berubah itu sebuah kesalahan? Apakah memberikan harapan, baik yang mungkin disadari dan tidak disadari adalah kesalahan? Seberapa jauh seseorang berhak berjuang, bukankah setiap orang punya hak dengan perasaannya? Lalu, apakah dengan menyerah adalah juga sebuah kesalahan? Apakah sebenernya pernah ada waktu yang benar-benar tepat untuk melepaskan seseorang? Apakah sebenarnya pernah ada waktu yang benar-benar tepat untuk yakin menerima orang lain masuk ke dalam hatimu tanpa perasaan bersalah dan tanpa takut menyesal?

Everyone has their own moral value, so do me. Tapi, yang gue tau, gue ngga berhak men-judge value orang lain.


sincerely,
aku,
yang selalu berharap kamu bahagia

Comments