Skip to main content

75th

#tentang sebuah apa kabar


aku selalu senang ditanya apa kabar. tidak, bukan karena senang ditanya, hanya easier the feeling karena selalu merasa bukan menjadi bagian dari sistem masyarakat yang baik, terutama dengan ketidakpedulian dan keegoisan yang mungkin kumiliki.

beberapa hari terakhir mendapatkan beberapa pertanyaan apa kabar. meskipun seringnya memberikan jawaban standar seperti kabar baik atau masih berjuang mencari kesempatan. btw, mungkin kamu punya kesempatan yang mungkin dapat kucoba? haha.

kemudian, bertanya-tanya, jika dan hanya jika, aku share kehidupanku di media sosial, apakah sebuah apa kabar akan tetap ada? mungkin yang akan sebagian besar dilakukan adalah me-reply story lalu terjadi percakapan yang akhirnya menjadi konsumsi publik. atau mungkin mengirimkan sebuah dm, atau ya, melewatkan begitu saja, karena sebenarnya kamu hanya ingin tau, tanpa mungkin pernah benar-benar peduli.

atau mungkin apa kabar adalah sebuah basa-basi pembuka percakapan, karena kamu memiliki keperluan. tapi meskipun begitu, menurutku sebuah apa kabar adalah hal kecil yang mungkin membuat orang lain merasa berarti.

then, it makes me wondering about stalking.

why do people stalk? apakah karena penasaran atau sekadar iseng aja.
atau mungkin, karena stalking dapat memberikanmu informasi tentang kabar seseorang, tanpa kamu harus bertanya.
ya, mungkin, karena stalking dapat menghindarkanmu untuk menanyakan sebuah pertanyaan apa kabar.

mungkin ngecek likes di akun sosial medianya, ngikutin story nya, atau mungkin karena kamu terlalu ahli nge-stalk kamu akhirnya tau dia punya tumblr atau blog. kamu rutin jadi visitor untuk update apa yang dia lakukan.

dan, apakah kemudian menjadikanmu merasa kalau kamu benar-benar peduli padanya?
apakah dengan stalking membuatmu merasa mengenalnya, membuatmu yakin mengetahui kehidupannya. padahal, kamu tidak pernah benar-benar ngobrol dengannya, tentang dirinya.

tapi, apakah setiap tindakan butuh alasan?

kemudian jadi mempertanyakan diri sendiri tentang alasan mengapa masih saja menulis blog secara publik.

mungkin karena itu membantuku mengurai banyak hal yang ada dipikiranku, membantu memahami perasaanku dan kebingunganku.

tapi mengapa tidak di-protect?
entahlah, mungkin aku ingin sedikit meninggalkan sesuatu di dunia, atau mungkin karena aku ingin seseorang mengetahui apa yang aku pikirkan.

meskipun sebenarnya sedang mempertimbangkan untuk lebih membatasi akses informasi atas apa yang kulakukan atau kutulis atau kupikirkan.

apakah karena aku ingin ditanya apa kabar? aku rasa tidak.

mungkin karena aku takut di-judge. kadang aku mempertanyakan seberapa jauh opini atau tulisan atau apapun yang ada di media sosial pada akhirnya mempengaruhi judgement seseorang untuk orang lain.

tapi, kenapa takut, menuangkan sampah pikirinmu bukan sebuah kesalahan kan? apakah judgement kemudian membuatmu takut untuk menjadi dirimu sendiri?

lagi, apakah setiap tindakan butuh alasan?

learning about why people behave they do, aku mulai mempertanyakan justifikasi atas apa yang kulakukan dan independensinya. haha, berlebihan sekali.

tapi katanya, you don't have to prove anything to anybody, ever. including yourself.
people will give a shit if it is really matters for them. if you really matters for them.


with warmth,
ayu,
yang ingin tau kabarmu

Comments